Anak Mudah Alergi setelah Sakit Virus
Tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku pikir semuanya sudah benar-benar selesai. Ternyata belum.
Kisahku Guruku
Tiga minggu setelah keluar dari rumah sakit, aku pikir semuanya sudah benar-benar selesai. Ternyata belum.
Pernah dengar orang bilang, ‘COVID sudah herd immunity”? Tapi makin aku baca, klaim itu perlu dipikirkan lagi. Bungsu tertular lagi, dan beberapa orang kaget, seakan-akan aneh kok masih kena COVID. Banyak yang beranggapan, “Ah, kan cakupan vaksin sudah tinggi, pasti herd immunity tercapai.” Padahal, faktanya, tidak sesederhana itu.
Belakangan ini, tiap kali aku membuka media sosial, rasanya ada sesak yang muncul di dada. Bukan karena urusan domestik yang nggak habis-habis, tapi karena melihat narasi-narasi yang kembali meragukan pentingnya imunisasi.
Jujur, ini POV-ku ya. Ada rasa sesak yang tertinggal setelah melihat bagaimana sebuah sistem penilaian bekerja belakangan ini. Khususnya, saat aku melihat anak-anak seolah “dihukum” secara nilai hanya karena mereka (dan kita sebagai orang tuanya) memilih untuk tetap bertanggung jawab menjaga kesehatan. Kenapa ya, di tengah keramaian, pilihan untuk tetap bermasker malah dipandang sebelah mata?
Dulu dokter anakku berkata, anak asma nggak boleh terlalu bahagia atau terlalu sedih. Aku bingung apa kaitannya. Kupikir itu hoax, ternyata ada penjelasannya secara medis. Mungkin dokter bisa mengoreksinya.
Tulisan ini kusimpan dalam blog sebagai pengingat momen berharga saat aku dan anak perempuanku bekerja sama. Ada rasa sedih yang terselip, tapi di dalamnya tersimpan pelajaran yang sangat mahal.
Dulu, aku sering banget merasa gemas atau bahkan kesal kalau melihat orang yang seolah nggak peduli sama kesehatan. Padahal kita semua tahu, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Pakai masker misalnya, sekarang pilihannya banyak, harganya pun sudah jauh lebih terjangkau. Kalau alasannya sesak, bukannya kalau sudah sakit rasanya bakal jauh lebih sesak?
Belakangan ini, aku sering merenung saat mendengar orang-orang begitu riuh menyalahkan pemimpin atau pemerintah. Katanya, mereka tidak punya empati. Katanya, mereka abai dan tidak peduli pada rakyat kecil. Memang benar, kritik itu perlu. Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiranku, bukankah pemimpin adalah cerminan dari rakyatnya?
Ada satu hal yang mengganjal di hati belakangan ini. Seringkali aku bicara soal tanggung jawab dan bagaimana kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Tapi kenyataannya, di balik layar, aku masih berhadapan dengan tembok besar bernama, birokrasi.
Sudah lima hari ini rumahku terasa sunyi, namun pikiranku justru sangat bising. Sebagai ibu dari anak-anak yang memiliki riwayat asma, setiap napas mereka adalah hal yang paling berharga bagi aku. Itulah mengapa, hingga hari ini, aku masih memilih untuk tetap waspada, tetap menjaga jarak, dan tetap mengenakan masker. Namun, yang paling melelahkan ternyata bukan menjaga […]