Tes Pendengaran Anak OAE yang Bikin Panik

Sumber foto: www.extremnews.com
Sumber foto: www.extremnews.com

Kalau anak didiagnosa pendengarannya mengalami gangguan, apa yang dirasakan orangtua? Kalau aku pribadi sedih dan merasa bersalah. Di kepala isinya banyak tanda tanyanya, apa yang telah kulakukan selama hamil atau apakah aku tak memperhatikan kehamilanku?

Itu kurasakan ketika dokter menunjukkan hasil tes Oto Acoustic Emission (OAE). Itu merupakan tes pendengaran yang tujuannya menentukan sehat tidaknya rumah siput (cochlea) yang terletak di telinga dalam.

Kalau dari artikel AyahBunda, idealnya tes OAE dilakukan saat bayi berusia 2 hari atau sebelum satu bulan. Hasilnya biasanya ditunjukkan dengan PASS (normal) atau REFER (terindikasi ada gangguan).

Di RSIA tempat aku melahirkan tes tersebut sudah masuk dalam paketan untuk ibu melahirkan. Awalnya aku nggak terlalu ngeh. Soalnya, rumah sakit tempat anak pertamaku dilahirkan tidak melakukan tes tersebut.

Menunggu hasil tes itu saja lamanya ampun, sebulan. Entah hanya rumah sakit tempatku melahirkan atau di semua rumah sakit.

Aku tenang-tenang saja sebelum menyerahkan hasil tes tersebut ke spesialis anak. Tapi, begitu dibaca dokter, jreng…jreng… “Wah bu, telinga kanan anak ibu hasilnya REFER.” Aku dan suami kaget. Lalu aku bertanya apa hasilnya valid atau belum tentu benar.

Bu dokter tak berbicara banyak, dia hanya menyarankan saya ke dokter spesialis THT. Dia memberikan surat pengantar agar kami ke dokter THT.

Pulang dari rumah sakit, aku berpikir keras apa hasil itu benar. Jika iya, apa yang sudah kulakukan kepada anakku. Aku sampai berkali-kali minta maaf ke anakku.

Memang, saat hamil kedua ini aku tak memperhatikan pola makan yang benar. Aku sampai kena anemia dan berkali-kali kena flu. Bahkan aku pernah demam.. Hatiku bersuara “Ya Tuhan, cobaan apalagi.”

Aku juga tak berhenti bicara ke suami di sepanjang perjalanan, apa yang salah. Suamiku selalu berusaha menenangkan, mungkin saja hasilnya salah. Jangan pikir yang macam-macam.

Perlu Tes Ulang

Jelang beberapa hari, kami mendatangi dokter Spesialis THT dr Asih. Dokter tersebut ramah dan mengatakan jangan khawatir dulu. Apabila hasil OAE pertama ada yang gagal, harus dilakukan lagi tes OAE yang kedua setelah tiga bulan. Saat ini anakku umurnya satu bulan, jadi aku harus kembali lagi saat anak usia 4 bulan, tepatnya bulan Oktober.

Dokter tersebut mengatakan segala kemungkinan bisa saja terjadi. Mungkin saja, karena aku anemia jadi perkembangan telinganya belum sempurna. Dan mudah-mudahan semakin bertambah umur telinganya semakin sempurna.

Semoga yang dikatakan dokter benar. Baiklah, kami akan kembali lagi…

Selama tiga bulan penantian itu, kami berusaha bermain yang melatih pendengarannya seperti membunyikan mainan yang bersuara atau hal-hal lain yang memengaruhi pendengarannya.

Beberapa kesempatan aku dibuat khawatir jangan-jangan hasilnya benar. Ketika pintu rumah terbanting karena angin, anakku tidak bangun sama sekali. Dia memang tidur, tapk suara pintu itu kencang sekali. Tapi aku langsung buru-buru menepisnya, mungkin itu karena anakku tidur nyenyak.

Waktu itu Tiba

Hari terus berganti dan tiga bulan terlewati. Saatnya kami mendatangi dokter THT. Saat di rumah aku tenang-tenang saja, tapi di jalan mulai dag..dig..dug lagi. Ya Tuhan, apa yang akan terjadi nanti.

Antrean di dokter itupun lumayan lama, aku makin nggak tenang. Setelah menunggu 1 jam-an, giliran nama anakku yang dipanggil. Bismillah

Sesampainya di dalam dokter minta anak kami tes OAE lagi. Tapi sebelumnya diperiksa kebersihan telinga anak kami. Setelah dinyatakan bersih baru deh tes OAE di ruang terpisah.

Suster memasangkan earphone kecil di saluran telinga bayi, kemudian diputar suara yang tak bisa kita dengar. Jika pendengaran bayi normal, akan ada pantulan suara yang terefleksi balik di telinga tengah. Tapi apabila bayi kehilangan pendengaran, tidak ada pantulan suara yang bisa diukur.

DR. RONNY SOEWENTO, SPTHT di situs anakku.net menjelaskan, idealnya pemeriksaan saat bayi sedang tidur dan ruangan cukup tenang. “Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan semacam sumbat liang telinga dari bahan karet yang terhubung dengan sistem berbasis komputer.

image

Waktu itu, anakku dalam kondisi menyusui, tidurnya nggak nyenyak. Itu juga berkali-kali sampai suasana tenang. Gerakan mulutnya yang menyusui bisa menggangu. Tak lama kemudian, tes selesai. Mungkin sekitar 10-15 menit.

Kalau kata DR Ronny, hasil pemeriksaan OAE bisa langsung dicetak (print out) karena alat ini dilengkapi dengan printer mini. Pada kertas print out akan terbaca tulisan PASS – artinya rumah siput berfungsi baik- atau REFER bila rumah siput mengalami gangguan. Hasil pemeriksaan OAE tidak menyatakan pendengaran normal atau tidak normal.

Seperti yang kusebut sebelumnya, hasil tes yang dikasih pasien nunggu satu bulan. Hasil print hanya untuk dibaca dokter dan tak boleh dibawa pulang.

Aku pun kembali ke ruangan dokter dan print hasil sementara sudah diberikan ke dokter. Hasilnya, alhamdulillah lulus semua.

Kata dokter, kemungkinan tes itu salah bisa terjadi karena ada kotoran yang terbawa saat lahir sehingga mengganggu pendengarannya. Apalagi hasil itu hanya dari alat. Apabila dari empat penilaian terdapat dua saja nilainya 0 maka dianggap REFER.

Buat ibu-ibu yang hasil OAEnya REFER di salah satu telinga, jangan khawatir dulu. Semoga hasil itu belum final.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: