Saat mendengar kata ringan, aku seperti terhipnotis. Seakan semuanya akan baik-baik saja, seakan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Padahal justru di situlah kewaspadaanku perlahan mengendur.
Ingat nggak, di awal pandemi dulu, pemerintah sering menyebut gejala Covid tergolong ringan. Sebenarnya selalu ada kalimat lanjutan, tetap waspada atau bisa menjadi berat pada orang dengan komorbid. Tapi bagi orang yang merasa dirinya sehat dan tidak punya komorbid, kalimat itu sering kali lewat begitu saja.
Karena yang tertanam di kepala adalah satu hal. Yang perlu khawatir itu mereka yang komorbid.
Kenyataannya tidak sesederhana itu. Aku melihat sendiri, orang yang merasa sehat pun tetap bisa mengalami kondisi berat, bahkan terancam nyawanya 😔
Tubuh yang kita kira baik-baik saja
Masalahnya, apa semua orang rutin melakukan medical check up (MCU) setiap tahun. Aku saja tidak.
Bukan karena tidak mau, tapi sering kali karena biaya. Hidup di zaman sekarang rasanya lebih fokus bertahan. Memastikan dapur tetap mengepul dan perut terisi. Upaya pencegahan seperti pemeriksaan rutin akhirnya menjadi sesuatu yang sulit dilakukan.
Kembali ke kata ringan itu.
Setelah sembuh, tubuhku tidak benar-benar pulih
Gejala ringan ternyata nggak menjamin tak ada efek setelahnya. Sepertinya, inilah bagian yang jarang diperingatkan.
Pengalamanku pribadi justru menjadi pengingat paling keras.
Aku merasa diriku sehat dan tanpa komorbid. Tiga kali terinfeksi Covid, gejalanya memang tergolong ringan. Tapi tahu nggak, enam bulan pertama setelah sembuh dari Covid pertama, tubuhku seperti bukan milikku sendiri.
Tubuh terasa tak bertenaga. Pinggul kananku sakit setiap kali berdiri lama. Padahal sebelumnya aku terbiasa baking berjam-jam sambil berdiri.
Setelah itu, berdiri sebentar saja rasanya seperti dipukul habis-habisan. Aktivitas sederhana terasa berat. Aku bisa terbaring di kasur tanpa tenaga.
Rasa lelah itu bertahan lama. Hampir satu setengah tahun aku mudah sekali kelelahan. Aku berhenti baking. Hingga akhirnya aku terinfeksi Covid untuk kedua kalinya.
Pada infeksi kedua, keluhan terasa lebih ringan. Mungkin karena saat itu aku sudah vaksin, sepertinya setelah booster. Aku bahkan lupa detail keluhan pasca sembuhnya, karena memang tidak seberat yang pertama.
Belajar bahwa ringan tidak selalu aman
Namun pengalaman ketiga kembali mengingatkanku. Tiga bulan pertama setelah sembuh, aku mengalami masalah gigi yang cukup mengganggu. Aku juga sering merasa keliyengan, tiba-tiba seperti orang kurang darah. Alhamdulillah tidak sampai pingsan, tapi cukup membuatku waspada.
Dari situ aku makin paham. Ringan itu bukan jaminan. Ringan bagi A tidak berarti ringan bagi B. Bahkan pada orang yang merasa sehat dan tidak punya komorbid.
Memaknai ulang kata ringan
Menurutku, kata ringan seharusnya menjadi peringatan, bukan penghiburan. Karena meski terlihat sepele di awal, dampaknya setelah sembuh bisa sangat beragam.
Sakit berulang yang dianggap hanya flu biasa bisa saja Covid berulang. Sistem imun yang terus bekerja tanpa jeda bisa kelelahan. Pada akhirnya, saat harus melawan kuman, tubuh tidak lagi mampu menjaga gejala tetap ringan. Yang ada, keluhan menetap dan menyiksa dalam waktu lama.
Aku paham, secara teori penyakit yang sudah banyak diteliti sering dikategorikan ringan. Dan orang yang menyebutnya ringan tidak sepenuhnya salah. Tapi tetap, kewaspadaan seharusnya tidak ikut menjadi ringan.
Karena yang benar-benar merasakan dampaknya adalah mereka yang mengalaminya. Dan dari pengalaman ini, aku belajar. Kata ringan tetap perlu diiringi sikap waspada. Agar kita tidak meremehkan sesuatu yang dampaknya bisa panjang dan diam-diam mengubah hidup kita.