Anak Laki-laki dan Perempuan, Siapa yang Lebih Rajin?

  
Postingan ini nggak ada maksud apa-apa. Ini hanya coretan seorang mamabocah melihat perkembangan anak-anak. Mau itu lelaki atau perempuan sama-sama membahagiakan.

Namanya juga anak-anak, mamanya seharusnya yang bisa tahan emosi saat menghadapi anak-anak yang berulah. Tapi ya gitu deh, hehehe.. praktiknya tak semudah yang diucapkan.

Kata orang, ibu-ibu yang anak pertamanya laki-laki pas anak keduanya perempuan senang banget. Beda kalau anak pertama perempuan terus yang kedua cowok. Itu bisa terkaget-kaget. Masa iya, itu kenapa coba?

Tapi pas putri cantik sudah agak besar, berusia 1 tahun, memang kelihatan bibit-bibit rajinnya *bahasa mana tuh* 😀 Udah coba nyapu-nyapu, gosok baju, menulis, mengepel, apapun yang dilakukan orang yang sudah gede dilakukan. Moga nanti bisa bantu-bantu mama ya Nak 🙂

Jadi beneran donk anak cewek memang lebih rajin?

Anak cowok itu katanya nyantai, beda sama anak cewek yang seregep dan mau bantu-bantuin. Nah klo kakaknya cowok nyantai, nanti adiknya yang cewek ikut-ikutan nggak ya 🙁 Terus bagaimana kalau kakak pertama cewek yang rajin, adiknya yang cowok juga rajin donk?

Kayaknya nggak bisa dipatok sama deh. Kepribadian anak-anak terbentuk dari dalam diri dan dari lingkungan sekitar. Saya dan kakak saya dua-duanya perempuan. Kakak saya rajin, sayanya yang malesan. Nah nggak menular kan rajinnya, hehe…

Tapi, kalau dibilang anak cowok nyantai saya setuju. Anak pas usia 0-4 tahun itu lagi masa lucu-lucunya. Pas udah 5 tahun, mulailah tenaga ekstra plus kesabaran yang lebih.

Nyantainya kakak terlihat banget pas kakak kelas 1 SD. Dari pagi sampai malem, mulut mamanya kayak apa tau deh. Nyerocos kayak baru diisi baterai karena nggak sabaran lihat kakak yang santai.

Anak pertama saya laki-laki. Saya bertanya-tanya, apa mama yang anaknya perempuan juga mengalami hal yang sama. Kayak drama pagi hari saat membangunkan kakak? Ternyata beberapa tetangga mengiyakan. Jadi, nggak beda donk laki-laki dan perempuan?

Tapi, itu kan baru beberapa contoh. Jadilah saya penasaran, benar nggak anak lelaki dan perempuan berbeda.

1. Bangunin butuh tenaga

Ini nih, pakai tips dari artikel manapun belum berhasil bangunin kakak tanpa drama. Drama yang saya maksud kakak menangis, mamanya ngomel-ngomel nggak jelas, atau nyantai nggak mandi-mandi.

Kakak masuk sekolahnya itu lho, jam 07.30 WIB, rumah dekat sekolah pula. Kebayang aja nyantainya bagaimana. Mulai berusaha bangunin dari jam 5, jam setengah 6 tetep saja baru bener-bener melek jam 05.45 WIB.

Belum lagi tidur-tiduran di lantai, atau minta makan dulu baru mandi. Kalau diingat-ingat suka ketawa sendiri.

Pikiran saya, kalau anak perempuan pasti rajin ya. Mamanya nggak usah pakai ngomel-ngomel. Udah bangun, nggak tidur-tiduran, mandi terus makan sendiri.

Pas dengar cerita tetangga sama saja. Anak perempuan juga kalau dibangunin perlu bersuara keras.

2. Belajar

Kalau dikasih pilihan mau belajar apa main, kakak pasti pilih main. Mengajak kakak belajar itu bukan hal yang gampang. Kayaknya masih menganggap SD itu sama kayak TK yang hanya bermain, tak mengerjakan PR, dan tak ada ulangan.

Ngajak kakak belajar juga bisa setengah jam sendiri, hahaha… udah pasti ini ada dramanya lagi. Maunya nggak ngomel-ngomel, cuma kalau sabarnya dah habis lupa deh sama niatan awal supaya nggak ngomel

Kalau anak cewek mungkin orangtuanya (ortu) nggak lama-lama berdrama buar ngajak anaknya belajar. Anak perempuan kan biasanya nurut dan rajin.

Tapi, nggak juga ternyata. Teman sekolah kakak yang perempuan ada yang susah diajak belajar. Malah kakaknya yang cowok lebih rajin.

Dari dua contoh itu saja bisa kelihatan, anggapan anak perempuan dan lelaki nggak semuanya benar. Semua tergantung kepribadiannya. Dan menurut saya kepribadian itu terbentuk sejak kecil, baik dari didikan orangtua maupun belajar dari lingkungan.


Posted from WordPress for Android

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: