Sudah lima hari ini rumahku terasa sunyi, namun pikiranku justru sangat bising. Sebagai ibu dari anak-anak yang memiliki riwayat asma, setiap napas mereka adalah hal yang paling berharga bagi aku. Itulah mengapa, hingga hari ini, aku masih memilih untuk tetap waspada, tetap menjaga jarak, dan tetap mengenakan masker.
Namun, yang paling melelahkan ternyata bukan menjaga kesehatan itu sendiri, melainkan menghadapi penilaian orang-orang di sekitar.
Sering kali aku mendengar sindiran, “Kenapa masih takut? Coba rajin berzikir pagi dan petang. Kalau rajin zikir, pasti dijauhkan dari musibah dan penyakit.“
Kalimat itu rasanya sangat menghujam hati. Seolah-olah, kewaspadaanku dianggap sebagai tanda kurangnya iman. Aku pun mulai bertanya-tanya, Apakah zikir dan doa kini menjadi alasan bagi manusia untuk boleh bersikap abai?
Hubungan dengan Tuhan & manusia
Aku belajar bahwa dalam beragama, ada yang namanya hubungan dengan Tuhan (kesalehan ritual) dan hubungan dengan sesama manusia (kesalehan sosial). Keduanya harus seimbang.
Apa gunanya lisan aku terus berzikir menyebut nama-Nya, kalau tindakan aku justru membahayakan nyawa orang lain yang Dia ciptakan?
Mungkin bagi mereka, zikir adalah tameng untuk merasa “kebal”. Tapi bagiku, zikir yang tulus seharusnya melahirkan empati.
Bukankah setiap kita memulai sesuatu dengan Bismillahirrahmanirrahim, dengan menyebut nama-Nya yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang?
Jika zikir kita tidak membuat kita sayang dan peduli pada keselamatan sesama, lantas zikir apa yang sedang kita ucapkan?
Menjaga nyawa adalah ibadah
Bagiku, menjaga kesehatan keluarga bukan tanda takut mati atau kurang iman. Justru ini adalah bentuk menjaga nyawa.
Aku percaya Tuhan tidak hanya menilai seberapa lama aku bersujud, tapi juga seberapa aman orang-orang di sekitarku dari kelalaianku.
Aku sempat merasa terasing di tengah lingkungan yang seharusnya menyejukkan. Bahkan pilihanku untuk tetap bermasker saat menghadap Tuhan pun dipermasalahkan.
Tapi di tengah kesesakan itu, aku menyadari satu hal, aku menjaga bukan karena aku tidak percaya pada Tuhan. Aku menjaga justru karena aku sangat menghargai amanah-Nya.
Anak-anakku adalah titipan yang harus aku pertanggungjawabkan. Menjaga mereka agar bisa bernapas lega adalah ibadah nyataku.
Mungkin aku tidak bisa bersedekah harta seperti orang kaya, tapi setiap peluhku saat membelikan masker dan setiap kesabaranku menahan sindiran adalah “sedekah” tenaga dan perasaan yang aku harap Tuhan terima.
Untukmu yang merasa sendiri
Untuk para ibu di luar sana yang mungkin sedang merasa lelah, dicibir, atau dianggap “berlebihan” karena menjaga kesehatan keluarga, kamu tidak sendirian.
Menjadi peka di dunia yang abai itu memang melelahkan, tapi itu adalah tanda bahwa hatimu masih hidup. Jangan biarkan standar orang lain merusak kedamaianmu.
Teruslah menjaga dengan cinta, karena Tuhan Maha Melihat setiap usaha yang tak terlihat oleh manusia.
Menjaga titipan
Jadi, jika suatu saat terbersit keheranan di hati teman-teman ketika melihat seorang ibu dan anak-anaknya masih bermasker dengan ketat… ketahuilah bahwa mereka melakukan itu bukan karena tidak beriman atau tidak percaya pada Tuhan.
Justru, pilihan itu diambil karena mereka sangat mencintai dan ingin menjaga titipan-Nya dengan sebaik-baiknya.
