Anak takut ujian susulan? Simak tips orang tua agar anak tetap semangat, aman, dan kesehatan anak terjaga saat menghadapi ujian susulan di sekolah.

Kenapa anak takut mengikuti ujian susulan?
Sejak kelas 2 SD, anakku sering ikut ujian susulan karena sakit. Awalnya, ia sering mengungkapkan rasa takutnya:
“Nanti aku sendirian ujiannya, Ma.”
“Nanti aku diliatin guru terus nggak…”
Rasa takut ini wajar. Anak-anak sering merasa cemas menghadapi situasi berbeda, terutama jika mereka belum sepenuhnya siap atau masih sakit.
Pentingnya memperhatikan kesehatan anak
Beberapa orang tua kadang memaksa anak masuk sekolah meski sedang sakit, dengan alasan: “Sebentar saja, nggak apa-apa.”
Padahal, bagi anak yang sakit, waktu sebentar bisa terasa sangat panjang. Pikiran dan tubuh anak bisa cepat lelah, bahkan untuk menyelesaikan hal yang biasanya mudah. Menjaga kesehatan anak saat menghadapi ujian susulan harus menjadi prioritas utama. 🫣
Pengalaman anakku saat kelas 4 SD
Yang paling berat adalah saat kelas 4, ketika anakku harus mengejar susulan 12 pelajaran sekaligus. Sekolah hanya menyediakan waktu 2 hari untuk susulan dan remedial, sehingga anak merasa tertekan.
Aku sempat bertanya kepada wali kelas: “Kalau harus 6 pelajaran sehari, saya nggak setuju.”
Alhamdulillah, wali kelas memberikan solusi: anakku boleh menyelesaikan susulan secara bertahap setelah masuk sekolah lagi usai pembagian raport. Jadi tak terburu-buru. Ini berarti anak tidak ikut terima raport pada term tersebut. Tawaran ini membuatku lega dan anak tetap tenang.
Tips menghadapi anak yang takut ujian susulan
- Dengarkan keluhannya: Jangan remehkan rasa takut anak.
- Bicarakan solusi dengan guru: Pastikan ada kesepakatan soal jadwal susulan.
- Jaga istirahat dan kesehatan: Anak yang sehat lebih fokus saat ujian.
- Berikan dukungan dan motivasi: Alih-alih menekan, yakinkan anak bahwa ia mampu.
Kesimpulan
Takut menghadapi ujian susulan itu wajar bagi anak-anak. Peran orang tua adalah menenangkan, mendukung, dan memastikan anak tetap sehat. Memaksa anak hanya akan membuatnya stres.
Dengan pendekatan yang tepat, anak bisa menyelesaikan ujian tanpa tekanan berlebihan, tetap sehat, dan belajar percaya diri menghadapi tantangan.