Site icon MamaBocah

Memaafkan Dunia yang Kadang Nggak Punya Empati

Ada satu fase dalam hidup yang rasanya hampir semua ibu pernah lewati, yakni fase ketika komentar orang lebih tajam dari kelihatannya. Kadang ucapan mereka cuma lewat sekilas, tapi efeknya bisa nyangkut di hati berhari-hari.

“Anaknya kurusan ya sekarang?”
“Maskeran terus makanya sering sakit.”
“Atau… ibunya mikirnya kebanyakan.”

Mereka mungkin bercanda, mungkin nggak bermaksud jahat, tapi tetap saja… ada bagian dalam diri kita yang remuk perlahan. Karena yang mereka komentari bukan sekadar angka di timbangan, tapi hasil dari semua upaya, lelah, dan doa yang nggak pernah kelihatan.

Di titik itu, kita sadar satu hal, “Nggak semua orang punya empati, dan nggak semua orang mau berusaha memahaminya.

Dunia kadang terasa gaduh dengan komentar yang tidak diminta.
Dan tugas kita bukan menjelaskan semuanya, tapi menjaga hati agar nggak ikut gaduh.

Pelan-pelan aku belajar bahwa memaafkan itu bukan tentang memberi lampu hijau pada perilaku orang. Bukan juga tentang pura-pura kuat. Memaafkan itu lebih seperti meletakkan beban yang bukan milik kita, beban ekspektasi orang, beban omongan yang lewat, beban perbandingan yang terus muncul tanpa henti.

Karena kalau terus kita bawa, hidup ini jadi berat sekali.

Memaafkan dunia yang kurang empati bukan berarti kita membiarkan mereka.
Tapi kita memilih diri sendiri.
Memilih untuk tetap waras, tetap lembut, tetap sehat.

Kita memilih untuk fokus pada anak, keluarga, dan diri kita yang sudah berusaha sekuat tenaga. Dan percaya bahwa yang benar-benar peduli nggak akan menilai dari luar saja.

Mungkin memang benar, empati sekarang jadi barang yang langka. Tapi bukan berarti kita harus kehabisan. Kita bisa menumbuhkannya dari diri sendiri, dari cara kita memperlakukan orang, dan dari cara kita memahami setiap ibu yang jalannya berbeda-beda.

Pada akhirnya, kita nggak bisa mengatur mulut orang.
Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana hati kita merespons.

Dan pagi ini, semoga kamu bisa menarik napas panjang dan berkata pada diri sendiri:
“Aku cukup. Aku sudah melakukan yang terbaik.”

Exit mobile version