Aku menemukan sebuah akun yang memposting cuplikan podcast. Seorang artis cantik menceritakan fase retak dalam hidupnya, ketika kesedihannya seolah tak diakui hanya karena ia punya uang.
Ada image yang sering melekat di masyarakat, kalau seseorang punya uang, maka kesedihannya dianggap bisa ditutupi. Berbeda dengan mereka yang tak punya uang, kalau sedih, ya sudah, mati gaya.
Padahal inti dari semuanya bukan soal ada atau tidaknya uang. Perasaan sedih bisa dialami siapa saja. Bahkan orang yang dianggap tajir pun tetap manusia, tetap punya perasaan, tetap bisa terluka.
Lantas, apa karena dia kaya lalu tidak boleh sedih?
Uang memang bukan segalanya. Ada juga yang bilang, dengan uang kita bisa melakukan segalanya. Tapi ada satu hal yang sering dilupakan, kesedihan tidak selalu hilang hanya karena uang.
Kesedihan itu emosi, bukan status ekonomi.
Sedih bukan hak istimewa orang miskin, dan bukan larangan bagi orang kaya.
Emosi muncul karena kehilangan, penolakan, luka batin, atau rasa tidak dimengerti, hal-hal yang tidak bisa dibeli. Uang memang bisa membuat hidup lebih nyaman, tapi tidak otomatis membuat hati kebal.
Emosi adalah pengalaman manusia, bukan laporan keuangan.
Ketika seseorang merasa sedih, bisakah kita cukup mendengarkan saja? Tanpa menambah beban dengan penilaian, tanpa menyelipkan kalimat seperti, “Kamu harusnya bersyukur, kamu kan punya segalanya.”
Saat orang sedang sedih, tak ada salahnya mendengarkannya. Bukan menambah kesalahannya. Bukan mengingatkan bahwa hidup orang lain lebih susah.
Sering kali, seseorang bukan membutuhkan solusi, bukan juga pengingat tentang privilege, tapi pengakuan sederhana, “Oh, ternyata sakit ya rasanya.”
Validasi yang sederhana justru kerap lebih menyembuhkan daripada nasihat yang panjang.
Ketika seseorang bercerita lalu yang mendengar membalas dengan kalimat, “Tapi kamu kan masih punya uang,” itu bukan menguatkan.
Niat menenangkan, padahal menutup ruang
Banyak orang merasa sedang menenangkan, padahal tanpa sadar sedang menutup ruang cerita. Kalimat itu terdengar seperti, “Perasaanmu nggak valid karena hidupmu kelihatan enak.”
Padahal bersyukur dan bersedih bisa hadir bersamaan. Seseorang bisa merasa beruntung, sekaligus hancur di waktu yang sama. Dua hal itu tidak saling meniadakan.
Mungkin masalahnya bukan pada siapa yang lebih menderita, tapi pada kebiasaan kita membandingkan penderitaan. Kita terlalu cepat menakar luka orang lain dengan standar hidup kita sendiri. Seolah-olah kesedihan harus lolos seleksi moral dulu untuk dianggap layak.
Setiap orang punya masalahnya masing-masing. Bukan berarti yang tidak punya uang adalah yang paling menderita, dan bukan pula berarti yang punya uang tidak boleh merasa sakit.
Empati tidak butuh syarat. Mendengarkan tidak akan mengurangi rasa syukur