Aku membaca berita ketika Ketua IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, mengingatkan bahwa flu berat atau super flu pada anak dengan komorbid bisa berdampak lebih serius.
Dari situ, satu pertanyaan sederhana tapi mengganggu kepalaku dan teman-teman pun muncul. Alergi itu termasuk komorbid atau bukan?
Sebagai orang tua, aku sering dengar kata komorbid, tapi jujur saja, aku sendiri belum benar-benar paham artinya.
Alergi pada anak itu macam-macam. Ada yang alergi makanan, ada yang pilek alergi hampir tiap pagi, ada juga yang asma alergi. Kadang terlihat sepele, kadang juga bikin orang tua deg-degan, apalagi kalau anak sedang sakit flu.
Lalu muncul kekhawatiran, apakah anak dengan alergi otomatis lebih berisiko kalau terkena flu berat?
Dari beberapa sumber medis, alergi tidak selalu masuk komorbid.
Alergi baru dianggap komorbid kalau bersifat kronis dan memengaruhi kondisi tubuh, seperti asma alergi yang mengganggu pernapasan.
Artinya, tidak semua alergi otomatis membuat kondisi anak menjadi lebih berat saat sakit. Alergi ringan atau musiman biasanya tidak dihitung sebagai komorbid utama. Tapi tetap saja, setiap anak punya respons tubuh yang berbeda.
Tak cukup dengan label komorbid
Di titik ini, aku mulai sadar. Mungkin, yang paling penting bukan sekadar label komorbid atau bukan. Tapi seberapa peka kita sebagai orang tua membaca kondisi anak, dan seberapa cepat kita mencari pertolongan saat ada yang terasa berbeda.
Apakah napasnya berbeda, apakah lemasnya lebih lama, atau apakah ada gejala yang terasa tidak biasa.
Karena setiap anak punya ceritanya sendiri, dan setiap orang tua punya kecemasannya masing-masing.
Di titik ini, pikiranku melebar ke hal lain. Musim penyakit di sekolah rasanya seperti tidak ada ujungnya.
Flu datang bergantian, batuk belum sembuh sudah pilek lagi. Anak-anak tetap berangkat sekolah, sementara tubuh mereka perlahan terlihat lelah.
Aku bertanya-tanya, apakah ini juga tidak seharusnya menjadi warning? Bukan hanya untuk orang tua, tapi juga untuk sistem di sekitar anak-anak kita. Karena imun anak bukan mesin yang bisa dipaksa terus-menerus tanpa jeda.
Pendapatku
Aku ingin menyampaikan pendapat di sini. Belakangan, melihat semakin banyak anak, bahkan orang dewasa, yang mudah jatuh sakit, rasanya ada dampak yang lebih luas yang perlu kita perhatikan. Efek super flu ini sepertinya tidak hanya dialami anak-anak dengan komorbid saja.
Aku pernah menulis tentang drama imun. Memang, aku bukan tenaga medis. Tapi kondisi seperti ini rasanya tetap layak diperhitungkan. Ketika sistem imun terus bekerja keras dan kelelahan, sementara kita belum tahu apakah ada komorbid yang tersembunyi, bukankah itu juga berpotensi membahayakan?
Belajar waspada
Berita tentang super flu memang penting sebagai pengingat. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membuat kita lebih waspada tanpa panik berlebihan.
Karena pada akhirnya, setiap anak punya ceritanya sendiri, dan setiap orang tua punya kecemasannya masing-masing.
Yang bisa kita lakukan adalah terus belajar, bertanya, dan tidak ragu mencari bantuan medis saat hati kita merasa tidak tenang. Karena menjaga anak bukan soal menjadi orang tua yang paling tahu, tapi orang tua yang mau peduli dan peka.