Lelah, Saat Kepedulian Kesehatan Masyarakat Mulai Hilang
Lelah… Mungkin itu kata yang paling menggambarkan perasaanku selama lima tahun terakhir sejak pandemi datang.
Kisahku Guruku
Lelah… Mungkin itu kata yang paling menggambarkan perasaanku selama lima tahun terakhir sejak pandemi datang.
Aku ikut dalam komunitas yang beberapa anggotanya mengalami gejala Long COVID.Mereka bukan tipe yang gampang percaya info di luar yang belum terbukti secara ilmiah. Dari beberapa pesan yang aku tangkap, mengobati Long COVID itu tricky banget.
Tanggal 27 Januari itu masih jelas di ingatanku. Hari ketika kamu masuk rumah sakit. Hari ketika angka saturasi menjadi sesuatu yang kutatap lebih sering daripada jam. Hari ketika aku belajar menahan panik.Sekarang, mendekati sebulan setelahnya, kamu sudah jauh lebih baik. Hasilmu negatif. Saturasimu normal. Oksigen yang kupinjam sudah kembali ke tempatnya.
Di sebuah negeri, setiap orang memegang peranannya masing-masing. Tak ada yang benar-benar diam,masing-masing bergerak dalam ritmenya sendiri.
Tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku pikir semuanya sudah benar-benar selesai. Ternyata belum.
Pernah dengar orang bilang, ‘COVID sudah herd immunity”? Tapi makin aku baca, klaim itu perlu dipikirkan lagi. Bungsu tertular lagi, dan beberapa orang kaget, seakan-akan aneh kok masih kena COVID. Banyak yang beranggapan, “Ah, kan cakupan vaksin sudah tinggi, pasti herd immunity tercapai.” Padahal, faktanya, tidak sesederhana itu.
Belakangan ini, tiap kali aku membuka media sosial, rasanya ada sesak yang muncul di dada. Bukan karena urusan domestik yang nggak habis-habis, tapi karena melihat narasi-narasi yang kembali meragukan pentingnya imunisasi.
Jujur, ini POV-ku ya. Ada rasa sesak yang tertinggal setelah melihat bagaimana sebuah sistem penilaian bekerja belakangan ini. Khususnya, saat aku melihat anak-anak seolah “dihukum” secara nilai hanya karena mereka (dan kita sebagai orang tuanya) memilih untuk tetap bertanggung jawab menjaga kesehatan. Kenapa ya, di tengah keramaian, pilihan untuk tetap bermasker malah dipandang sebelah mata?
Dulu dokter anakku berkata, anak asma nggak boleh terlalu bahagia atau terlalu sedih. Aku bingung apa kaitannya. Kupikir itu hoax, ternyata ada penjelasannya secara medis. Mungkin dokter bisa mengoreksinya.
Tulisan ini kusimpan dalam blog sebagai pengingat momen berharga saat aku dan anak perempuanku bekerja sama. Ada rasa sedih yang terselip, tapi di dalamnya tersimpan pelajaran yang sangat mahal.