Anak bungsuku akhirnya disunat di usia 9 tahun 3 bulan atau tepatnya 30 Desember 2025.
Sebenarnya dia sudah minta sejak tahun lalu, tapi kami masih perlu menyiapkan biaya.
Tak disangka, justru di tengah rencana yang tertunda itu, muncul masalah benjolan di lehernya.
Saat kami konsultasi ke dokter bedah anak tentang rencana biopsi benjolan di lehernya, entah kenapa aku spontan menyeletuk, “Dok, bisa sekalian sunat nggak? Anak saya fimosis.”
Aku kira pertanyaan itu akan ditolak.
Ternyata dokter menyambutnya dengan sangat santai, “Boleh.”
Aku malah bengong. Yang langsung terpikir justru, dua luka sekaligus, apa nggak kesakitan?
Dokternya tenang saja, katanya nggak apa-apa, sekalian biar sekali tindakan.
Aku tanya ke anaknya. Dia mengangguk, mau saja.
Mungkin karena di kepalanya belum sampai membayangkan seperti apa operasi itu sebenarnya.
Singkat cerita, biopsi eksisi dan sunat pun dilakukan bersamaan. Pengalaman ini mengingatkanku pada kakaknya dulu. Anak sulungku disunat di usia 2 tahun karena fimosis juga. Bedanya, waktu itu dia sempat demam beberapa hari sebelum rencana fimosis.
Yang bungsu ini, alhamdulillah, nggak ada demam atau keluhan berarti.
Apa saja yang kami siapkan untuk sunat?
Sederhana sekali:
- 2 buah celana sunat (lungsuran kakaknya 14 tahun lalu, masih bagus)
Dokter kemudian memberikan cairan NaCl & suntikannya. Sekaligus salep
Aku jadi tersenyum sendiri melihat bagaimana dunia medis dan pendidikan kesehatan berkembang.

Dulu, waktu kakaknya disunat, rasanya boro-boro pakai NaCl. Entah aku yang ndablek, atau memang belum jamannya, yang kuingat hanya disiram air seadanya.
Sekarang, semuanya lebih rapi, lebih steril, dan lebih teredukasi.
Kita memang terus belajar, sebagai orang tua, dan sebagai manusia.
Udah cukup segini dulu catatan hari ini 😁