Ketika Semua Orang Memilih Diam dan Berbohong

Sejak kecil kita diajarkan untuk tidak berbohong. Saat dewasa saya baru tahu ada istilah berbohong putih yakni berbohong untuk kebaikan. Dan itu saya rasakan saat kuliah. Semua saudaraku berbohong.

Kebohongan itu dilakukan karena satu alasan, tak ingin membuatku shock.

Itu semua terjadi pada 2002, saat saya masih kuliah di Solo semester 5 atau 6. Semua bermula ketika Minggu, 25 Mei 2002 mbak kosku bernama Desi menerima tamu pagi-pagi sekitar pukul 07:00 WIB yang mengabarkan ayahnya sakit keras dan dia harus segera pulang. Waktu itu telepon kos sedang rusak.

Mbak kosku itu adalah mantan murid ibuku yang sekos sama saya. Kamar dia juga berseberangan dengan saya. Saat dia menangis saya melihatnya dan bertanya “Ada apa Mbak?”. Dia menjawab dengan tersedu-sedu bahwa ia harus pulang karena ayahnya sakit. Dia ingin naik kereta.

Di mana-mana orang sedang panik tak akan berpikir normal. Saat itulah saya menanyakan apa dia sudah menelepon ayahnya? Karena dia gemetaran, akhirnya saya meminjam Ponsel mbak kos yang lainnya. Pada zaman itu, masih sedikit yang memiliki Ponsel. Untung saya menyimpan nomor rumah mbak kosku itu.

Ketika saya ke kamar mbak kos pemilik ponsel, mbak kosku yang bernama Galuh itu mengatakan sebenarnya ayah mbak Desi meninggal. Mbak Galuh diberitahu tamu itu. Saya kaget dan segera menelepon.

Setelah nomor kupencet terdengar nada panggil dan suara pria berumur yang menjawabnya. Dan ternyata itu adalah ayah mbak kosku. Langsunglah saya menanyakan kabar sang bapak. Dia menjawab,”saya baik-baik saja”. Berarti kabar meninggal itu bohong.

Ketika itu saya langsung memberikan ponsel itu ke mbak kos yang sedang bersedih.

Seketika wajah sedih itu berubah dan saya langsung menanyakan, tamu yang datang pagi tadi bagaimana bicaranya. Dan Mbak Desi menyebut-nyebut nama papa saya. Mbak Desi juga bingung kenapa si tamu menyebut nama yang sebenarnya adalah nama papa saya. Saat itulah saya langsung lemas. Ya Allah, apakah papaku yang meninggal? Apakah informasinya tertukar.

Mbak Galuh yang sebelumnya sudah bercerita ke saya terdiam, seperti merasa bersalah. Dia juga kembali menawarkan ponselnya, tapi baterainya habis. Kebetulan saya waktu itu baru membeli hp hasil dari tabunganku selama kuliah. Tapi belum beli nomor karena waktu itu masih mahal.

Saya minta izin pinjam simcardnya saja dan telepon rumah. Jantung ini berdegup kencang berharap kecurigaanku salah.

Telepon Rumah

Setelah berdering beberapa kali, seorang wanita yang suaranya bukan ibuku mengangkatnya. Saya bertanya, mana mama? Wanita di balik telepon itu adalah tanteku. Saya bertanya kembali, “Kok te’i yang ngangkat, mama mana”. Tenteku itu menjawab, “Memang nggak boleh kalau te’i yang ngangkat“.

Tanteku pun tak kuat berbicara lama dan menyerahkan telepon ke tetanggaku yang saya panggil bulek. Tentanggaku itu hanya mengatakan “Papa uni kangen, uni pulang ya. Nanti dijemput saudara yang di Yogyakarta,”.

Saya menangis dan menanyakan kenapa dengan papa. Bulek hanya menjawab, “Papa uni lagi kangen aja.” Tapi ketika saya ingin bicara dengan papa saya, bulek tak mengabulkan dan ia segera menutup telepon.

Saya berusaha tegar. Berarti benar apa yang dikatakan Mbak Galuh. Yang meninggal bukan ayah Mbak Desi melainkan papaku. Meski saya sudah mendengar langsung omongan Mbak Galuh, saya masih berharap omongan Bulek benar bahwa papa kangen.

Sewaktu itu semua isi kos diam. Mbak Galuh dan Mbak Desi pun terdiam. Semua berusaha menutup-nutupi. Mbak kosku lainnya yang kupanggil Mbak Henky berusaha menghiburku. Saya berusaha tersenyum sambil membereskan baju, menunggu sepupuku dari Yogya datang.

Untung kamar sudah kubersihkan. Waktu itu saya baru saja mengepel dan beres-beres kamar. Karena lelah, saya pun tertidur ketika menunggu.

Pertama Naik Pesawat

Saudaraku dari Yogya baru datang sekitar pukul 10.00 WIB. Saya langsung ganti baju dan ikut menumpangi mobilnya. Saat itu, saudaraku bersama kekasihnya yang sekarang sudah menjadi istrinya. Di dalam mobil itu kami diam, tak ada percakapan apapun. Sementara saya sepanjang jalan meneteskan air mata.

