Hidup Waras Sendirian di Tengah Lingkungan yang “Cacat”

Pernah nggak sih merasa kayak alien di planet sendiri? Kamu yang pakai masker paling rapat, kamu yang paling ribet bawa sanitizer, kamu yang paling overthinking soal ventilasi, tapi di sekelilingmu orang-orang santai kayak nggak ada apa-apa. Bawa anak sakit ke mal? Biasa. Batuk nggak ditutup? Sering. Bilang “semua takdir” tanpa ada ikhtiar? Apalagi 😮‍💨

Jujur, capek banget jadi orang yang “tahu” di tengah lingkungan yang memilih untuk “nggak mau tahu” alias denial. Saat kita mencoba jujur, kita malah dianggap penyebar kepanikan. Saat kita mencoba taat aturan, kita malah dianggap aneh.

​Akhirnya apa? Kita sampai di titik “Survival Mode”.

Titik di mana kita sadar bahwa sistem di sekitar kita sudah “cacat”. Kalau kita jujur sendirian tanpa dukungan sistem, kita cuma jadi tumbal stigma. Akhirnya, kita terpaksa main “kucing-kucingan” demi menjaga kewarasan mental dan ketenangan rumah tangga.

Lelah berjuang sendirian

Kita nggak salah kalau akhirnya memilih diam bukan karena abai, tapi karena lelah berjuang sendirian di lingkungan yang nggak punya standar keamanan yang sama.

Kita tetap punya “filter” sendiri. Selama anak bergejala, kita cut. Tapi kalau anak sehat, kita “masuk arus” sambil tetap waspada tingkat dewa di belakang layar.

Buat kamu yang merasa “sendirian” menjaga prokes dan logika di tengah kerumunan yang abai, I see you. You are not alone.

Jangan biarkan ketidakwarasan lingkungan bikin kamu meragukan kewarasanmu sendiri. Tetaplah jadi benteng buat keluargamu, meski benteng itu harus kamu bangun sendirian tanpa bantuan tetangga atau sekolah.