Site icon MamaBocah

Pengalaman Seorang Ibu Menemani Anak di Ruang Isolasi Covid

Sebagai ibu dari tiga anak dengan riwayat asma, pengalaman menjaga anakku yang bungsu saat masuk ruang isolasi covid menjadi momen penuh pelajaran.

Soal hasil biopsi saja belum kuketik, tapi pengalaman ini yang lebih dulu kushare.

Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk berbagi apa yang aku rasakan, ketakutan, kekhawatiran, dan refleksi sebagai orang tua di masa anak tertular covid lagi & harus rawat inap (ranap).

1. Awal masuk isolasi


Anakku awalnya pilek dan batuk, lalu napasnya sesak. Setelah diperiksa dokter, ia didiagnosis bronkopneumonia dan harus dirawat inap.


Awalnya, ia masuk ke ruang isolasi bukan karena swab positif, tapi karena kamar reguler penuh, jadi ditempatkan di kamar kosong khusus isolasi.


Saat diperiksa dokter, gejalanya cukup serius, napas cepat, mengi, dan harus inhalasi dulu sebelum diperiksa ulang. Suara ‘krek’ khas bronkopneumonia terdengar jelas, sehingga dirawat inap memang sangat dianjurkan.

 

2. Swab positif Covid


Saat pertama kali masuk kamar, aku belum tahu hasil swab anak.


Setelah beberapa jam di ruang isolasi suster memberitahu hasilnya. Ternyata, positif covid, sehingga anakku menetap di ruang isolasi hingga hari ini.


Aku memang tidak dijelaskan secara rinci apa yang harus kulakukan sebagai penunggu. Karena anakku masih 9 tahun, aku harus selalu menemaninya.

3. Kehidupan di ruang isolasi


Bermodalkan baca-baca dan pengalaman, aku memahami bahwa isolasi berarti pasien di dalamnya memiliki penyakit yang mudah menular, dan penunggu harus menjaga diri dengan bermasker.


Satu hal yang kusyukuri, kami keluarga masih menerapkan prokes dengan bermasker.
Jadi memakai masker seharian bukan hal sulit, paling lecet di telinga.


Aku memakai masker respirator VFlex, lumayan sakit kalau dipakai lama. Jika tidak kuat, aku ganti masker karbon 3M.


Keluar kamar, pakai lagi respirator. Jadi mirip robot 😅. Meski ruang isolasi berion negatif, aku tetap khawatir menularkan virus ke orang yang kulewati.


Kalau ada keluarga yang sulit bermasker, mungkin mereka belum terbiasa. Anggap normal, karena namanya isolasi.


Di ruang reguler pun seharusnya kita tetap menjaga diri dan pasien. Tapi edukasi sering menekankan masker hanya untuk yang sakit. Padahal kita yang ingin mencegah tertular juga wajib bermasker.


Aturan rumah sakit kadang tidak tegas karena tidak enak memaksa, dan beberapa keluarga mungkin belum mampu membeli masker, meski kini banyak pilihan harga ramah dompet.


Lebih baik tetap bermasker meski tampak berlebihan daripada tidak sama sekali.

4. Kekhawatiran finansial


Ruang isolasi di rumah sakit swasta ini setara kamar kelas 1, sehingga biaya lebih tinggi.


Aku sempat takut, berpikir, “Apa nanti asuransi menanggung?” 😥


Khawatirku bukan soal pamer, tapi soal tanggung jawab sebagai orang tua, mengurus anak sakit sambil memastikan logistik dan biaya aman.

 

5. Refleksi & pelajaran


Pengalaman ini bikin aku sadar bahwa menjaga diri bukan hanya soal diri sendiri.

Kehati-hatian kecil di ruang isolasi bisa melindungi anak lain, pasien lain, dan semua staf rumah sakit.


Sebagai orang tua, hal sederhana, seperti memakai masker seharian, ternyata adalah bentuk cinta dan tanggung jawab terbesar.


Edukasi kesehatan dan SOP rumah sakit masih bisa lebih jelas, supaya semua penunggu dan pasien memahami risiko dan tanggung jawab mereka.


Exit mobile version