Pintu Berlapis dan Angka yang Merangkak Naik

Tujuh hari atau sekitar 168 jam. Bagi dunia, itu mungkin hanya satu lembar kalender yang terlewat. Tapi bagiku dan si bungsu, itu adalah perjalanan panjang di dalam ruangan berukuran 3×4 meter yang memisahkan kami dari hiruk-pikuk kehidupan di luar sana.

Foto by Mamabocah

Sekilas tak ada yang berbeda dengan dalamnya ruang isolasi. Hanya saja ruangan ini punya dua lapis pertahanan. Pintu luar menuju ruang perantara, dan pintu kedua barulah masuk ke dalam kamar isolasi. Di antara ruang itu, ada kaca lebar yang membuat siapa pun bisa melihat pasien di dalam, sebuah pemandangan yang membuatku merasa benar-benar terputus dari dunia luar.

Saat “ringan” menjadi berat

Foto by Mamabocah


Di sini aku belajar satu hal pahit, tidak ada penyakit yang “ringan”. Sebuah batuk yang dianggap remeh oleh orang di luar sana, bisa menjadi badai pneumonia bagi paru-paru anakku yang berkomorbid asma.

Di balik pintu isolasi ini, aku sempat marah pada keadaan, tapi di saat yang sama, aku belajar lebih banyak tentang arti empati.

Malam-malam yang panjang


Pada malam ketujuh, aku benar-benar berada di titik terendah. Lelah mengingat pilihan-pilihan yang sudah kuambil, lelah meminta anak menjaga diri agar tetap aman, dan lelah dengan sikap dunia luar yang terkadang abai.

Beban itu makin berat saat siang harinya dokter mengatakan aku harus menyiapkan tabung oksigen medis jika esok anakku ingin pulang. Saturasinya masih rendah setiap kali alat bantu oksigen dilepas.

Malam itu terasa begitu panjang. Aku hanya bisa menatap angka saturasi di layar monitor dengan jantung berdebar, menghitung setiap tarikan napasnya yang berat.

Di saat itulah, egoku sebagai ibu runtuh. Aku merasa gagal, aku merasa kecil, dan aku hanya bisa berserah.


Aku tahu semua ini takdir, dan aku tak bisa terus menyalahkan orang lain, meski di sudut hatiku tetap merasa ada kelalaian di sana.

Malam itu, aku hanya menggenggam harapan dan doa dari orang-orang sekitar agar esok ada keajaiban.

Keajaiban di hari ke-7


Tuhan punya cara yang unik untuk memberikan kado ulang tahun. Di hari ketujuh, saat aku sudah bersiap dengan segala skenario terburuk, termasuk sibuk mencari tempat sewa tabung oksigen, keajaiban itu datang.


Angka di layar oximeter itu merangkak naik. Paru-parunya menguat, napasnya kembali mandiri. Tanpa bantuan tabung yang kutakutkan itu, si Jagoan membuktikan kekuatannya.

Pulang sebagai pemenang


Hari ini kami pulang. Kami tidak pulang dengan tangan kosong, kami membawa pulang pelajaran tentang ketangguhan. Terima kasih untuk setiap doa yang terbang ke langit.


Dan untuk diriku sendiri, selamat ulang tahun. Kamu sudah lulus ujian tujuh hari ini.


Semoga cerita ini jadi pengingat bagi kita semua untuk lebih peduli pada kesehatan satu sama lain.

Foto by Mamabocah