Antara Selembar Masker dan Dilema Menghambat Langkah Anak

Obrolan di grup percakapan sering membuatku merenung. Dalam beberapa tahun terakhir, aku belajar bahwa setiap keluarga memiliki cara masing-masing dalam menjaga kesehatan. Di tengah banyaknya penyesuaian setelah masa pandemi, keluargaku memilih untuk tetap menggunakan masker dalam aktivitas tertentu.

Pilihan ini bukan dilandasi rasa takut berlebihan, melainkan bentuk kehati-hatian. Bagiku, kesehatan adalah modal penting agar anak dapat belajar, tumbuh, dan beraktivitas dengan nyaman.

Seiring waktu, aku menyadari bahwa pilihan ini terkadang berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di lingkungan sekitar. Di sinilah aku belajar untuk terus berkomunikasi, sekaligus belajar memahami sudut pandang satu sama lain.

Belajar menyampaikan pilihan sebagai orang tua

Setiap pergantian tahun ajaran, aku kembali menyampaikan kepada wali kelas bahwa anakku akan tetap menggunakan masker di sekolah. Pilihan ini masih sepenuhnya menjadi tanggung jawab orang tua, mengingat usia anak yang belum dapat menentukan keputusan kesehatan secara mandiri.

Biasanya aku hanya menitipkan pesan sederhana, agar pihak sekolah dapat menginformasikan kepada kami jika ada kegiatan tertentu yang mengharuskan siswa melepas masker. Aku menyampaikan ini bukan untuk meminta perlakuan khusus, melainkan sebagai bentuk komunikasi agar semua pihak merasa nyaman.

Aku memahami bahwa sekolah memiliki banyak pertimbangan dalam menyusun kegiatan dan aturan. Karena itu, bagiku komunikasi yang terbuka menjadi jembatan penting agar kebutuhan anak dan kebijakan sekolah dapat berjalan beriringan.

Di antara perlindungan dan tumbuh kembang anak

Sebagai orang tua, wajar jika muncul pertanyaan-pertanyaan yang mengendap di kepala. Bagaimana caranya melindungi anak tanpa membatasi pengalamannya? Bagaimana memastikan anak tetap merasa diterima, meski memiliki kebiasaan yang berbeda?

Aku belajar bahwa kehati-hatian tidak selalu berarti menghalangi. Justru dengan lingkungan yang saling memahami, anak bisa belajar bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan pilihan yang patut dihargai.

Menjadi orang tua yang memilih jalan berbeda di dalam sistem sekolah memang tidak selalu mudah. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, melangkah maju takut anak terkena imbasnya, sementara diam saja membuat dada terasa sesak karena prinsip yang kita pegang perlahan tergerus.

Ada perasaan bahwa suara kita mungkin tidak akan didengar, disertai kekhawatiran anak akan diperlakukan berbeda. Kombinasi perasaan inilah yang sering kali membuat orang tua memilih diam, meski di dalam hati masih menyimpan banyak pertanyaan dan kegelisahan.

Mengapa komunikasi yang sehat itu penting

Aku menuliskan pengalaman ini di mamabocah.com sebagai ruang berbagi, bukan untuk menghakimi atau menilai siapa pun. Bagiku, berbagi cerita adalah salah satu cara untuk saling belajar dan membuka percakapan yang lebih hangat.

Pada akhirnya, ketika seorang anak kurang sehat, orang tua dan sekolah berada di posisi yang sama. Yakni, sama-sama ingin anak kembali pulih dan dapat belajar dengan baik. Di titik inilah, saling pengertian menjadi kunci.

Dalam proses menata pikiran, aku sempat mempertimbangkan untuk menyampaikan pilihan ini secara tertulis agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Maka aku menyusun draf surat berikut.


Surat Pernyataan Orang Tua

Perihal: Pernyataan Pilihan Protokol Kesehatan Pribadi Siswa

Kepada Yth. Bapak/Ibu Wali Kelas serta Pihak Manajemen Sekolah

Dengan hormat,

Melalui surat ini, saya selaku orang tua dari:

  • Nama Siswa: …
  • Kelas: …

Dengan ini ingin menyampaikan bahwa kami, sebagai keluarga, menerapkan pilihan protokol kesehatan tertentu demi menjaga kenyamanan dan kesehatan anak kami selama mengikuti kegiatan di sekolah.

Anak kami akan tetap menggunakan masker selama berada di lingkungan sekolah, baik di dalam maupun di luar ruangan. Kami mohon dukungan Bapak/Ibu guru agar anak kami tetap dapat menjalankan pilihan ini dengan nyaman.

Apabila terdapat kegiatan yang mengharuskan siswa melepas masker, kami mohon kiranya pihak sekolah dapat menginformasikannya kepada kami terlebih dahulu, agar kami dapat menyiapkan anak dengan baik.

Jika suatu kegiatan mewajibkan lepas masker tanpa pengecualian, kami berharap anak kami dapat diberikan izin untuk tidak mengikuti kegiatan tersebut atau memperoleh alternatif kegiatan lain yang tetap mendukung proses belajar.

Pilihan ini kami ambil sebagai bentuk tanggung jawab orang tua dalam menjaga kesehatan anak, sekaligus sebagai upaya untuk tetap mendukung kegiatan sekolah secara harmonis.

Atas perhatian dan kerja sama Bapak/Ibu, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami, Orang Tua/Wali


Menuliskan semua ini membuatku sadar bahwa kehati-hatian dan komunikasi tidak harus saling meniadakan. Keduanya justru bisa berjalan berdampingan, selama disampaikan dengan niat baik dan saling menghargai.