Kecantol Kelom Geulis Rajutan

Akhirnya kami mudik juga setelah gagal pada Idul Fitri karena alasan sedang renovasi. Mudik Lebaran Haji tentunya beda karena liburnya sebentar dan terpaksa kakak izin sekolah. Dan mudik kali ini saya makin kepincut kelom geulis rajutan.

Rasanya gimana gitu kalau dua kali lebaran nggak bertandang ke rumah orangtua (ortu). Meski habis renovasi menguras, mudik harus jalan šŸ˜€ Ada satu belanjaan yang sudah saya incar sejak jauh hari, seperti yang saya sebut di atas yakni kelom, sandal khas Tasikmalaya.

Katanya menguras, kok masih bisa belanja? Hahahaha… Namanya juga kepincut, nabung demi kelom. Udah beberapa kali mudik ke kampung halaman suami pengen beli, tapi apa daya selalu pas tanggal tua. Kali ini saya paksakan beli, hihi…

Kayak apa seh sampai ngebet banget? Sebenarnya kalau orang lihat biasa saja, tapi karena kelom pertama yang saya beli pas pameran di Senayan City, saya jadi suka. Awet, sampai sekarang masih mejeng tuh di rak sepatu, hehe.. Dulu saya beli kelom model kayak di bawah ini. Entah apa namanya karena setiap model punya nama šŸ˜€

 

Kelom pertama dulu belinya Rp 150ribu
 
Saya belinya waktu masih bekerja di area Sency. Nah sekarang udah di rumah pengen beli lagi.. Biasa, nafsu belanja emak-emak. Pengen eksis banget seh, memang…hahahaha…

Mau tahu cara biar awet, nggak repot kok. Pakainya kalau perlu aja. Kalau tiap hari pegal euy.. Apalagi saya juga bukan tipe emak-emak suka pakai high heels.

Kelom ini modelnya sederhana, banyak pilihan warna yang ngejreng-ngejreng sih. Kekhasan Kelom yang saya beli ini pada rajutannya yang dibuat secara manual, bukan pakai mesin ya.

Pas pembelian pertama, saya pilih hitam saja biar netral. Saya seringnya pakai ke kondangan.

Awalnya kaki saya kaku. Kebayang nggak, biasa pakai sepatu tipe Crocs terus pakai sandal kayu yang keras nggak elastis kayak crocs. Ngangkatnya aja kayak robot jalan, hahahaha… Lama-lama biasa walau masih suka kaku šŸ˜€

Memang selera saya nggak menentu. Sebenarnya kaki saya itu susah-susah gampang buat nyari alas kaki (sepatu atau sandal sepatu). Kalau nggak kuat, sebulan udah copot jahitannya. Entah kakinya berat apa jahitan alas kakinya aja yang nggak bagus, hahahaha…

Waktu pameran saya belinya Rp 150ribu. Setelah berbincang-bincang sama penjualnya yang ternyata dari Tasikmalaya, saya donk langsung curhat, “Suami saya juga dari Tasik,” kata saya sambil ngarep dapat diskon lagi, heuheu..

Eh bapake yang punya stan Produk Bermerek Ryla ternyata mantan tetangga mertua saya. Kakeknya yang empunya Ryla itu teman sekantor alm Papa Mertua saya. Ya Tuhan, dunia sempit sekali yaaa… Ya sudahlah, percakapan melebar kemana-mana. Tapi, saya nggak terlalu ngeh karena nggak enak teman saya menunggu.

Pak Iwan, bapaknya Owner Ryla yang bernama lengkap Aldila Dipamela itu ngasih alamat yang nggak jauh dari rumah mertua. Tapi, saya nggak sempat-sempat ke sana kalau mudik karena mikir harganya klo normal lumayan, berkisar Rp 300ribu. Tanggal tua kan terasa banget tuh, hehehe… Mikirnya mending uang segitu buat wisata kuliner di kampung halaman suami šŸ˜€

Dan mudik kali ini saya bertekad harus mampir, mau beli lagi, hehehe… Pengen yang berwarna. Siapa tahu banyak pilihan.

Setelah janjian via WA, saya, papanya bocah, dan para bocah naik becak motor. Walau dekat, jalan bawa krucil lumayan juga. Sampai di lokasi, memang pilihannya nggak banyak. 

Kata wanita berparas ayu itu, setiap produk rampung langsung dikirim ke Bandung. Menurutnya, minat warga Tasik dengan kelomnya tak seantusias dengan orang-orang di Bandung.

Meski sedikit, lumayan juga ada beberapa produk. Kalau orang bilang produk reject kali ya. Ada yang imitasi kulitnya nggak sempurna sehingga bocel-bocel, atau belum ada jahitan mereknya, atau produk lama. Kalau saya sih nggak masalah, asal diskon. Saya pilih yang bocel-bocel tapi cacatnya nggak terlalu kentara. Siapa yang nggak suka produk diskon, hehehe…

 

Kelom diskonan, kelihatan itu bocel-bocelnya di foto
 
Awalnya mau beli kelom saja yang didiskon dari Rp 300ribu jadi Rp 180ribu karena produknya yang belum sempurna, eh ditawarin tas ngiler juga…

Adoooohh, kenapa gampang banget kebujuk sih. Mbak Dila nawarin pakai diskon sih, dari Rp 175ribu jadi Rp 150ribu. Siapa yang nggak mupeng, hihi… Tas itu tinggal satu-satunya, jadi didiskon kali yaaa…

  
Di workshop Ryla itu ada beberapa kelom yang harganya lumayan lho yakni Rp 1,5juta. Unik modelnya, kalau orang yang mengerti seni mungkin suka.

Kayunya itu sama pengrajinnya dibuat berbentuk-bentuk, mungkin istilahnya kayunya dipahat. Indonesia banget dah pahatannya.

image

image

Berhubung saya nggak suka yang tinggi-tinggi dan kemahalan, saya mah pilih yang harganya masih tus-tus saja šŸ˜€ Kalau diskon harganya jadi Rp 150ribu mungkin saya mikir buat beli *tahannafsumak*

Nggak cuma kelom, ada juga tas rajutan yang harganya berkisar Rp 250ribu sampai Rp 800ribuan dan clutch. Permainan warnanya itu lho, ada yang cerah, ngejreng-ngejreng, atau pastel. Pokoke sesuai selera saya banget..

Saya mah kalau beli sendiri nggak berani yang harganya di atas Rp 300ribu. Kalau papanya bocah mau hadiahin masa saya tolak *kodetapingertinggakya*

Dila ini termasuk wirausaha muda Mandiri, yang ikut program Bank Mandiri itu lho. Dia rajin ikut pameran di luar negeri dan di sana peminatnya lumayan banyak. Gampang kok cari namanya di google, pasti ketemu karena dia sudah berkali-kali diliput media cetak.

Produk Ryla ini salah satu bukti bahwa masih banyak produk karya anak bangsa yang tak kalah dengan produk keluaran dari luar negeri. Tas branded yang ngetop aja ada lho yang mentahannya buatnya di Indonesia.

Jadi bener itu jargon di iklan Maspion. “Cintailah Produk-produk Indonesia”. Kalau bukan kita siapa lagi. Jangan sampai karya original anak bangsa dicatut dan diakui negara lain.

Alert: Tulisan ini murni opini penulis, bukan bayaran šŸ™‚ Tapi kalau dikasih diskon lagi maaaauuuuuuu

Posted from WordPress for Android

Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: