Apes usai Sumpah Serapah

Kesal dan benci dengan seseorang umumnya diluapkan dengan amarah, emosi, dendam, sumpah serapah, diam atau menangis. Mana yang kamu pilih? Kalau saya kayaknya hampir semuanya pernah. Tapi, jangan pernah sumpah serapah atau mendoakan yang jelek-jelek.

Nanti malah apes 😌

Pernah

denger tausiyah, kalau kita mendoakan jelek seseorang maka kita pertama yang akan merasakannya. Ada perumpamaan ya, cuma saya lupa persisnya dan jangan tanya hadistnya, mending browsing sendiri 😀
Kalau marah mana bisa tahan ucapan? Yang ada mulut ngoceh kemana-mana dan terucaplah doa yang buruk untuk orang yang membuat kita marah. Kalau posisinya seperti itu bagaimana ya?
Kalau marah bagusnya ngambil wudhu, duduk sejenak, tarik napas. Memang teori mudah diucapkan tapi tak semudah menjalankannya. Itu semua memang perlu niat yang kuat.
Saya menulis hanya berdasarkan pengalaman ya. Kalau kita marah dan mengeluarkan doa yang nggak bagus, yang ada kita yang apes. Tapi berbeda kalau ikhlas, memaafkan, hati lebih tentram dan ada saja hal yang membahagiakan.
Suatu saat ada teman yang benar-benar menyakiti hati ini. Saya marah, menangis, dan mengucapkan kata-kata yang buruk deh. Samalah nyumpahin 😀 Tapi, apa yang saya dapat. Hari-hari saya berlangsung tak menyenangkan, apes lah, dan pokoke nggak enak.
Memang sumpah itu tak terjadi pada saya, tapi hari-hari saya tak seperti biasanya. Dari situ berpikir, apa ini maksud agar kita tak mendoakan yang jelek-jelek ke orang lain meski sudah menyakiti?
Ikhlas, memaafkan, apalagi berlaku seperti biasa lagi dengan orang yang sudah menyakiti kita itu memang tak mudah. Butuh perjuangan dan kesabaran. Tapi, menjalankan sesuatu yang butuh perjuangan itu akan manis pada akhirnya.
Tulisan ini untuk mengingatkan saya karena saya sendiri juga belum sukses sepenuhnya. Saya masih suka lupa, melakukan hal-hal yang seharusnya tidak saya lakukan. Dan ujung-ujungnya, ada saja kesusahan yang dihadapi.
Pengalaman hidup memang guru terhebat. Kalau mendengarkan nasihat orang belum tentu kita menerima, meski tujuannya baik. Karena terkadang tidak suka dengan cara penyampaian dari orang tersebut. Tapi, belajar dari pengalaman diri sendiri itu yang membuat mata hati terbuka.
Pernah disakiti orang? Mulai sekarang belajar mendoakan agar orang itu sadar, atau memaafkan meski dia tak meminta maaf. Ikhlas dan sabar tak mudah, tapi bisa dijalankan. Eaaaa, sok bijak euy 😌😌
Pilih cara penyembuhan diri sesuai keinginan masing-masing. Tapi, jika memilih menceritakan ke teman, carilah teman yang benar-benar bisa dipercaya. Bukan teman yang suatu saat akan menjatuhkan kita dengan rahasia dari curhatan kita.
Memang cara yang paling aman berdoa dan mengadu kepada Tuhan YME. Kita bebas bercerita, berkeluh kesah, berdoa, dan menentramkan hati ini tanpa khawatir bakal dibocorkan rahasia kita.
Ini bukan berarti teman itu tak bisa dipercaya, seperti saya tulis di atas. Carilah teman yang benar-benar bisa dipercaya. Teman inilah yang bisa membimbing kita untuk berbuat baik, bukan menjerumuskan ke keburukan.
Siapapun yang sedang merasa kesal dan marah sampai ke ubun-ubun, semoga bisa memaafkan.
Sayapun masih belajar karena memaafkan itu mudah diucapkan tapi di hati terkadang sulit menerimanya. Alhasil, kata maaf terucap tapi sikap masih menunjukkan sebaliknya seperti memilih diam saat bertemu orang tersebut. Itu termasuk masih marah nggak ya?
Kalau menghindar atau menarik diri agar tak tersakiti orang itu lagi itu bagaimana ya? Sepertinya bukan termasuk dendam. Saya juga nggak paham. Tapi, menjaga perasaan kita agar tak tersakiti juga bagian dari perlindungan diri. Masa iya disakiti berkali-kali dengan orang yang sama 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: