Bukan Bakat tapi Terbiasa

Aku waktu kecil nggak pernah tahu punya bakat apa. Pernah suatu hari lihat acara di televisi tentang bikin cake. Kelihatannya seru dan mudah. Aku sampai minta mama beliin bahan-bahannya. Setelah semua ada, aku coba bikin sendiri.

Cake-nya jadi. Tapi bentuknya jauh dari cantik seperti di televisi. Sejak itu aku kapok. Dalam pikiranku waktu itu, usaha sudah maksimal tapi hasilnya nggak memuaskan. Kesimpulanku sederhana. Membuat cake itu sulit dan sepertinya bukan bakatku.

Beranjak dewasa, aku masih nggak tahu apa bakatku. Saat bekerja, aku merasa aku bekerja lebih karena tuntutan. Aku dituntut membuat laporan dengan cepat, merangkainya dalam kalimat yang mudah dipahami. Awalnya berat sekali. Menemukan kalimat pembuka saja bisa bermenit-menit. Menulis bukan hal yang mudah. Tapi lama-kelamaan, aku terbiasa. Bukan karena tiba-tiba berbakat, tapi karena setiap hari harus dijalani.

Saat pandemi COVID datang dan semua orang lebih banyak di rumah, aku jadi sering melihat media sosial. Banyak konten masak dan baking. Dari situ aku tertarik membuat roti. Percobaan pertama belum memuaskan. Bentuknya masih berantakan, tapi rasanya enak. Itu cukup bikin aku penasaran untuk mencoba lagi.

Dari roti, aku lanjut tertarik ke sourdough. Waktu itu rujukan resep sourdough masih sangat terbatas. Kalau tidak salah, hanya beberapa chef yang rutin berbagi. Aku sering menonton konten Chef Aston, lalu Chef Yohanes, dan terakhir Icenguik. Dari mereka aku belajar membuat biang sourdough. Dan pada 1 Mei 2020, lahirlah si Bekti.

Baking lama-lama jadi seperti candu. Aku bahkan nekat berjualan, meski sadar hasilnya belum maksimal. Alhamdulillah, teman-temanku suka. Dari situ semangatku tumbuh pelan-pelan.

Di awal pandemi, aku belajar banyak hal. Bukan cuma baking, tapi juga menjahit dan melukis. Namun dari semua itu, yang bertahan sampai sekarang hanya baking. Ada keinginan ikut kursus, tapi apa daya biayanya belum cukup. Jadi aku tetap belajar otodidak, dari media sosial dan buku.

Dari semua pengalaman itu, aku belajar satu hal. Seseorang bisa menguasai suatu bidang bukan semata karena bakat. Mungkin orang yang berbakat bisa belajar lebih cepat. Sementara aku belajar bikin roti terbilang lama. Sampai sekarang pun masih terus belajar.

Kalau ada yang bilang aku bisa karena berbakat, rasanya itu nggak sepenuhnya benar. Aku lebih percaya, seseorang bisa karena telaten. Bisa karena terbiasa. Karena mau mencoba lagi meski pernah kecewa.

Dan mungkin, di situlah bakat sebenarnya tumbuh.

Selama ini mungkin kita terlalu sibuk mencari bakat, sampai lupa memberi waktu pada diri sendiri untuk bertumbuh. Padahal, bisa jadi bakat bukan sesuatu yang langsung terlihat sejak kecil, tapi sesuatu yang lahir dari kesabaran, dari kegagalan, dan dari keberanian untuk mencoba lagi.

Aku memang bukan tipe yang paling cepat belajar, tapi aku bertahan. Dan dari situlah, sedikit demi sedikit, aku menemukan diriku sendiri.