Dulu dokter anakku berkata, anak asma nggak boleh terlalu bahagia atau terlalu sedih. Aku bingung apa kaitannya. Kupikir itu hoax, ternyata ada penjelasannya secara medis. Mungkin dokter bisa mengoreksinya.
Ternyata, emosi yang meluap, baik tawa maupun tangis, bisa mengubah pola napas dan memicu penyempitan saluran udara. Dan kemarin, aku melihat teori itu menjadi nyata pada anak perempuanku.
Seminggu belakangan ini, rumah kami penuh dengan guntingan kertas dan aroma lem. Anakku yang perempian begitu bersemangat menyiapkan mahkota emasnya. Dia browsing YouTube sendiri, membuat pola, sampai telaten melapisi setiap bagian dengan kertas emas. Dia sangat jujur dengan prosesnya. Dia ingin mahkota itu adalah murni hasil karyanya..
Namun, dunia luar kadang punya standar yang berbeda. Saat realita tidak sesuai dengan usaha jujur yang sudah dia lakukan, aku melihat gurat kekecewaan yang mendalam di wajahnya.
Dia tidak menangis histeris. Dia hanya diam. Menangis dalam sunyi sambil tetap memegang teguh prinsipnya. Namun, emosi yang “terkunci” itu rupanya langsung bereaksi ke fisiknya.
Malam itu juga, dia langsung tumbang. Batuk dan pilek menyerang. Ternyata benar, stres emosional bisa mengubah pola napas dan memicu penyempitan saluran udara pada anak asma.
Tubuh kecilnya merespons rasa kecewa itu dengan cara yang begitu nyata.
Dari kejadian ini, aku belajar lagi sebagai Ibu. Menjaga anak asma ternyata bukan cuma soal menjauhkan debu, menghindari udara dingin, atau memastikan kamarnya bersih. Lebih dari itu, ini tentang menjaga “ritme” hatinya agar tetap tenang.
Kadang kita lupa, luka di hati anak bisa bermanifestasi menjadi sakit di badannya.
Untuk anakku, Juara sejati Mama… piala mungkin bisa disewa atau dibeli, tapi karakter jujur dan tangguh yang kamu bangun lewat mahkota itu tidak akan pernah ada harganya.
Cepat sehat ya, sayang. sejati Mama.