Emosi Ortu Bikin Anak Sakit?

Kata orang, energi negatif yang terpancar dari seseorang bisa berpengaruh buruk ke sekitarnya. Bahkan ada yang percaya, pengaruh itu bisa muncul dalam bentuk sakit-sakitan. Termasuk ketika orang tua sering marah-marah, anak yang disebut-sebut jadi korbannya. Fakta atau mitos?

Ilustrasi by Gemini

Mirip dengan kondisi sekarang, ketika penularan penyakit terasa begitu masif. Anak jadi sering sakit, lalu ada saja komentar yang mengaitkannya dengan orang tua yang overthinking atau terlalu menjaga.

Seolah-olah sakit anak bukan lagi soal virus atau lingkungan, tapi semata akibat kecemasan orang tuanya.

Komentar seperti ini memang sulit dikontrol, apalagi di ruang publik. Padahal, kalau kita mau berpikir sebentar sebelum berkomentar, atau melibatkan sedikit empati, mungkin kalimat yang keluar akan lebih hati-hati.

Tidak semua hal perlu dihubungkan dengan kesalahan personal, apalagi ketika yang dibicarakan adalah kondisi kesehatan anak.

Saya juga sering mendengar anggapan bahwa emosi memberi energi negatif yang bisa berdampak ke sekitar, termasuk ke anak. Bisa jadi, emosi orang tua memang memengaruhi suasana rumah.

Anak yang tumbuh dalam ketegangan bisa merasa tidak nyaman, sulit tenang, atau ikut lelah secara emosional.Tapi satu hal yang perlu diingat, penyakit menular tetap menular karena ada penyebab yang nyata.

Ada virus, ada bakteri, ada proses penularan yang jelas. Musim penyakit, lingkungan sekolah, daya tahan tubuh anak, semuanya lebih masuk akal untuk diperhitungkan daripada menyederhanakan sakit sebagai akibat emosi orang tuanya semata.

Menyalahkan orang tua atas sakit anak sering kali hanya menambah beban. Padahal, orang tua yang anaknya sering sakit sudah cukup lelah, cukup cemas, dan cukup merasa bersalah.

Mungkin yang lebih dibutuhkan bukan penilaian, tapi pengertian. Karena mengasuh anak bukan tentang siapa yang paling sempurna, melainkan siapa yang terus berusaha bertahan dan belajar di tengah keterbatasan.