MamaBocah

Melunasi Ngidam Steak yang Tertunda

imageBenar nggak sih, kalau ngidam nggak kesampaian anaknya jadi suka ileran? Ini termasuk mitos juga kah? Tapi, putri kecil sampai sekarang masih ngiler padahal udah 10 bulan lebih. Dulu pas hamil saya kepengen banget steak Abuba, tapi saya tahan-tahan dan memang ga diizinin suami, huhu…

Putri kecil memang belum tumbuh gigi juga sih. Bisa jadi ilernya karena mau tumbuh gigi. Kalau kata situs Ayahbunda, “Dan mengenai mitos ibu ngidam tidak terpenuhi itu tidak benar. Tidak ada hubungan antara air liur bayi dengan masa ngidam ibunya.”

Tapi, daripada saya disalahi terus anak ngiler karena ngidamnya nggak kesampaian, ya sudah pilih makan steak aja, hihi.. Mumpung sekaligus manfaatin kesempatan. Jarang-jarang makan ke Abuba. Untung papanya anak-anak mau dibujuk, alhamdulillah. Steak, i’m coming...

Saya ngidamnya makan steak Abuba di Cipete, Jakarta Selatan, dan langsunglah kami meluncur.. Sampai di lokasi, wah..wah..wah. Saya terkagum-kagum. Wuih, luas banget ya sekarang. Sepertinya terakhir saya ke Steak Abuba itu sekitar empat atau lima tahun. Wong dulu taruhan sama suami soal siapa presiden yang terpilih, masih SBY (periode kedua) atau ganti. Nah sekarang presiden SBYnya aja udah diganti lagi, hehe..

Mulailah jeprat jepret mengikuti tren. Ini tugas suami, soale saya nggak jago motret. Apalagi makanan, seringnya lupa foto dan langsung makan. Belum bisa ngikuti orang-orang yang foto makanan sekeren-kerennya sebelum disantap. Alasan bawa bayi sering saya jadikan tameng, hihi

Kami sekeluarga masuk lewat parkiran bawah dan naik ke lantai atas. Berhubung naik dari bawah jadi kesannya sudah di lantai dua, padahal sejajar sama ruangan yang di depan. Luasnya, saya nggak jago perkiraan luas ruangan deh. Pokoke kayak luasnya lapangan bola, hehe..

Di lantai baru itu, ada cendol dan martabak Abuba. Pilihannya jadi macam-macam. Berhubung niat awal steak, kami nggak mau tergoda beli jajajan lainnya.

Setelah menelusuri lantai baru itu, akhirnya kami duduk di depan saja yang dekat pintu masuk. Suasananya belum berubah, masih ciamik.. Serba cokelat.

Meja tebal yang sepertinya jati dengan kursi-kursi dengan bantalannya tanpa senderan. Modern dah, konsepnya restauran banget. Beda jauh sama Abuba zaman baheula yang hanya rumah biasa yang kecil dan sederhana.

Saat duduk, buku menu meluncur. Model buku menunya juga nggak kalah keren dengan logo sapi gemuk dan tulisan Abuba. Saat buka buku menu, halaman pertama yang terlihat itu sepertinya tingkat kematangan steak.

Kalau nggak salah rare, medium rare, medium well, dan well done. Saya lupa tingkatannya karena saya suka pilih yang well done. Padahal orang pilih tingkatan medium well. Cuma saya kok agak-agak gilo ngeliat cairan merah-merah yang katanya juicy 😀

Balik ke halaman berikutnya mulailah pilihan menu. Semua menu ada penjelasannya dan gambar sapi untuk pilihan steak. Jadi calon pelanggan nggak usah nanya, tenderloin, sirloin itu apa. Soale gambar sapinya itu ada penjelasanya. Gambar daging yang dipilih dibuat warna merah di dalam tubuh sapi.

Saya bingung pilih apa soale menunya makin banyak. Pilihan saya ke Sirloin Wagyu. Wagyunya dari Sapi Australia. Dulu saya ngidamnya memang wagyu 😀 Nah daging ini ada lagi tingkatan pilihannya, yang termurah kelasnya yakni 4-5 harganya Rp 155ribu per porsi. Yang sedang 6-7 (lupa harganya), dan yang paling mahal itu 8-9 harga sekitar Rp200ribuan.

Menu selanjutnya adalah ternderloin. Ini pilihan suami. Tenderloin juga ada pilihannya mau yang lokal, USA, atau NZ. Harga yang dipilih suami itu Rp 170ribu. Kalau nenek pesannya salmon steak, harganya sekitar Rp 70ribuan. Harga menu ini belum termasuk pajak ya.

