Sampai Kapan IRT vs Ibu Pekerja Usai?

Kenapa sih sepertinya di sejumlah artikel senang sekali membandingkan kelebihan ibu pekerja dan ibu rumah tangga (IRT). Bahkan banyak meme yang menunjukkan salah satunya yang ‘ter’ dibandingkan yang lain. Ini seperti pertempuran yang tak ada usainya. 

 

Foto: Forbes.com
 

Ketahuilah, keduanya itu mempunyai kelebihan masing-masing. Keduanya sama-sama baik. Tak ada yang terbaik karena kalau ‘ter’ berarti ada yang di bawahnya.

Ibu pekerja dan ibu rumah tangga semuanya mulia. Bedanya, ibu rumah tangga di rumah berkutat dengan tugas pokok di rumah meski banyak yang freelance juga saat ini. Sedangkan ibu pekerja tak berbeda sama ibu rumah tangga. Hanya saja mereka mempunyai pekerjaan tambahan lainnya di tempat bekerjanya.

Lantas apakah pilihan itu berimbas pada kepintaran dan kemandirian anak? Apa anak kurang pintar itu kesalahan dari ibu yang hanya di rumah? Tapi, mau jadi ibu RT atau berkarier semua itu pilihan. 

Saya dulu pernah bekerja dan saya pernah merasakan iri melihat ibu-ibu yang di rumah saja. Apa sekarang saya iri dengan ibu pekerja? Kadang iya sih, iri bisa ketemu banyak teman. Tapi, semua terobati dengan keceriaan dua bocah 🙂

Ibu yang di rumah punya harapan yang sama dengan ibu pekerja untuk perkembangan anak-anaknya. Tak ada yang menginginkan hal yang buruk terjadi pada anaknya.

Saya baru saja membaca sebuah artikel di situs JakFM. Kok rasanya menohok banget ya. Ada judul ‘Cuma’. Tak ada cuma dalam pilihan. Seperti saya sebutkan sebelumnya. Semua pilihan mulia.

image

Kenapa setelah membacanya kesannya ibu ‘cuma’ di rumah itu membawa dampak buruk buat anak. Saya tahu artikel itu juga untuk penyemangat ibu pekerja dan ada bukti penelitiannya. Selain itu juga ada kata-kata penyejuk buat IRT. Tapi, apakah penulis memikirkan bagaimana perasaan ibu yang katanya ‘cuma’ di rumah saja itu membaca artikel tersebut.

Mungkin saya lagi sensi atau lebay. Ya semoga saja hanya saya yang merasa seperti itu 😀 Tapi, kalau lagi banyak yang sensi bagaimana? 🙂

Semua ibu tentu memikirkan langkahnya, mau tetap berkarier atau di rumah. Tapi, please saling menghargai satu sama lain. Tak ada saling memojokkan.. IRT tak memojokkan ibu pekerja dan begitu juga sebaliknya. 

Damai itu indah.. Peace…..

Posted from WordPress for Android

  2 comments for “Sampai Kapan IRT vs Ibu Pekerja Usai?

  1. Oktober 13, 2015 at 7:45 am

    namanya juga ‘people’ mbak, yang cuma bisa komen. abaikan mbaakk… yang penting stay happy. bukankah ibu yang bahagia akan menghasilkan anak yang bahagia pula ?
    *halah aku sok iye, padahal belum punya anak 😛 *
    iye bener, bekerja karena cicilan masih numpuk :))) tapi di satu sisi, ntar aku pingin didik anak pake ‘aturanku’ sendiri *galau*

    • mellyfeb0805
      Oktober 13, 2015 at 7:52 am

      Setuju…iya ya, happy aja. Abaikan rumput yang bergoyang , hehe.. di satu titik biasanya ibu2 dihadapkan kegalauan itu dan akhirnya kembali ke rumah. Biar bapake y cari nafkah 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: