Tulisan ini kusimpan dalam blog sebagai pengingat momen berharga saat aku dan anak perempuanku bekerja sama. Ada rasa sedih yang terselip, tapi di dalamnya tersimpan pelajaran yang sangat mahal.
Semua bermula dari pengumuman sekolah mengenai lomba fashion show dengan tema pakaian tradisional. Karena kami tidak memiliki pakaian adat di rumah, aku mengusulkan ide yang “murah meriah” namun menantang kreativitas: membuat kostum dari plastik kresek.
Walau awalnya ia sempat ragu, konfirmasi dari wali kelas bahwa itu diperbolehkan memberikan kami lampu hijau.
Kami memilih tema Bali. Rok kresek lama kami modifikasi dengan hiasan kertas emas, sementara kembennya aku buatkan khusus untuknya. Namun, ujian sesungguhnya datang sehari sebelum lomba. Di tengah jadwal mengantar adiknya kontrol ke RS, mahkota yang sangat penting itu belum juga jadi. Aku hanya sempat membantu membuat pola sebelum harus pergi. “Lihat YouTube ya, Kak,” pesanku.
Tak disangka, saat aku masih di RS, sebuah foto masuk ke ponselku. Mahkota itu sudah jadi, tampak begitu rapi dan indah. Di saat itulah aku tersadar, ketika kita memberikan kepercayaan sepenuhnya, anak ternyata mampu melampaui ekspektasi kita.
Pergulatan batin di balik jawaban nggak apa-apa
Pagi harinya, ia berangkat dengan bangga meski terselip rasa malu mengenakan kostum kresek. Namun, kebanggaan itu berubah menjadi awan mendung saat ia pulang ke rumah.
“Ma, aku buat berhari-hari tapi kalah sama yang tinggal beli atau sewa. Berarti yang berusaha nggak dihargai, ya?”
Suaranya meninggi, penuh kekecewaan. Aku terdiam. Jujur, saat itu aku terjebak dalam pergulatan batin yang hebat. Di satu sisi, aku ingin menjadi Ibu yang bijak dengan mengatakan bahwa kalah-menang itu biasa. Namun di sisi lain, hatiku ikut protes, “Apakah aku salah sudah mengajarkan dia untuk berpayah-payah sendiri, jika pada akhirnya dunia lebih memilih yang serba instan?”
Ada rasa sesak saat menyadari bahwa standar yang kita bangun dengan susah payah di rumah, kadang dipatahkan begitu saja oleh sistem yang lebih mengejar “kesempurnaan visual”.
Aku bingung harus berdiri di sisi mana, mendukung logikanya yang memang benar bahwa itu tidak adil, atau memaksanya menerima keadaan agar dia tetap bermental baja. Akhirnya, aku hanya bisa menenangkannya dengan kata-kata standar yang aku tahu tidak membuatnya puas.
Lebih dari sekadar pemenang
Malamnya, tubuhnya menyerah. Pilek dan batuk menyerang. Aku pun bertanya-tanya, apakah ini sekadar sakit fisik, atau bentuk dari hatinya yang masih menyimpan luka karena usahanya tak dipandang mata?
Satu hal yang pasti, piala mungkin bisa disewa, tapi karakter jujur dan mandiri yang ia bentuk lewat mahkota kertas emas itu tidak akan pernah bisa ditukar dengan apapun. Nak.
Mahkota kemandirianmu jauh lebih berkilau dari piala mana pun. Rumah akan selalu jadi tempat paling hangat yang menghargai setiap tetes keringatmu, meski di luar sana standarnya berbeda.
