Site icon MamaBocah

Empati vs Cuek,  yang Aku Ajarkan ke Anak secara Tak Langsung

Aku manusia biasa, yang masih punya perasaan. Dan jujur, aku marah.
Marah pada sikap cuek, pada orang-orang yang merasa sehat lalu mengira semua orang sekuat dirinya.

Lihat video ini, malam sebelum kami ke dokter.

https://mamabocah.com/wp-content/uploads/2026/01/VID_20260126_032232.mp4


Untuk kalian yang sedang merasa baik-baik saja, semoga kalian selalu bahagia. Sungguh.
Bukan karena aku ingin kalian merasakan sakit, tapi karena aku tahu persis rasanya melihat anak sendiri berjuang bernapas. Dan itu bukan pengalaman yang pantas dijadikan pelajaran bagi siapa pun.


Sesekali terlintas pikiran egois. Andai saja orang-orang yang cuek bisa merasakan sedikit saja apa yang anakku rasakan, mungkin mereka akan lebih paham.


Saat anakku terkena covid, aku sadar aku pun bisa saja tertular. Di titik itu aku belajar satu hal, baik tahu maupun tidak tahu, menularkan penyakit tetaplah salah.


Banyak orang beralasan, “Aku nggak tahu kalau sakit,” lalu merasa sah-sah saja menularkan. Padahal ketidaktahuan bukan pembenaran.


Sebaliknya, ketika kita tahu berisiko tapi tetap abai, kesalahannya justru lebih besar.

Cuek bukan alasan, tahu tapi diam juga bukan pembenaran. Keduanya sama-sama bentuk ketidakpedulian.

Bukan untuk balas dendam. Hanya ingin saling mengingatkan. Tapi ya, baik tindakan maupun doa tak seharusnya berisi keburukan.


Maka biarlah marah ini tinggal sebagai pengingat,  bahwa empati itu murah,
bahwa peduli adalah pilihan, dan bahwa menganggap remeh penyakit bukan tanda kuat, melainkan tanda lupa bahwa kita semua rapuh.


Exit mobile version