Virus Enchepilitis dari Nyamuk Sawah yang Menakutkan

Penyakit ‘jaman now’ macam-macam ya, salah satunya yang disebabkan virus Japanese Encephalitis. Klo sudah kena, si virus ini bikin seorang balita tak berdaya dalam seketika.

Menurut informasi, virus ini juga nggak kenal usia. Cuma belakangan, dunia media sosial diramaikan dengan berita duka balita yang terserang virus yang ditularkan dari gigitan nyamuk sawah.

Pastinya sudah banyak yang tahu cerita Ghibran dan Thor. Mamabocah termasuk yang sering lihat di Instagram ibu kedua balita itu.

Baru-baru ini batita usia hampir 2 tahun dari Jakarta juga terserang virus ini. Saya hanya membacanya di media sosial. Sedih klo liat seperti ini, anak-anak yang sebelumnya sehat ceria berubah jadi tak berdaya dengan alat-alat pendukung kehidupan yang menempel di tubuhnya.

Sebenarnya seperti apakah penyakit ini?

Kalau menurut Situs resmi Kemenkes RI, Japanese Encephalitis (JE) adalah penyakit radang otak disebabkan oleh virus Japanese Encefalitis. Virus tersebut termasuk Family Flavivirus dan merupakan masalah kesehatan masyarakat di Asia termasuk di Indonesia.

Ada 326 kasus JE di Indonesia Tahun 2016. Kasus terbanyak dilaporkan terdapat di Provinsi Bali dengan jumlah kasus 226 (69,3%).

Penularan virus itu sebenarnya hanya terjadi antara nyamuk, babi, dan atau burung rawa. Manusia bisa tertular virus JE kalau tergigit nyamuk Culex Tritaeniorhynchus yang terinfeksi.

Biasanya nyamuk ini lebih aktif pada malam hari. Nyamuk golongan Culex ini banyak terdapat di persawahan dan area irigasi. Dan penyakit JE pada manusia biasanya meningkat pada musim hujan.

‘Di Bali, tingginya kejadian Japanese Encephalitis dikaitkan dengan banyaknya persawahan dan peternakan babi di area tersebut,’ tutur Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH, Dsc, dalam keterangannya kepada Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI.

Kalau penyakit pasti ada gejalanya kan. Tapi, sebagai besar penderitanya hanya menunjukkan gejala yang ringan atau bahkan nggak bergejala sama sekali.

Gejalanya bisa muncul 5-15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi virus. Apa saja? Biasanya berupa demam, menggigil, sakit kepala, lemah, mual, dan muntah.

Kurang lebih 1 dari 200 penderita infeksi JE menunjukkan gejala yang berat yang berkaitan dengan peradangan pada otak (encephalitis), berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala, kaku pada tengkuk, disorientasi, koma (penurunan kesadaran), kejang, dan kelumpuhan.

Kata Kemenkes lagi,gejala kejang itu seringnya dialami pasien anak-anak.

Gejala sakit kepala dan kaku pada tengkuk terutama terjadi pada pasien dewasa.

Keluhan-keluhan tersebut biasanya membaik setelah fase penyakit akut terlampaui, tetapi pada 20-30% pasien, gangguan saraf kognitif dan psikiatri dilaporkan menetap.

Komplikasi terberat pada kasus Japanese Encephalitis adalah meninggal dunia (terjadi pada 20-30% kasus Encephalitis).

‘Tidak bisa sembarangan menyatakan seseorang didiagnosis JE, selain berdasarkan pemeriksaan fisik atas gejala, juga diperlukan pemeriksaan laboratorium dan tidak bisa dilakukan di laboratorium klinik biasa,’ imbuh dr. Jane.

Sedihnya itu, belum ada obat untuk mengatasi infeksi JE, pengobatan bersifat suportif untuk mengurangi tingkat kematian akibat JE.

Menurut Kemenkes, pengobatan yang diberikan berdasarkan gejala yang diderita pasien (simtomatik), istirahat, pemenuhan kebutuhan cairan harian, pemberian obat pengurang demam, dan pemberian obat pengurang nyeri.

Kalau lihat kasus di Ig itu, kebanyakan anak balita ya. Tapi menurut data Kemenkes sebanyak 85% kasus JE yang dilaporkan pada Tahun 2016 terjadi pada kelompok umur 15 tahun.

Mungkin itu yang menyebabkan JE dianggap sebagai penyakit pada anak. Padahal, sebenarnya JE juga dapat berjangkit pada semua umur, terutama bila virus tersebut baru menginfeksi daerah baru di mana penduduknya tidak mempunyai riwayat kekebalan sebelumnya.

Intervensi yang paling utama dalam penanggulangan JE adalah pengendalian vektor, eliminasi populasi unggas, vaksinasi pada babi, eliminasi pemaparan manusia pada vektor, dan imunisasi JE pada manusia.

Imunisasi merupakan cara yang paling efektif untuk mencegah JE pada manusia.

dr. Jane juga mengatakan langkah Kemenkes selanjutnya adalah introduksi imunisasi JE ke dalam program imunisasi rutin pada anak usia 9 bulan yang dilaksanakan bersamaan dengan imunisasi campak.

Perluasan introduksi imunisasi JE akan dilaksanakan berdasarkan kajian endemisitas wilayah masing-masing.

Pantes aja ya imunisasi JE ini jarang ada stoknya di rumah sakit. Seperti di Jabodetabek, vaksin JE ini sepertinya langka aja.

Selain itu, biayanya kayaknya lumayan. Kalau bisa pencegahan dengan vaksin, orang tua pasti mencari-carinya. Apalagi beberapa anak sudah mengalaminya ??

Saya termasuk jadi deg-degan meski semua kita serahkan ke Yang Maha Kuasa. Klo doa semua orangtua pasti mendoakan anak2nya. Begitu juga melakukan tindakan pencegahan.

Apa kata ortu dlu itu ada benarnya juga, klo anak blm 40 hari jangan diajak keluar dlu. Secara ya di luar kita nggak tau kuman atau virus yang bertebaran y ga aman buat kesehatan.

Semoga kita semua termasuk dalam lindungan Maha Kuasa dan yang sedang sakit diangkat penyakitnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: