Tak Ada Perayaan Sunat

Sunat pada anak bungsuku nggak jauh berbeda dengan kakaknya. Kami nggak mengadakan pesta sunat seperti orang pada umumnya.

Foto by Mamabocah


Entah itu dianggap wajib atau tidak, bagiku tidak merayakan bukan berarti kami, orang tuanya, tidak sayang atau tidak menghargai proses yang dijalani anak.

Apalagi sunat ini dilakukan karena kondisi kesehatan, datang secara dadakan, belum cukup persiapannya.

Dulu aku berpikir, sunat selalu identik dengan pesta. Ternyata ketika ia hadir karena alasan kesehatan, maknanya berubah total.

Anak pertamaku, pada 14 tahun lalu, juga disunat bukan karena kesiapan usia, melainkan karena kondisi kesehatan. Saat itu tidak ada pesta, tidak ada perayaan.


Ketika anak bungsu menjalani hal yang sama, aku memilih untuk tetap pada sikap yang sama. Mungkin ini menjadi salah satu alasan   karena ingin adil. Agar kelak tidak ada hati yang merasa dibandingkan.

Foto by Mamabocah

Pada sebagian orang mungkin menganggap tidak ada pesta berarti tidak ada perayaan. Tapi bagi kami, hari itu bukan tentang dirayakan, melainkan diselamatkan.

Setiap keluarga punya cara sendiri mencintai. Dan hari itu, cara kami mencintai adalah dengan hadir sepenuhnya.

Dalam kondisi perekonomian seperti sekarang, aku juga sempat berpikir apakah mengundang orang ke pesta sunat justru bisa menjadi beban. Meski niatnya hanya selamatan, sering kali tetap ada harapan anak membawa pulang uang.

Di zaman sekarang, perkara sepuluh ribu rupiah pun bisa terasa berat bagi sebagian orang. Aku tak ingin undangan yang sejatinya untuk berbagi kebahagiaan dan rasa syukur justru berubah menjadi beban bagi tamu.

Tak merayakan bukan berarti kami tidak bersyukur. Rasa syukur, kupikir, bisa disampaikan dengan banyak cara, tak harus selalu lewat selamatan yang mengundang banyak orang.


Lagi pula, aku termasuk ibu yang kurang nyaman dengan keramaian, terutama karena membuka peluang penularan penyakit.

Beginilah caraku memaknai syukur, tanpa pesta, namun penuh perhatian.