Belajar Adaptasi dengan Perubahan

Tempat baru atau kondisi baru atau perubahan membuat orang mau tak mau harus belajar beradaptasi. Sejak kecil saja tanpa disadari sudah belajar beradaptasi dengan sendirinya. Bahkan sampai jad ibu-ibu juga tetap belajar beradaptasi.

Adaptasi yang saya contohkan di sini macam-macam, dari masuk sekolah, kerja, atau kehidupan bersosialisasi. Tipe saya biasanya nih malu-malu di awal dan selebihnya nggak berubah, haha…

Saya ingat betul pas masuk TK sampai SMP, saya pemalu. Dan ketika SMA sudah mulai berubah tuh. Mulai menggila dan mencoba meniru teman-teman yang saya anggap asyik.

SD dan SMP masih mengamati, begini ya oh begitu yaa… Makanya mulai beraksi di SMA. Kuliah melempem lagi, maklum di kota orang. Kalau nggak mengikuti pola di sana bisa kita yang dijauhi.

Ini beberapa cara saya saat mulai beradaptasi, salah satunya celingak celinguk dulu, hehe…

1. Lihat situasi

Dulu pas masuk sekolah pertama suka deg-degan duluan. Temannya menyenangkan nggak ya. Lihat wajah sana-sini kok pada serius banget. Mata muter tuh dari kanan ke kiri terus balik lagi. Ada nggak yang wajah ramah yang senyum. Syukur-syukur ada yang menyapa.

2. Cari target

Seperti saya sebutkan di atas, target saya biasanya yang orangnya murah senyum. Lalu nyamperin dengan sok kenalnya. Ujung-ujungnya berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Kalau cocok lanjut, kalau nggak ya setidaknya sudah berkenalan. Saya yakin semua orang punya cara masing-masing yang unik. Kayaknya cara saya standar banget yaa.

3. Menghindari yang geng-gengan atau grup

Di TK atau SD mungkin masih jarang yang sudah ngegrup gitu. Maksud saya pas zaman saya, nggak tahu ya sekarang. Saya memilih nggak mendekati yang grup-grupan. Ngeri, nanti dilihat dari ujung rambut sampai kaki. Biasanya yang grup-grup juga anak gaul, saya nggak masuk kriteria, hahaha.

Grup hampir ada di mana-mana, dalam bertetangga saja masih bisa ditemukan. Kalau kondisnya kayak begini, berbaur saja.

4. Muka tembok

Ini berbeda lagi kalau zaman kerja. Memulai kerja di tempat baru harus muka tembok. Siapapun disapa biar nggak dianggap sombong. Ada candaan lucu ikut ketawa, yang penting berbaur dulu. Jangan malu bertanya. Kalau teman ngasih tahu tentang kerjaan manut aja dulu. Nggak setuju boleh tapi saya memilih disimpan dulu. Ngejawab nanti dibilang songong loh 😀

Cuma saya masih suka menghindari yang geng-gengan. Kadang-kadang suka sensi dekat mereka. Kalau mereka ngomong apa disangkanya ngomongin diri saya. Maklum anak baru.

5. Mencari posisi nyaman

Berada di tempat baru harus mencari posisi yang nyaman. Maksudnya bukan posisi jabatan. Kalau belum menemukan celah yang nyaman, kerjaan jadi nggak enjoy dan semangat. Itu di tempat kerja. Kalau di kos, berusaha mencari posisi nyaman dengan bergaul sama semua teman kos. Kalau nggak cocok yang menghindar.

Posisi nyaman maksud saya adalah bukan kondisi tertekan yang saya ciptakan karena takut ini itu. Kalau saya enjoy bekerja sendiri tanpa diganggu, ya sudah saya di kursi meja saja menyelesaikan pekerjaan. Ada omongan nggak enak tentang diri saya, tutup kuping saja. Paling sedih sendiri 🙁

6. Terbiasa karena biasa

Ini nih yang biasanya setelah mulai beradaptasi. Kalau saya sudah menemukan ‘Oh seperti ini toh di sini’ saya sudah mulai bisa beradaptasi. Jalani saja maka akan terbiasa.

Kini saya juga masih beradaptasi. Dari yang dulu bekerja bertemu teman banyak dan sekarang di rumah dengan anak-anak. Biar tetap banyak teman, ya bergaul sama banyak tetangga dengan ikut kegiatan yang semasa kerja nggak bisa saya ikuti. Contohnya ikut pengajian, kan tambah lagi temannya. Nggak cuma itu, tambah ilmu juga tentang agama. Atau saya ngeblog karena di sini saya punya banyak teman baru.

Sebenarnya kita harus belajar merangkul perubahan. Kita harus siap dan tak takut dengan perubahan. Itu sih kata penulis buku, hehe..

Dalam Buku Bestseller karya Spencer Johnson berjudul Who Moved My Cheese? dituliskan, bahagia selalu berubah. Apabila Anda dibuat senang saat ini karena satu hal, bersiaplah untuk bergeser setiap saat. Jangan pernah berhenti berharap dan tetap siap. Jangan pernah menyesali apa-apa. Ketika Anda mampu melakukannya, Anda tidak akan lagi takut perubahan.

  12 comments for “Belajar Adaptasi dengan Perubahan

  1. Maret 19, 2015 at 9:31 pm

    Adaptasi dengan perubahan itu adalah salah satu cara supaya kita bisa tetap bertahan gitu ya, Mbak. Ngena banget dengan keadaan saya nih. Yah, perubahan memang tak terelakkan. Satu-satunya cara ya bersahabat dengan perubahan itu, ambil yang positif, buang yang negatif. Continuous improvement, kalau kata orang :hehe.

  2. ratusya
    Maret 19, 2015 at 10:53 pm

    Huahaha muka tembok, bener banget. Tapi Kayanya namanya bukan muka tembok mak, tapi SKSD sok kenal so dekat so ramah. Hihihi
    Salam kenal ya mak

    • Maret 19, 2015 at 11:22 pm

      Salam kenal juga mak. Iya ya, SKSD sampe suka senyum2 sendiri yang dicuekin, hahahaha

  3. Maret 20, 2015 at 12:01 am

    Slm kenal emak..
    Blognya cakep…

    • Maret 20, 2015 at 5:28 am

      Salam kenal juga mak. Makasih, makasih, makasij, hehe… Jadi malu klo dipuji 😀

  4. Maret 20, 2015 at 6:07 am

    Hahahahaha…. mati gaye ya 😀

  5. Maret 20, 2015 at 9:17 am

    berubah!!!! kotaro minami dong…

    • Maret 20, 2015 at 9:18 am

      Hahahaha…. ketauan angkatan kestria baja hitam yaa 😀

  6. Maret 20, 2015 at 5:30 pm

    salam kenal :)…adaptasi memang gampang-gampang susah ya..tapi kita pada dasarnya dilengkapi dengan kemampuan ini kok 🙂

    • Maret 20, 2015 at 6:00 pm

      Salam kenal juga mbk. Iya betul mbk, tinggal caranya aja tergantung masing2 🙂

  7. Maret 21, 2015 at 7:45 am

    Hahahahaha….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: