Tanda Tanya saat Pilihan-pilihan Tak Terlihat


Dulu, aku sering banget merasa gemas atau bahkan kesal kalau melihat orang yang seolah nggak peduli sama kesehatan. Padahal kita semua tahu, mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Pakai masker misalnya, sekarang pilihannya banyak, harganya pun sudah jauh lebih terjangkau.

Kalau alasannya sesak, bukannya kalau sudah sakit rasanya bakal jauh lebih sesak?


Aku sering bertanya-tanya dalam hati, kenapa ya masih banyak yang abai? Apa mereka nggak takut tertular, atau memang sudah terlalu pasrah sama takdir?

Sampai suatu pagi, saat aku sedang memberi makan kucingku, pertanyaan itu tiba-tiba terjawab dengan cara yang nggak terduga.

Sambil melihat kucingku makan, aku sadar, aku tahu banget dia butuh vaksin supaya nggak gampang sakit. Aku juga tahu dia butuh makanan yang jauh lebih bergizi supaya bulunya bagus dan imunnya kuat. Tapi, sampai detik ini, itu semua belum bisa aku lakukan. Alasan utamanya cuma satu yakni ekonomi.

Kondisi sekarang terasa jauh lebih berat dibanding dulu. Aku seperti dipaksa berdiri di persimpangan jalan dan ditanya, “Mana yang mau kamu prioritaskan? Keluarga manusiamu atau kucingmu?”

Mau melepas dia untuk diadopsi orang lain pun rasanya seperti lari dari tanggung jawab. Tapi di sisi lain, aku tahu orang lain pun mungkin sedang memikirkan hal yang sama beratnya denganku sebelum memutuskan untuk memelihara hewan baru.

Melihat perjuanganku sendiri yang sampai harus ‘berantem’ dengan isi dompet demi sebuah perlindungan kesehatan, aku jadi terpikir hal lain.

Momen ini benar-benar menampolku. Mungkin, ini juga yang dirasakan orang-orang di luar sana saat mereka tahu cara mencegah penyakit, tapi keadaan ekonomi membuat mereka nggak punya pilihan.

Saat uang seribu-dua ribu rupiah terasa sangat berarti untuk urusan perut, urusan masker atau pencegahan penyakit jadi terasa seperti “kemewahan” yang harus dikorbankan.

Ternyata, seringkali ini bukan soal nggak percaya Tuhan atau keras kepala. Ini soal mereka yang terpaksa memilih antara mencegah ancaman yang “mungkin” datang, atau bertahan hidup dari lapar yang “pasti” datang hari ini.

Tapi di sisi lain, aku jadi bertanya-tanya… kalau aku yang sedang sulit saja merasa terbebani secara moral karena nggak bisa memberikan yang terbaik untuk kesehatan, bagaimana dengan mereka yang sebenarnya ‘ada’?

Mampu tapi cuek

Ada orang yang kita lihat dari luar mampu, uangnya ada, aksesnya mudah, tapi justru memilih cuek. Apa mungkin karena mereka merasa ‘sakti’? Atau mungkin mereka sudah terlalu jenuh sampai rasa waspadanya hilang?

Rasanya ironis saat kesehatan jadi ‘kemewahan’ bagi satu orang, tapi jadi barang murahan yang disepelekan oleh orang lain.”

Padahal, penyakit nggak pernah tanya apa merek motormu atau seberapa tebal dompetmu sebelum dia datang menjangkiti.”

Prioritas yang tak terlihat

Kadang, kita juga terlalu cepat menilai dari apa yang terlihat di luar. Kita lihat seseorang tampilannya masih ‘oke’, motornya masih jalan, lalu kita membatin, ‘Masa beli masker atau vitamin saja nggak sanggup?’

Tapi sekarang aku sadar, penampilan luar nggak pernah bisa jadi jaminan isi dompet seseorang benar-benar aman.

Banyak orang yang terlihat ‘mampu’ sebenarnya sedang berjuang mati-matian menjaga martabatnya di tengah badai ekonomi.

Mungkin bagi kita harga masker itu receh, tapi bagi mereka, uang itu mungkin lebih berarti kalau dialihkan untuk bayar listrik yang sudah nunggak atau SPP anak yang belum lunas.

Pada akhirnya, kesehatan seringkali tergeser dari daftar prioritas bukan karena dianggap nggak penting, tapi karena ada kebutuhan lain yang sifatnya jauh lebih darurat dan nggak bisa ditunda lagi.

Ternyata, empati itu bukan cuma soal mengerti perasaan orang lain, tapi juga belajar untuk tidak menghakimi pilihan hidup mereka yang mungkin sedang berada di titik nadir yang tak terlihat.