Nggak cuma tiga menu itu, ada macam-macam lagi kayak T-bone, rib eye steak, lamb chop steak, chicken steak, kakap steak, dan bahkan sekarang ada pilihan menu untuk anak-anak. Jadi anak-anak nggak bakal mupeng kalau diajak makan steak. Sebenarnya, kalau gratis mau deh nyicipin satu-satu tapi beda-beda hari, ngooook…

Bahas menunya udah itu dulu, perut langsung kukuruyuk ini 🙁 di situsnya Abuba juga lengkap banget, saya ngeliatnya ngilerrrr. 

Setelah memilih menu, kami mengunggu lama juga. Ada kali 15 menit, nggak liat jam. Menu yang datang diawali minuman, baru selang beberapa lama spaghetti buat kakak. spaghettinya nggak seperti di foto menu. Pucet dagingnya kayak nggak pakai saus. Dan menu selanjutnya steak yang kutunggu-tunggu…

Ngeces pengen langsung santap, tapi biasa karena lagi suapin putri kecil saya belakangan saja. Biar suami dan nenek yang makan duluan.

Cuma, saat penantian menunggu semua selesai makan, ada tamu yang nggak diundang. Lalat hijau yang gede muter-muter di meja kami. Moga tak hinggap di steak pesananku yang masih dianggurin, secara lagi nggak sadar ada tamu tak diundang. Semua pada sibuk sendiri-sendiri.

Bener, bagi saya sebersih apapun itu restoran kalau ada lalat hijau masuk jadi minus. Kayaknya kedepannya perlu lilin deh. Dulu sepertinya ada lilin cair, sekarang saya nggak lihat. Namanya juga menu daging dan teman-temannya, tentu amis..

Belum lagi AC yang lagi ngadat. Secara ventilasi cuma dari pintu masuk, sementara pengunjungnya banyak. Gerah… Mungkin banyak yang mengeluh, akhirnya dikeluarkan blower besar. Lumayan dibanding nggak ada.

Setelah suami dan nenek selesai makan, kini giliran saya. Alhamdulillah… Pas potongan pertama masuk ke mulut, rasanya nyam..nyam…lembut dan saus barbeque khas Abuba yang dipanggang di atas arang aka charcoal grill terasa menyerap ke dagingnya. Yummy… Saya pun tak menambah saus apa-apa lagi karena sudah enyak..enyak..enyak… lumer deh ini makanan di lidah, hehe.. Alhamdulillah, nyicip steak lagi 🙂

Suap demi suap sukses mendarat di mulut saya dan steak beserta sayur-sayuran dan kentangnya ludes dalam seketika. Emak-emak kelaparan, hahaha..

Oya, ada pesan dari tetangga nenek. Kalau ngidam nggak kesampaian ada caranya pas makannya. Saya nggak mau syirik jadi nggak mau menjelaskan di sini walaupun saya penasaran juga, hehe..

Untuk minuman saya pilih jus tom and jerry. Ini perpaduan tomat, jeruk, dan stroberi. Jusnya enak, nggak terlalu manis pula. Cocoklah buat pendamping steak 🙂 kalau suami pilihnya chocolate milkshake, nenek pure orange, dan kakak pilih jus stroberi.


Setelah makan apa putri kecil sudah nggak ileran? Nah nggak tahu juga ya. Saya lihat hari ini masih ada, hehe… Tapi lumayan sudah kenyang 😀

Perlunya Musola

Nggak sadar waktu sudah magrib. Daripada pulang kena macet dan nggak kedapetan magrib, kami memilih solat di musola mungil di bawah dekat parkiran. Nuansanya hijau, ada tulisan kaligrafi dan di luar ada televisi yang memperlihatkan aktivitas umrah di depan Ka’bah.

Buat perempuan yang nggak bawa mukena jangan khawatir. Di lemarinya ada 10 mukena berwarna merah yang digantung. Harum pula, nggak bau apek seperti mukena di musola pada umumnya.

Untuk lemari cowok juga ada sarung atau pakaian seperti baju koko (kalau nggak salah lihat).

Pas kami hendak solat, jamaah kloter pertama telah selesai dan ada satu pemandangan yang menarik buat saya. Seorang pria berkopiah dan mengenakan koko putih bemotif disalami karyawan yang selesai solat. Ternyata, pria itu adalah H Abu foundernya Abuba. Oooo…saya baru lihat orangnya. *nggakgaul

Exit mobile version