Site icon MamaBocah

Masker dan Bullying yang Sering Tak Disadari

Aku sering heran dengan orang-orang yang terus mempermasalahkan masker. Padahal, orang yang bermasker tidak sedang meminta dibelikan masker oleh siapa pun. Mereka hanya sedang memilih melindungi diri.

Selama ini, orang sering memahami bahwa bullying sebagai kekerasan verbal atau fisik yang dilakukan sesama teman. Padahal, bullying juga bisa hadir dalam bentuk lain, termasuk ketika dilakukan oleh orang dewasa yang memiliki kuasa, dan itu bisa terjadi di ruang kelas.

Orang jarang menyadari, urusan masker bisa menjadi pintu masuk terjadinya bullying. Tindakan yang tampak sederhana, bahkan sepele bagi orang dewasa, bisa berdampak besar pada rasa aman dan kondisi psikologis anak. Dalam situasi tertentu, hal ini bisa dilakukan oleh pihak yang seharusnya justru memberi rasa aman.

Tulisan ini adalah sudut pandangku sebagai orangtua. Aku menuliskannya karena beberapa kali anakku pernah berhadapan dengan situasi di mana penggunaan masker justru dipermasalahkan di lingkungan sekolah.

Apa itu bullying

Bullying tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Secara umum, bullying adalah perilaku yang dilakukan berulang atau berdampak merendahkan, dilakukan oleh pihak yang memiliki kuasa lebih besar, dan membuat korban merasa tidak nyaman, takut, malu, atau tertekan.

Bullying bisa berbentuk:

Dalam konteks sekolah, orang dewasa memiliki posisi kuasa. Karena itu, perkataan dan tindakannya bisa memberi dampak yang jauh lebih besar bagi anak.

Ketika anak dipaksa melepas masker

Tindakan ini bisa termasuk bullying atau setidaknya intimidasi, jika:

Jika memang ada aturan sekolah yang melarang murid memakai masker, aku rasa wajar bila orangtua ingin bertanya dan mendapatkan penjelasan langsung dari pihak yang berwenang.

Memaksa anak melepas masker di sekolah bukanlah bentuk disiplin. Itu adalah pemaksaan yang mengabaikan kondisi dan kebutuhan anak.

Jika alasannya agar ‘sama dengan yang lain’ atau supaya bisa melihat wajah anak, itu sudah masuk ke tekanan sosial, bukan pendidikan. Untuk urusan mengenal wajah anak, komunikasi dengan orangtua bisa dilakukan secara pribadi, tanpa harus mengorbankan rasa aman anak.

Membicarakan anak bermasker di depan kelas

Tindakan ini lebih jelas berpotensi menjadi bullying verbal atau psikologis, terutama jika:

Ini adalah bentuk mempermalukan anak di ruang publik. Dampaknya tidak sebentar. Rasa aman dan harga diri anak bisa terganggu dalam jangka panjang.

Ruang belajar seharusnya menjadi tempat yang aman, bukan ruang yang tanpa sadar membuka stigma.

Kenapa ini serius?

Bagi anak, masker bisa berarti:

Ketika orang dewasa meremehkan hal itu, pesan yang sampai ke anak adalah, ‘Perasaan dan kondisi kamu tidak penting.’

Dan itu adalah luka psikologis.

Yang bukan bullying

Agar tetap adil, tidak semua tindakan di sekolah bisa disebut bullying. Yang tidak termasuk bullying antara lain

Nada, cara, dan niat sangat menentukan.

Intinya

Jika pihak sekolah membaca tulisan ini, harapanku sederhana, mari saling menghargai. Dunia pascapandemi menuntut kita untuk beradaptasi. New normal berarti menyesuaikan diri dengan kondisi yang beragam, bukan memaksakan semua orang kembali ke satu pola yang sama. Move on, bukan move back.

Aku menulis ini tidak bermaksud menyalahkan profesi atau pihak tertentu. Refleksi ini kutujukan kepada siapa pun yang pernah merasa berhak memaksa orang lain melepas masker.

Karena aku percaya, banyak pendidik bekerja dengan hati. Justru karena itulah, ruang dialog seperti ini perlu dibuka, agar ruang belajar tetap menjadi tempat yang aman bagi semua anak.

Exit mobile version