Tak Boleh Terlalu pada Anak Asma
Dulu dokter anakku berkata, anak asma nggak boleh terlalu bahagia atau terlalu sedih. Aku bingung apa kaitannya. Kupikir itu hoax, ternyata ada penjelasannya secara medis. Mungkin dokter bisa mengoreksinya.
Kisahku Guruku
Dulu dokter anakku berkata, anak asma nggak boleh terlalu bahagia atau terlalu sedih. Aku bingung apa kaitannya. Kupikir itu hoax, ternyata ada penjelasannya secara medis. Mungkin dokter bisa mengoreksinya.
Tulisan ini kusimpan dalam blog sebagai pengingat momen berharga saat aku dan anak perempuanku bekerja sama. Ada rasa sedih yang terselip, tapi di dalamnya tersimpan pelajaran yang sangat mahal.
Dulu, aku sering banget merasa gemas atau bahkan kesal kalau melihat orang yang seolah nggak peduli sama kesehatan. Padahal kita semua tahu, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Pakai masker misalnya, sekarang pilihannya banyak, harganya pun sudah jauh lebih terjangkau. Kalau alasannya sesak, bukannya kalau sudah sakit rasanya bakal jauh lebih sesak?
Belakangan ini, aku sering merenung saat mendengar orang-orang begitu riuh menyalahkan pemimpin atau pemerintah. Katanya, mereka tidak punya empati. Katanya, mereka abai dan tidak peduli pada rakyat kecil. Memang benar, kritik itu perlu. Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiranku, bukankah pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya?
Ada satu hal yang mengganjal di hati belakangan ini. Seringkali aku bicara soal tanggung jawab dan bagaimana kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Tapi kenyataannya, di balik layar, aku masih berhadapan dengan tembok besar bernama, birokrasi.
Sudah lima hari ini rumahku terasa sunyi, namun pikiranku justru sangat bising. Sebagai ibu dari anak-anak yang memiliki riwayat asma, setiap napas mereka adalah hal yang paling berharga bagi aku. Itulah mengapa, hingga hari ini, aku masih memilih untuk tetap waspada, tetap menjaga jarak, dan tetap mengenakan masker. Namun, yang paling melelahkan ternyata bukan menjaga […]
Di satu sudut rumah, aku melihat Ibuku. Bibirnya tak henti bergerak, melantunkan zikir yang seolah menjadi tembok tak kasat mata bagi dirinya. Beliau tenang, sangat tenang. Di sudut lain, ada aku, sang anak yang sedang dalam survival mode, yang sibuk memastikan masker tak bercelah, dan menahan sesak karena harus jujur pada sistem yang kuanggap “cacat”. Kontras […]
Pernah nggak sih merasa kayak alien di planet sendiri? Kamu yang pakai masker paling rapat, kamu yang paling ribet bawa sanitizer, kamu yang paling overthinking soal ventilasi, tapi di sekelilingmu orang-orang santai kayak nggak ada apa-apa. Bawa anak sakit ke mal? Biasa. Batuk nggak ditutup? Sering. Bilang “semua takdir” tanpa ada ikhtiar? Apalagi 😮💨
Ujian kesabaran 14 hari Penantian menunggu hasil biopsi menurutku tergolong agak lama. Dari janji 10 hari, meleset jadi 14 hari. Meski cuma beda 4 hari, tapi bagi orang tua yang menunggu kepastian, rasanya seperti sebulan.
Tujuh hari atau sekitar 168 jam. Bagi dunia, itu mungkin hanya satu lembar kalender yang terlewat. Tapi bagiku dan si bungsu, itu adalah perjalanan panjang di dalam ruangan berukuran 3×4 meter yang memisahkan kami dari hiruk-pikuk kehidupan di luar sana.