MamaBocah

Konvoi Pakai Pengawalan Tapi Mau Ikut Macet

Konvoi dikawal voorijder (patwal) itu sudah biasa. Tapi, bisa nggak ya konvoi itu ikutin aja arus lalu lintas. Sama-sama ikut macet dan sama-sama berhenti saat lampu merah. Jadi, nggak usah kayak raja jalanan.

Ehm…kalau dipikir-pikir mana mungkin. Wong, pakai pengawal gitu si empunya acara pasti sudah mengeluarkan biaya dan ada tujuan kenapa pakai voorijder yakni biar jalan lebih teratur, jalan lebih lancar melewati kemacetan. Betul tidak?

Saya nggak memungkiri pernah ikutan konvoi yang pakai pengawalan. Mulai yang pakai pengawal tapi tetap kena macet, terus ditinggal si pengawal yang superngebut, sampai berhasil membelah macet karena ada patwal.

Terus gimana perasaan saya? Campur aduk, nggak enak sama pengguna jalanan lain, malu sampai saya turun-turun ke bawah kursi mobil (spontan padahal mana kelihatan sama orang luar), tapi kadang-kadang senang kalau bisa membelah kemacetan biar anak nggak rewel. Maklum, saya kan cuma yang ngikut bukan yang punya acara.

Dulu saya ikut komunitas mobil dan ikut konvoi. Tapi, komunitas ini pakai patwal juga nggak ngaruh karena kita tetap mengikuti kondisi lalu lintas. Secara di dalam ibukota, bisa diamuk kalau nguasain jalan. Terus saya ikut konvoi undangan patner kerja suami ke luar kota. Itu juga pakai patwal yang ngebutnya bikin mual.

Sepanjang jalan saya ngomel-ngomel, mending nggak usah ngikutin konvoi daripada perut dikocok-kocok. Mana gendong putri cantik yang masih bayi, hihi…

Papanya bocah punya alasan, tapi saya lupa. Jadilah saya menahan-nahan mual ini. Berharap cepat sampai… Bener dah itu patwal kayaknya nggak sadar yang di belakangnya ada berapa mobil. Dia main salip kanan kini aja…

Untuk pengalaman pengawal yang membantu melewati kemacetan beda lagi ceritanya. Pengawal sama anggota komunitasnya kompak banget, saling membantu biar semua anggota konvoi bisa lewat. Tapi, kasihan juga pengguna jalan yang lain yang kena imbasnya 😀

Saya baru tahu kalau konvoi itu boleh menerobos lampu merah. Itu benar nggak sih, katanya ada aturannya. Sebenarnya apa alasannya ya. Konvoi mobil atau motor itu apa ada kepentingan yang urgent atau emergency-nya kah sampai dipersilakan terobos lampu merah. Apa demi sampai cepat? Kalau itu alasannya, ya berangkat lebih pagi pas jalanan masih lengang. *piiisss*

Saya lebih setuju kalau konvoi itu tetap saja ikutin arus lalu lintas. Kalau benar-benar ada alasan emergencynya bolehlah dipakai hak spesialnya tersebut. Sekarang itu makin banyak warga yang berani bersikap. Jadi jangan kaget kalau tiba-tiba dihadang pas lagi asyik-asyiknya konvoi.

Pengguna jalan itu buannnyaaaak dan siapa tahu lagi perang batin juga ingin cepat sampai ke tempat tujuan karena beragam alasan. Mungkin ada yang mau buru-buru sampai ke kantor biar nggak diomeli bos dan kena SP, eh kena macet juga meski sudah berangkat pagi buta. Ada yang mau buru-buru ke rumah sakit, ada yang mau mengejar cintanya yang mau pergi keluar negeri, atau ada alasan yang lainnya.

Udah kayak begitu, terus tiba-tiba ketemu konvoi yang panjangnya amit-amit. Yang nggak ikut konvoi ya terima nasib nungguin sampai barisan terakhir lewat. Berapa waktunya itu, kasihan yang buru-buru ke kantor harus terima nasib terlambat dan dimarahi bosnya plus kena SP. Kasihan yang buru-buru ke rumah sakit, dan kasihan yang ditinggal cintanya pergi ke negara lain. Masih banyak pengguna jalan lainnya yang punya kepentingan mendesak.

Yang lebih kasihan lagi pas pejalan kaki nyebrang terus ada konvoi yang puanjang… Nggak kebayang pas nyebrang di tengah jalan terus distop dulu. Apalagi kalau yang nyebrang orangnya takut nyebrang, bisa panik itu berhenti di tengah jalan, hadeeeeh… *sayabanget*.

Kayaknya perlu dipikirkan lagi deh mana yang bisa dikawal dan mana yang sebaiknya tidak. Ehm…tapi di negeri ini membuat aturan saja sepertinya butuh waktu yang nggak bisa sebentar. Jadi, jangan berharap banyak, aturan yang sama-sama menguntungkan itu bakal ada dalam waktu dekat. Belum lagi butuh sosialisasi, bla…bla..

Kembali ke soal pengawalan, tadi saya baca ada yang menanyakan bagaimana dengan lomba pesepeda, long march, atau lomba lari yang menggunakan jalan dan pengamanan kepolisian. Nah lho, saya bingung jawabnya.

Saya dulu pernah ngalamin muter-muter cari jalan mau jenguk saudara yang sakit tapi gagal karena banyak jalan yang ditutup untuk lomba lari (kalau nggak salah). Saya bukan mau menyalahkan lho, hehe..

Memang beda sih, kalau lomba lari kayak gini jalan pasti dialihkan untuk beberapa jam. Kalau konvoi, iring-iringannya panjang. Yang kena imbasnya yang melewati jalan yang dilalui konvoi. Keduanya memiliki peluang menambah kemacetan 😀

Jalan itu milik bersama, siapa saja punya hak melewatinya kan. Untuk konvoi, jangan hanya untuk kepentingan sekelompok orang yang mungkin nggak terlalu genting, banyak pengendara lainnya yang harus rela mengorbankan kepentingannya yang mungkin lebih urgent. Untuk lomba yang menghabiskan banyak jalan mungkin nanti ada solusi biar nggak banyak jalan yang ditutup.

Jakarta sudah terkenal macet. Bahkan macetnya nggak kenal hari, weekend bisa lebih parah. Apalagi kalau ditambah banyak jalanan yang ditutup dan dialihkan. Kebayang aja macetnya jadi kayak apa. Memang sih momen seperti itu bisa jadi hanya sekali dalam setahun, beda dengan konvoi yang tergantung yang mau ngadainnya 😀

Tulisan ini nggak bermaksud nyinyir, cuma sharing aja setelah beberapa hari kemarin lagi heboh tentang konvoi. Sekian dan terima kasih 🙂

Exit mobile version