Kami tak langsung ke rumah tanteku di Yogyakarta melainkan mampir ke bandara di Yogyakarta. Di sana kami menunggu tanpa bicara apapun. Kakakku hanya berkata mau pesan tiket. Setelah menanti sejam, kami memutuskan pulang. Waktu itu sekitar pukul 12:00 WIB.

Sesampainya di rumah tanteku, ia menyambutku dengan memelukku tanpa berkata apa-apa. Saya bertanya, “Ada apa tante?”. Dia tak menjawab dan terlihat berusaha tegar.

Ia hanya menyuruhku beristirahat menunggu omku pulang. Sekitar pukul 14:00 omku pulang ngantor. Ia bersama tanteku mengajak kembali ke bandara. Sekitar pukul 15:00 WIB, kami sampai di bandara. Di sana saya melihat omku berbicara dengan orang bandara. Setelah itu ia memberi kami dua tiket. Tanteku menemaniku pulang.

Semua masih sama, om dan tanteku diam.. Saya pun masih memiliki harapan papa benar-benar kangen. Bukan meninggal.

Saat menaiki pesawat, saya mendapat kursi di tengah. Duduk di antara dua pria. Sementara tanteku entah duduk di mana. Itu adalah pertama kalinya saya naik pesawat. Di dalam hati bertanya, “mengapa saya harus menumpangi pesawat dalam kondisi seperti ini”. Pandangan saya terus tertuju ke kaca melihat awan-awan sambil tak henti-hentinya berharap papaku memang benar-benar kangen.

Kami menumpangi pesawat sekitar 45 menit dan landing sekitar pukul 15.45 WIB. Ketika keluar bandara, omku yang kusebut Mak Angah dan Pak Tuo sudah menunggu. Mereka memelukku dan mencium keningku. Sambil berkata “sabar”. Tak ada yang mengatakan turut berduka cita.

Bendera Kuning

Di dalam mobil, semua juga tak banyak bicara. Untung saat itu jalanan tidak macet dan sampai rumah sekitat sejam. Yang nyetir ngebut tapi nggak terasa karena air mata terus mengalir sambil melihat jalan.

Sesampainya gang rumah, saya melihat bendera kuning dan langsung bertanya. Tanteku yang duduk di sampingku langsung memelukku dan berkata “Tidak ada apa-apa”. Dulu, di bendera kuning tidak dituliskan nama seperti zaman sekarang. Jadi saya tak bisa tahu bendera kuning untuk siapa.

Ketika belokan menuju rumah, saya kembali melihat bendera kuning itu dan tangis saya pecah sambil bertanya kembali. Semua akhirnya berbicara. Saya berusaha kuat saat keluar mobil.

Beberapa sepupuku menghampiriku seakan-akan saya akan pingsan. Untung saja, saya tidak pingsan. Langkah ini berusaha secepatnya sampai ke dalam rumah. Dan benar, papa sudah terbujur kaku di kasur di ruang tamu. Di samping papa, kulihat mama dan kakakku yang berdoa dengan mata sembab.

Harapanku kandas semua. Papa kangen itu tak ada, yang ada saya harus kuat melihat orang yang kusayangi pergi untuk selama-lamanya.

Penyesalan

Ketika melihat jenazah papa, banyak penyesalan di diri ini. Kenapa saya tak pulang saat Lebaran Haji. Kenapa saya tak menelepon Sabtu malam. Padahal saya sudah niat ke wartel tapi ketiduran.

Percakapan saya terakhir dengan papa Sabtu pagi, ketika saya memberitahu membeli HP. Tapi, saat itu papa tak jelas pendengarannya sehingga saya memilih menutup dan akan menelepon lagi malamnya. Tapi, semua tak kulakukan karena ketiduran.

Saya ingat bertemu terakhir pas mudik Lebaran Idul Fitri. Waktu itu papa meneteskan air mata seakan sudah merasa tak akan bertemu lagi.

Malam harinya, saya dan mama berbicara termasuk mengenang masa kecil. Mama kemudian bercerita penyebab salah informasi, ternyata orang yang datang ke kos saudara tetangga yang tinggal di Karanganyar. Saking paniknya, mama memberi buku yang bertuliskan alamat kos tapi nama atasnya Desi. Pantas informasinya tertukar.

Cerita ini kubuat untuk mengenang papaku yang tersayang. Sebenarnya ingin menulisnya pada Hari Ayah Nasional, tapi belum sempat.

Doaku selalu untukmu..

  4 comments for “Ketika Semua Orang Memilih Diam dan Berbohong

  1. Desember 13, 2014 at 1:49 pm

    Sedih.. 🙁

    • Desember 13, 2014 at 2:24 pm

      Hihi.. Ini aja ngetiknya rada-rada gimana 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: