Suami ISTI atau Sayang Keluarga?

ISTI, semuanya sepertinya sudah tahu kepanjangannya yakni Ikatan Suami Takut Istri. Tapi, seperti apa itu suami yang takut istri? Apa yang manut-manut ketika istri meminta?

Ilustrasi: Roomtogrow.co.uk

Saya masih belum paham kenapa singkatan itu muncul dan pria macam apa yang masuk kategori seperti itu.

Beberapa hari lalu saya melihat foto yang dishare di applikasi chatting tentang pemiliham ketua ISTI. Apa itu benar ada ya? Hehehe… Itulah yang membuat saya ingin bertanya. Pria tentu tahu maksudnya, sedangkan dalam pikiran saya ISTI itu kalau suaminya jadi ketakutan abiz karena istrinya galak atau nolak permintaan istri langsung main hajar, hihi..

Tapi saya sih sebagai istri melihat nggak ada suami yang takut istri. Mungkin lebih kepada nggak mau ribut, yang nantinya malah bikin masalah, atau malah merusak hubungan suami istri. Atau memang si suami sayang keluarga tapi kelihatannya malah jadi ISTI.

Mungkin pemikiran saya ini berbeda dari kacamata pria. Bisa saja pria berpikir ISTI itu kalau suami di rumah saja nggak ikut gabung sama bapak-bapak karena sedikit-sedikit dilarang.

Apa benar seperti itu?

Weekend itu waktunya seorang suami bersama anak-anak. Jadi kalau sebagian besar waktu libur suami habis buat kumpul bareng teman bagaimana?

Boleh saja suami me time bersama teman-teman setelah lima hari kerja. Tapi, jangan lupakan anak dan keluarga. Memang sih kumpul bukan berarti lupa keluarga, tapi bisa lupa waktu. Apa nggak kasihan sama anak yang mungkin kangen bapake, hehehe..

Suami tugasnya mencari nafkah, tapi jangan lupa ada juga tugasnya untuk anak. Suami yang nggak mau kumpul, nggak bisa ngopi bareng, atau nggak bisa gowes, bukan berarti ISTI kan. Bagaimana mudah mencap orang ISTI tapi nggak tahu kondisi sebenarnya di dalam keluarganya.

Mana ada suami yang mau disebut ISTI. Kalau ada pria ngatain suami orang ISTI udah masuk bully lho. Pasti suami ada perasaan minder karena dikatain ISTI.

Jangan menuding seseorang hanya karena melihat sisi luar. Jangan menyamakan kehidupan orang dengan diri kita sendiri. Tak ada kehidupan orang yang sama. Ketidakhadiran pria di kelompoknya pasti karena ada alasan.

Anak sudah gede dengan punya bayi atau masih balita tentu beda. Kasihan donk istrinya ditinggalin, suami nongkrong lama-lama. Sementara di rumah istri sibuk sama anak yang rewel, belum lagi banyak kerjaan rumah karena nggak ada asisten rumah tangga. Bagaimana itu? Bersenang-senang saat pasangan hidupnya sebenarnya butuh dukungan?

Tapi itukan tugas istri. Suami cari nafkah, istri ngurus anak dan rumah. Waduh, ini nih yang salah. Berkeluarga itu kerja sama dalam segala hal, mengerjakan pekerjaan rumah (ini tergantung kesepakatan), serta mendidik anak. Jika mau bebas terus, apa gunanya berkeluarga 😀

Semua pasti ada waktunya. Kalau anak-anak sudah besar kan biasanya sudah pada punya acara sendiri-sendiri. Nah bolehlah kumpul-kumpul.

Menciptakan bonding bapak dengan anak itu salah satunya menyediakan waktu untuk bermain atau mengisi waktu libur bersama anak.
Sekian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: