Site icon MamaBocah

Anak Mudah Alergi setelah Sakit Virus

Tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku pikir semuanya sudah benar-benar selesai.

Ternyata belum.

Imunnya seperti belum pulih sepenuhnya. Virus yang kemarin itu seperti menguras habis tenaganya.

Aku menulis ini untuk mengingatkan diri sendiri bahwa ini bukan perkara sepele. Virus ini nggak main-main.

Saat sahur puasa hari kelima, tiba-tiba kakinya bentol-bentol seperti biduran. Awalnya hanya kaki kiri, lalu merambat ke kanan. Aku bingung. Dia hanya makan nugget buatan sendiri dan minum susu. Tidak ada makanan aneh.

Selama ini dia tidak punya alergi makanan, hanya sensitif debu dan udara dingin, itu pun jarang.

Keesokan harinya muncul lagi. Bahkan sudah terlihat sejak malam setelah minum susu.

Sejak itu aku hentikan dulu susunya.
Di situ aku sadar, tubuh kecil itu masih berjuang.

Sibuk berpikir konspirasi tapi lupa mencegah

Aku tidak lagi tertarik memperdebatkan virus ini dari mana. Atau sibuk dengan teori konspirasi elit global. Karena virusnya sudah ada. Dan dampaknya nyata, terasa di rumah sendiri.

Anakku sudah berusia 9 tahun saja seperti ini. Bayi-bayi dan anak-anak kecil mungkin yang paling menyedihkan. Sistem imun mereka belum matang, tapi sering kali merekalah yang menanggung akibat paling berat.

Ketika ada yang sakit, yang cepat disalahkan sering kali vaksin yang diberikan di usia mereka masih kecil. Seolah semua keluhan pasti karena itu.

Padahal kondisi seorang ibu selama kehamilan juga bisa berdampak pada janin. Jika selama hamil sering sakit atau terpapar infeksi, daya tahan tubuh anak setelah lahir bisa ikut terpengaruh. Faktor genetik, nutrisi, dan lingkungan juga berperan. Tidak sesederhana satu sebab lalu selesai.

Tak peduli lagi

Yang membuatku makin berpikir, sekarang masker tak lagi dianggap penting. Ibu hamil kontrol ke rumah sakit, ruang tunggu penuh, orang batuk pilek bebas tanpa penutup. Peluang penularan jelas lebih besar.

Kalau ibu terinfeksi, janin bisa terdampak. Lalu ketika anak lahir dengan daya tahan tubuh yang tidak optimal, lagi-lagi anak yang menderita.

Anak-anak tidak memilih untuk lahir dalam kondisi seperti itu. Mereka hanya menerima.

Karena itu bagiku, kewaspadaan bukan soal panik. Ini soal tanggung jawab.

Bukan soal menyalahkan, tapi soal menghadapi. Cegah semampunya, jaga sebisanya, daripada sibuk mencari kambing hitam ketika keadaan sudah terlanjur berat.

Semoga kita tetap waras melihat kenyataan. Dan semoga yang paling kecil di antara kita selalu dilindungi.


Exit mobile version