Belakangan ini, tiap kali aku membuka media sosial, rasanya ada sesak yang muncul di dada. Bukan karena urusan domestik yang nggak habis-habis, tapi karena melihat narasi-narasi yang kembali meragukan pentingnya imunisasi.
Di sisi lain, aku teringat obrolan dengan rekan dokter yang bertugas di garda depan. Beliau bercerita betapa “nyeseknya” melihat anak-anak harus berjuang di ruang PICU atau NICU akibat penyakit yang sebenarnya sangat bisa dicegah.
Penyesalan orang tua di sana selalu datang terlambat, dan itu yang membuatku merasa harus terus “ngotot” berbagi edukasi.
Jebakan kata sembuh
Banyak yang berargumen, “Anak si A nggak divaksin sehat-sehat aja kok,” atau “Ah, Covid kan cuma kayak flu, nanti juga sembuh.”
Tapi jujur, kata “sembuh” itu sering kali menipu.
Di dunia medis, sembuh berarti nyawa terselamatkan. Tapi buat kita orang tua, apakah cukup hanya sampai di situ?
Mari kita bicara jujur soal Polio atau Campak. Mungkin anaknya sembuh, tapi kalau harus dibayar dengan kelumpuhan permanen atau kerusakan saraf yang membuat dia sulit beraktivitas seumur hidup, apakah itu yang kita sebut “baik-baik saja”?
Begitu juga dengan Long Covid. Banyak yang nggak sadar kalau setelah virusnya hilang, ada “oleh-oleh” berupa gangguan fokus, kelelahan kronis, atau masalah pernapasan yang bikin anak nggak bisa lari-larian bareng temannya dengan ceria.
Investasi kualitas hidup
Aku sering dibilang terlalu ngotot edukasi soal ini. Ya, aku memang ngotot. Bukan karena aku merasa paling benar atau orang tua paling sempurna, tapi karena aku peduli.
Aku takut kalau egoku atau kemalasanku mencari tahu fakta justru jadi penghambat kemudahan hidup anakku kelak.
Penyakit-penyakit ini, jika tidak dicegah, bisa menjadi hambatan besar bagi anak-anak kita untuk menjalani mimpinya saat mereka dewasa nanti.
Kualitas hidup bukan hanya tentang hari ini, tapi tentang bagaimana raga mereka mampu menopang masa depan mereka puluhan tahun mendatang.
Benteng pelindung sesama
Vaksin itu bukan cuma soal anakku, tapi soal anak-anak lain yang mungkin kondisinya nggak seberuntung anak kita.
Ada bayi yang terlalu kecil untuk divaksin, atau anak-anak pejuang kanker yang imunnya rendah. Saat kita memvaksin anak kita, kita sebenarnya sedang membangun benteng pelindung buat mereka juga. Inilah bentuk nyata ‘gotong royong’ dalam kesehatan
Ikhtiar di tengah ketidaksempurnaan
Aku sadar, aku bukan orang yang banyak amalnya. Maka dari itu, aku mencoba mengejar pahala jariyah melalui edukasi sederhana seperti ini. Aku ingin berbagi meski bukan harta.
Aku ingin ketika anakku tumbuh nanti, jalannya dimudahkan karena ibunya pernah berusaha membantu menjaga kesehatan anak-anak lain melalui informasi yang benar.
Edukasi bukan soal siapa yang paling pintar, tapi soal kasih sayang yang diwujudkan dalam bentuk kewaspadaan. Karena mencegah penyesalan di depan pintu PICU adalah kado terbaik yang bisa kita berikan untuk buah hati kita.
