Bayi Sekali Jatuh dari Kasur Terulang hingga 7 Kali?

image
Foto: momtastic.com

Bedebug,,,begitu kira-kira bunyi yang saya dengar saat berada di dapur. Langsung donk lari ngacir ke dalam kamar tempat baby Nay tidur. Benar dugaan saya, putri cantik terjatuh dari kasur. Ya Tuhan, ini sudah kedua kalinya.

Kejadian pertama lebih miris lagi. Saya hanya keluar membuang sampah kapas usai membasuh BAB baby imut pada 31 Maret 2015. Suara bedebug itu pula yang mengagetkan saya.

Saya lihat posisinya yang tengkurap saat terjatuh dari kasur yang lumayan tinggi. Sungguh tak menyangka, anak kami sudah pandai merayap di kasur.

Saya mencoba rekonstruksi sendiri dari posisi terakhir dengan pas jatuh, apakah jatuhnya kena kepala. Semoga tidak..

Saat itu saya lemas, karena kata orang dulu sekali anak jatuh akan terulang hingga tujuh kali (kalau nggak salah). Itu benar apa nggak ya? Bagaimana bisa sampai hitungannya segitu?

Saya merasa sangat bersalah. Kenapa saya meninggalkan si kecil, kenapa saya tak menggendongnya. Tapi, saat itu yang teringat hanya SMS mbak Tri, yang suka memijat Nay.

Mbak Tri pun tiba. Saya mengatakan cerita sesungguhnya sambil malu. Dalam pikiran saya, apa kata orang anak sampai jatuh seperti itu. Pasti orang berpikir kenapa kasurnya nggak diletakkan di bawah saja. Tapi, ya sudahlah saya tak mau ambil pusing.

Ketika Mbak Tri pijat, memang tangannya terkilir. Saat dipijat bahunya, Nay menangis keras meski tak kejer. Keringatnya dan air matanya bercucuran. Mata Nay menatap saya seakan memohon ‘Mama, gendong aku.’ Tapi saya hanya bisa mengusap-ngusap kepalanya.

Setelah beberapa menit, tangisan itu akhirnya reda. Mungkin ia sudah merasa enakan.

Selang seminggu, jatuh dari kasur terulang lagi. Saat itu ketika Nay dan kakaknya tidur siang. Saya melihat keduanya tertidur pulas dan posisi kakaknya di pinggir. Saya pikir, insyaAllah aman kalau saya tinggal bersih-bersih dapur karena ada tembok kakaknya. Kalaupun dilewati si kakak mungkin berteriak. Saya juga meletakkan matras tipis di bawah.

Meski begitu, saya tetap memantau setiap kali ke kamar dan masih aman. Keduanya masih tertidur pulas.

Tapi, pas saya mencoba mengisi perut kok terdengar suara tangisan Nay. Apa jatuh lagi? Ternyata benar. Pikiran saya tentang kakak yang bisa jadi benteng salah. Si kakak tertidur pulas dan tak sadar dilangkahi adiknya.

Mau panggil tukang pijat sudah siang. Saya urungkan menunggu keesokan harinya sambil berdoa semoga anak kami dilindungi dan tak terjadi apa-apa. Saat terjatuh, baby Nay terlentang dengan kepala di matras. Ya Tuhan, bagaimana tadi ia terjatuhnya.

Sejak peristiwa dua kali jatuh itu, saya nggak tenang meninggalkan Nay kalau tidur. Kalau pun saya terpaksa keluar, setiap beberapa menit saya cek terus. Saya nggak mau kecolongan lagi.

Andai Nay mau tidur di boks bayi yang kami pinjam dari kakak. Andai Nay mau tidur di luar tanpa AC. Andai ada ruangan untuk meletakkan kasur ini…

Kami memang belum menurunkan kasur karena tipe kasurnya yang atas bawah yang dorongan ukuran single. Mau pindahin yang atasnya, nanti kalau ada nenek mau tidur di mana. Maklum rumah minimalis yang hanya ada dua kamar kecil, yakni kamar utama dan kamar bawah tempat kasur itu berada.

Nay terjatuh dari kasur pertama kalinya saat berusia 9 bulan, sama seperti kakaknya dulu. Tapi, pas Abie ada bantal yang selalu terbawa saat dia jatuh. Kalau Nay, bantal ya selalu dilewati sehingga tak ikut saat jatuh.

Kakaknya juga dua kali jatuh dan bersyukur tak sampai hitungan yang disebut-sebut orang dulu yakni tujuh kali. Saya tak ingin terbawa pikiran dengan meyakini 7 kali. Saya buang-buang jauh pemikiran itu. Bismillah, Tuhan selalu melindungi

Kami berharap, tak ada lagi jatuh-jatuh dari kasur. Kalau Nay melek dan saya harus membuang sampah, Nay pasti saya gendong. Saya nggak mau terulang lagi.