Site icon MamaBocah

Tentang Selamat yang Terlalu Berat Ditanggung

Bolehkah aku berkeluh kesah di blogku sendiri? Semoga masih boleh. Sebab hari ini aku sedang belajar menyeimbangkan dua hal yang sama-sama menakutkan, dicap sebagai hamba yang membelot, atau tumbuh menjadi manusia yang kehilangan adab.

Ilustrasi by Gemini


Aku heran, ternyata mengucapkan Selamat bisa sedemikian berbahaya. Ia bukan sekadar kata, tapi seolah menjadi pintu menuju dosa besar. Padahal yang kuucapkan hanya ucapan, bukan pengakuan iman, apalagi pergantian keyakinan.


Jika memang salah, mungkin kita perlu menghapus pelajaran toleransi dari buku-buku sekolah. Terlalu melelahkan mengajarkan sesuatu yang hanya indah di ujian, tapi tabu di kehidupan. Biarlah anak-anak belajar bahwa diam adalah bentuk paling aman dari kebaikan.


Lalu apa itu toleransi beragama? Barangkali ia hanya hiasan kurikulum, cukup dibaca, tak perlu dipraktikkan. Sebab rupanya, bersikap ramah pun perlu izin, lengkap dengan tafsir dan garis pembatas.


Tenang saja, masih ada pelajaran agama masing-masing. Ajarkan sesuai porsinya. Bahkan kalau perlu, anggap saja negeri ini milik satu agama tertentu. Lebih sederhana, lebih rapi, dan tentu saja: minim perdebatan.

Aneh memang, di suatu negara yang bangga pada keberagaman, kata Selamat justru sering menjadi biang masalah.

Dulu aku kira, selama iman tak berpindah dan keyakinan tetap utuh, semuanya baik-baik saja. Rupanya aku keliru, zaman berubah, dan batas-batas kian mengeras.


Jika mengucapkan Selamat saja tak diperkenankan, lalu apa arti hidup bersama dalam perbedaan? Atau mungkin beginilah rasanya menjadi minoritas, selalu salah, bahkan saat berniat baik.


Yang jarang kita pikirkan

Orang sering bilang, toleransi itu cukup dengan membiarkan orang lain beribadah, tidak mengganggu, tidak merusak, apalagi sampai berbuat kekerasan. Bahkan ada yang bercanda sinis, “yang penting nggak membom.” Padahal rasanya definisi itu terlalu rendah untuk sesuatu yang seharusnya bernama kemanusiaan.


Lalu soal mengucapkan selamat. Di sini perdebatan jadi lebih rumit. Banyak yang mengaitkannya dengan akidah, batas iman, bahkan menyebutnya bukan toleransi tapi kolaborasi. Ya sudahlah, perdebatan ini memang seperti lingkaran tak berujung. Selalu ada dalil, selalu ada pembenaran, selalu ada kubu.


Yang jarang dipikirkan adalah dampaknya. Betapa bebasnya orang membuat konten penolakan, video, tulisan, bahkan sindiran, tanpa pernah berhenti sejenak dan bertanya, bagaimana kalau yang dimaksud membaca ini?

Bagaimana rasanya menjadi “mereka” yang setiap tahun diingatkan bahwa keberadaannya hanya ditoleransi sejauh tidak terlihat, tidak disapa, tidak dirayakan.


Mungkin toleransi bukan hanya soal menjaga iman diri sendiri, tapi juga soal menjaga perasaan orang lain agar tidak merasa dipinggirkan. Karena menghargai manusia, pada akhirnya, bukan tentang siapa yang paling benar, tapi siapa yang masih mau berempati.



Diamku dalam bingung

Aku paham, tulisan ini bisa dianggap berisik. Tapi tenang, ini hanya blog kecil. Tempat seseorang yang bingung mencoba berpikir, sebelum akhirnya belajar bahwa dalam pengalamanku, niat baik pun harus ekstra hati-hati.

Jika aku diam, maafkan aku, teman.
Itu bukan karena aku membencimu, melainkan karena aku sedang menjaga sesuatu yang juga rapuh dalam diriku.


Disclaimer: Tulisan ini bukan ajakan, hanya catatan kebingungan seorang warga biasa.


Exit mobile version