Belakangan ini, aku sering merenung saat mendengar orang-orang begitu riuh menyalahkan pemimpin atau pemerintah. Katanya, mereka tidak punya empati. Katanya, mereka abai dan tidak peduli pada rakyat kecil.
Memang benar, kritik itu perlu. Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiranku, bukankah pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya?
Aku mulai bertanya pada diri sendiri, bagaimana mungkin kita menuntut empati dari orang-orang di atas sana, jika di level paling dasar, di antara kita sesama warga, sesama teman, kita sendiri begitu pelit memberikan rasa aman dan pengertian?
Kita sering marah melihat penguasa yang merasa paling benar. Namun tanpa sadar, kita melakukan hal yang sama di lingkup kecil kita.
Kita merasa berhak mengatur standar kebenaran orang lain, kita menghakimi pilihan hidup sesama, dan kita melemparkan sindiran tajam hanya karena orang lain tidak sejalan dengan cara pandang kita.
Mungkin, perbedaan antara kita dan mereka yang kita anggap tak punya perasaan itu hanyalah satu, kita belum berjubah kekuasaan saja.
Kalau hari ini kita sudah merasa berhak “menindas” mental orang lain dengan kalimat-kalimat yang menghujam hati (seperti tuduhan “kurang iman” hanya karena orang lain waspada menjaga kesehatan), lantas apa bedanya kita dengan penguasa yang menindas dengan kebijakan yang abai?
Esensinya sama-sama kehilangan empati
Kita sering lupa bahwa setiap kita adalah pemimpin, minimal bagi lisan dan hati kita sendiri. Jika kita gagal memimpin diri sendiri untuk tidak menghakimi, maka kita sebenarnya sedang ikut berkontribusi menciptakan budaya masyarakat yang keras dan tidak peduli.
Dan dari masyarakat yang seperti itulah, pemimpin-pemimpin yang tidak punya empati itu lahir.
Jadi, sebelum jari ini sibuk menunjuk ke arah atas, mungkin ada baiknya aku menunjuk ke dalam hatiku sendiri dulu. Apakah zikir dan doa yang aku ucapkan sudah melunakkan hatiku untuk peduli pada perjuangan orang di sekitarku? Ataukah ibadahku justru membuatku merasa punya “kekuasaan” untuk merasa lebih suci dari orang lain?
Perubahan itu tidak selalu harus dimulai dari kotak suara. Ia bisa dimulai dari hal yang paling sederhana. Berhenti merasa paling benar dan mulai belajar berempati.
