Anakku Remaja, Aku Pun Masih Belajar


Anakku mulai memasuki usia remaja. Si sulung, sebentar lagi 17 tahun. Belakangan, obrolannya nggak jauh-jauh dari pacaran.

Sebagai ibu, jujur aku belum siap. Aku termasuk ibu kolot. Aku minta supaya jangan pacaran dulu. Bukan karena ingin mengekang, tapi karena aku ngeri melihat pergaulan zaman sekarang.


Kalau lihat drama-drama di layar, gambaran pacaran hari ini terasa makin ke sini makin berani. Seolah apa yang belum halal jadi terasa wajar. Pacaran dianggap sudah boleh pegangan tangan. Padahal dari pegangan tangan itu bisa ke mana-mana. Hiks.

Hubungan badan sebelum menikah pun seperti bukan hal tabu lagi.

Aku tahu, kuncinya tetap ada di pondasi agama. Aku berharap dia jadi anak yang kuat imannya. Ingat bahwa apa pun perbuatan dia selalu dilihat Tuhan. Setiap langkah ada konsekuensinya. Salah melangkah, ada harga yang harus dibayar.

Di titik ini aku sering bertanya dalam hati. Kenapa jadi orang tua zaman sekarang terasa lebih berat. Tapi mungkin sebenarnya setiap zaman sama beratnya. Dulu dan sekarang sama-sama sulit, hanya beda tantangannya.

Kalau dulu, anak masih bisa digalakin. Sekarang digalakin malah bisa jadi nantang.

Teori tarik ulur itu apa masih berlaku. Jujur aku pun bingung.

Menjadi orang tua ternyata seperti sekolah tanpa kelulusan. Kita belajar terus, sambil jalan, tanpa benar-benar yakin apakah langkah kita sudah paling tepat.

Ada banyak buku parenting. Tapi hidup sebagai orang tua tidak selalu berjalan seperti teori. Buku mungkin memberi dasar. Selebihnya kita yang harus mengembangkan, menyesuaikan dengan kondisi dan karakter anak masing-masing. Tidak bisa saklek.

Dan mungkin, di situlah peran orang tua sebenarnya. Terus belajar, sambil berharap kita tidak terlalu salah melangkah.