Menulis Pelan di Ruang Kecil

Banyak orang sekarang lebih nyaman menulis di media sosial. Serba cepat, singkat, dan langsung lewat di layar.

Sementara aku masih betah di blog. Aku belum siap dengan pergerakan yang terlalu cepat. Aku lebih suka yang pelan. Apa itu salah?

Kalau aku menjawab sendiri, tentu tidak. Setiap orang punya caranya masing-masing.

Aku menulis karena aku mau. Menulis yang kumaksud adalah mengetik di blog.

Tulisan-tulisan ini sebenarnya adalah caraku untuk mengingat diri sendiri, kalau aku berbeda pendapat dengan orang lain, aku tidak salah. Dan di saat yang sama, ketika ada orang lain yang berbeda dariku, mereka pun tidak salah.

Hanya saja, aku sering melihat di negeri ini, menerima perbedaan masih terasa sulit. Kita terbiasa ingin seragam, ingin cepat sepakat, ingin semua berjalan di jalur yang sama.

Suamiku pernah bilang, “Kalau blog nggak dishare, siapa yang baca?”

Awalnya aku pun membagikan link tulisan ke media sosial. Tapi ternyata itu malah membuatku kepikiran. Kok nggak ada yang lihat ya 😆 Atau kalau ada, jumlahnya sedikit.

Dari situ aku mulai paham. Media sosial memang tempat orang singgah sebentar. Orang melihat untuk yang singkat, yang ringan, yang bisa dicerna cepat. Sementara tulisanku sering kali terlalu berat untuk dibaca dalam waktu singkat.

Aku menulis untuk menyampaikan apa yang kupikirkan, karena sering kali aku kesulitan mengutarakannya secara langsung. Kadang bukan karena tak berani, tapi karena aku sendiri bingung harus menyampaikannya di mana.

Media sosial bukan ruangku. Terlalu besar. Terlalu ramai. Terlalu cepat.

Aku butuh ruang yang kecil, tapi cukup. Cukup untuk mencurahkan pikiran tanpa harus berteriak. Cukup untuk jujur tanpa takut harus selalu disukai.

Aku menulis bukan untuk mengejar ramai. Tujuanku sederhana: berbagi pengalaman dan pandanganku. Jika ada yang merasa cocok, aku senang. Jika tidak, aku nggak mau menjadikannya beban.

Menjadi berbeda nggak salah. Justru dari perbedaan, kita belajar mengenal banyak hal termasuk belajar menerima bahwa hidup nggak hanya punya satu cara untuk dijalani.

Blog menjadi tempatku bernapas. Pelan, tapi utuh.

Dan mungkin, itu sudah lebih dari cukup.