Masuk musim ulangan akhir semester itu sudah cukup bikin banyak anak tegang. Eh, sekarang ditambah lagi musim tular-menular penyakit yang nggak kelar-kelar. Kombo paling chaos buat sekolah—dan orang tua.
Banyak anak yang sebenarnya masih tepar, tapi tetap ngotot masuk sekolah. Alasannya klasik tapi ngena: takut ujian susulan.
Iya, ujian susulan itu semacam “hantu” versi sekolah. Nggak keliatan, tapi dibayang-bayangin aja sudah bikin deg-degan.
Padahal zaman sekarang udah beda banget sama zaman kita dulu. Dulu tuh, yang izin nggak ikut ujian karena sakit biasanya cuma yang opname. Yang demam 38 derajat aja masih didorong sarapan bubur, minum obat, lalu tes matematika jam 8 pagi.
Sekarang? Kalau pakai pola yang sama, yang kasihan itu anaknya. Soalnya daya tahan tubuh anak-anak sekarang… ya begitulah. Makanan sehat, suplemen bertingkat-tingkat, jus buah tiap pagi, tetap aja kadang tubuh mereka butuh waktu buat benar-benar pulih.
Jadi, yuk kita ngomong jujur: memaksa anak sakit ikut ujian itu sama saja memperpanjang masa sakitnya.
Nggak percaya? Coba bayangin lagi ingus, batuk, kepala pening… lalu masih harus mikir rumus, belum hafalan IPS segambreng- yang entah kenapa harus dihafal semua.
Kita yang dewasa aja kalau lagi sakit cuma bisa rebahan sambil ngeluh, masa anak-anak disuruh fokus. Anak lagi sakit tetap masuk, siap-siap tertular penyakit lain. Jadi berat lho kalau kombo.
Sekolah, tolong… jadwal susulan yang manusiawi dong
Nah, ini bagian yang perlu banget dibahas.
Banyak sekolah kasih jadwal susulan cuma dua hari.
Dua. Hari.
Untuk mengejar semua pelajaran yang dilewatkan.
Kalau mata pelajarannya cuma 3 sih oke.
Tapi kalau 10? Atau 12?
Bayangin anak yang baru sembuh langsung dihadapkan 6 ujian dalam sehari.
Itu murid apa atlet marathon akademik, Pak Bu?
Baru sembuh, sudah disuruh sprint mikir seharian. Lah iya sakit lagi lah.
Kita ngerti, sekolah juga dikejar kalender pendidikan. Tapi masa iya kesehatan murid dikalahkan sama kotak-kotak kalender?
Ujian susulan itu bukan monster, serius deh
Sekolah juga perlu sounding dari awal bahwa ujian susulan itu bukan hukuman.
Bukan “jalan gelap penuh teror”.
Bukan juga “gerbang neraka yang bikin malu”.
Justru kadang lebih enak, lho.
Belajarnya bisa lebih tenang, fisik sudah pulih, kepala lebih adem.
Siapa tahu malah nilainya lebih bagus.
Orang tua juga perlu lebih jeli.
Kalau anak bilang “udah sehat kok”, coba cek lagi.
Itu sehat beneran? Atau sehat karena takut ketinggalan ujian?
Nah, sekarang bagian tambahan yang penting: Apa sih risiko mengizinkan anak sakit tetap ujian?
Mungkin anak kita selesai ujian dengan aman, pulang tanpa drama. Tapi… yakin nggak ada teman lain yang tertular?
Anak-anak sering lupa pakai masker, atau maskeran tapi copot pas makan snack. Satu ruangan, satu udara, satu kelas. Risiko tetap ada.
Kalau menulari temannya, lalu di rumah temannya ada kakek-nenek, bayi, atau anggota keluarga dengan komorbid, apa kita siap menanggung akibatnya? Bisa jadi sakitnya makin berat, bisa jadi harus opname, dan bisa jadi… ya, kita nggak pernah tahu seberapa parah penularan itu.
Jadi, sudahkah kita berpikir sejauh itu?
Atau jangan-jangan kita cuma mikir, “yang penting anakku selesai ujian dulu”?
Tanpa sadar, kita sedang mengajarkan anak bahwa “yang penting urusanmu beres, soal orang lain belakangan.”
Padahal ini bukan nilai yang ingin kita tanamkan buat masa depan mereka.
Dunia pendidikan memang lagi nggak baik-baik aja
Di tengah tekanan kurikulum, target nilai, dan budaya serba cepat, anak-anak sering jadi korban paling depan.
Kalau mereka drop, nanti yang disalahin siapa? Ya anak lagi. Cuma karena “nggak kuat”, “kurang usaha”, atau “kurang disiplin”.
Belum lagi kalau anak stres, dicap kurang beriman lah, ibunya terlalu memaksa. Atau anaknya main terus. Ah pusing lah.
Padahal kadang… mereka cuma butuh istirahat, pemulihan, dan sedikit pengertian.
Semoga sekolah makin bijak bikin kebijakan. Semoga orang tua makin peka baca kondisi anak. Dan semoga anak-anak kita bisa melalui musim ujian dan musim sakit ini dengan selamat, waras, dan tetap punya semangat.
