Anak Belajar Tanggung Jawab

Yakin anak masih kecil bisa belajar tanggung jawab? Kalau menurut saya anak-anak itu belum mengerti tanggung jawab, jadi orangtua (ortu) yang harus pelan-pelan mengajarinya. Jangan sampai pas sudah usia SMP nggak bisa apa-apa, meski hanya buang sampah.

Saya dan kakak saya mungkin termasuk anak yang dimanjakan sewaktu masih kecil meski kami dari keluarga sederhana. Maklum, orangtua kami menunggu lama hingga kami hadir.

Mau bantu potong sayuran dilarang karena mama serba takut (takut anaknya luka, takut kerjaan makin berantakan, dsb), sama halnya dengan memasak dan mencuci piring. Alhasil, pas besar mencuci piring saja saya bingung ketika menginap di rumah saudara. Sepertinya itu dilakukan mama karena mau kerjaannya cepat selesai.

Meski saya bingung, saya nggak enak juga kalau nggak membersihkannya. Masa iya saudara saya yang mencuci piring yang saya pakai, hihi.. Saya juga nggak mau disebut anak manja walaupun sebenarnya betul 😀

Saya dan kakak saya memang dimanjakan dan terbiasa ada Asisten Rumah Tangga (ART) karena kedua ortu kami bekerja, tapi papa mama tetap mendidik saya untuk melakukan hal kecil yang menjadi tanggung jawab saya, seperti membuang sampah dan mengambil minuman atau makanan sendiri, bukan apa-apa ‘nyuruh’ si mbak.

Kata papa, buat apa tangan dan kaki kalau semuanya nggak melakukan sendiri. Kadang-kadang kesal juga dan kalau nggak ketahuan minta si mbak yang ngambilin, hihi… tapi lama kelamaan sadar sendiri.

Sepertinya itulah alasan saya kerap mengingatkan kakak untuk belajar tanggung jawab, seperti meletakkan piring kotor di dapur atau membuang sampah ke tempatnya. Saya nggak mau anak-anak saya nanti nggak bisa ngapa-ngapain atau tergantung orang.

Memang, mengajarkan anak kecil belajar tanggung jawab butuh kesabaran. Kadang-kadang mau kadang-kadang nggak. Saya dulu juga pernah kecil jadi tahu rasanya 😀

Menurut situs Babycenter, anak-anak belum memiliki kemauan sendiri untuk melakukan tanggung jawab. Tugas ortu yang mengingatkan.

Anak-anak usia sekolah juga sebaiknya juga tidak diberi tanggung jawab yang berlebihan, melainkan memberikan tugas yang ringan-ringan dulu saja. Lama-kelamaan anak-anak akan terbiasa.

Tertegor

Suatu kali kami sekeluarga pernah menginap ramai-ramai dengan orang yang baru dikenal karena ada undangan acara dari klien kantor. Kayak family gathering gitu. Orang yang tinggal satu penginapan dengan keluarga kami bisa dibilang orang mampu atau tajir. Bahkan, sekolahnya ada yang di luar negeri. *nggakadahubungannyasih*

Anak-anak keluarga tersebut mungkin sudah SD tahun terakhir atau awal SMP. Mereka sopan dan rajin menyapa, tapi giliran menggunakan peralatan dapur kayaknya pada nyerah. Saya menduga, anak-anak tersebut terbiasa dilayani si mbak.

Misalnya saja, sesudah makan sesuatu di meja makan nggak langsung dibuang ke tempat sampah, tapi dibiarkan tergeletak begitu saja. Dengan remah-remah makanan yang berserakan. Begitu pula piring atau gelas yang sudah dipakai tidak langsung dicuci tapi dibiarkan saja. Mungkin mereka mengira ada petugas yang membersihkan.

Penginapan tersebut tanpa petugas kebersihan yang menginap. Jadi, si petugasnya hanya datang sore hari untuk mengepel atau menyapu. Jadilah, pas bangun pagi ke dapur saya kaget. Waduh…ini kapal pecah banget yaaa…

Ego saya muncul, saya membiarkan begitu saja. Maksud saya biar ortunya melihat. Saya hanya membersihkan alat-alat yang saya gunakan. Toh itu penginapan untuk bersama-sama jadi tugas bersama untuk menjaga kebersihan. Masa harus ditulis pengumuman harus langsung bersihkan peralatan makan yang digunakan. Helloooo….

Saya hanya melihat reaksi keluarga tersebut, apakah nantinya dibersihkan atau didiamkan saja. Ternyata, dari pagi sampai sore nggak ada perubahan.

Di mana ortunya, apa sama-sama tak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kalau kayak gitu situasinya pasti ortu yang disalahkan. Apa nggak pernah diajarin atau memang anak-anaknya saja yang ‘malas’, ehm…

Alasan itulah yang membuat saya sebisa mungkin membiasakan anak-anak belajar tanggung jawab dari hal yang kecil. Semoga kakak dan putri cantik bisa melakukannya. Jadi kalau ada kejadian yang serupa, kakak dan putri cantik bisa bertanggung jawab. Papa mamanya nggak akan disalahin deh, hehehe… #eeehhh

Yang paling utama, saya percaya membiasakan anak belajar tanggung jawab melakukan pekerjaannya sejak dini akan banyak bermanfaat buat masa depannya. Biar mereka mandiri dan bertanggung jawab.

Sekian dan terima kasih

#tulisaniseng

Posted from WordPress for Android

  2 comments for “Anak Belajar Tanggung Jawab

  1. Agustus 7, 2015 at 11:15 am

    Tanggung jawab memang penting banget. Saya kayaknya juga contoh dari anak yang terlalu dimanjakan nih Mbak, makanya agak susah buat mengerjakan pekerjaan rumah tangga sekarang :hehe. Tapi saat ini saya sedang membiasakan diri buat belajar sih, soalnya hidup sendiri jadi tidak ada yang mengurus. Berat memang tapi semua kan bisa dipelajari :)).

  2. mellyfeb0805
    Agustus 10, 2015 at 7:30 am

    Betul…betul…semua bs dipelajari. Apalagi klo kondisinya memang mendukung, mau nggk mau harus belajar biar bisa 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: