Doaku Tak di Lisan, tapi Bekerja di Tangan dan Kakiku

Di satu sudut rumah, aku melihat Ibuku. Bibirnya tak henti bergerak, melantunkan zikir yang seolah menjadi tembok tak kasat mata bagi dirinya. Beliau tenang, sangat tenang.

Di sudut lain, ada aku, sang anak yang sedang dalam survival mode, yang sibuk memastikan masker tak bercelah, dan menahan sesak karena harus jujur pada sistem yang kuanggap “cacat”.

Kontras ini sering membuatku bertanya, mana yang lebih ampuh menjaga kami? Zikir Ibu yang pasrah, atau “Jalan Ninja”-ku yang penuh perhitungan?

Namun, kegelisahan terbesarku muncul saat menoleh ke luar pagar. Di sana, aku melihat paradoks yang menyakitkan.

Ada orang-orang yang juga mengaku “pasrah pada Tuhan”, tapi dengan cara yang kuanggap keliru. Mereka berdoa kencang-kencang hanya untuk mendapatkan alasan agar tidak perlu peduli pada keselamatan orang lain.

Mereka berzikir, lalu melenggang tanpa masker saat sakit atau kurang fit, seolah-olah Tuhan adalah tameng pribadi yang mengizinkan mereka menjadi ceroboh. Mereka menggunakan doa untuk merobohkan sistem keselamatan bersama.

Rasanya seperti melihat seseorang yang sengaja mengebut di jalan raya tanpa helm, lalu berteriak, “Tenang saja, aku sudah berdoa supaya selamat!”. Atau seperti orang yang sengaja membiarkan pintu rumahnya terbuka lebar di tengah malam, lalu merasa sudah “bertawakal” agar tidak kemalingan tanpa mau repot-repot mengunci pintu.

Itu bukan iman, itu konyol. Dan yang lebih menyakitkan, kekonyolan mereka seringkali harus dibayar mahal oleh orang-orang yang justru sudah berusaha disiplin.

Bagi mereka, doa adalah alasan untuk lepas tanggung jawab. Padahal, doa seharusnya adalah penguat hati setelah helm terpasang rapat dan pintu sudah terkunci dengan benar.

Kejujuran yang tak lagi dihargai

Di saat aku memilih untuk jujur, mengakui ada virus di rumahku, menarik diri dari kerumunan, dan menjaga jarak agar orang lain tidak tertular, aku justru diperlakukan seolah-olah akulah “masalahnya”. Inilah titik di mana aku merasa menjadi tumbal stigma.

Kejujuran bukan lagi dihargai sebagai integritas, tapi dianggap sebagai gangguan bagi kenyamanan semu mereka. Mereka lebih suka hidup dalam kebohongan yang “bebas” daripada dalam kejujuran yang “terbatas”.

Sekarang, biarlah Ibuku tetap dengan zikirnya yang melangit, dan aku tetap dengan ikhtiarku yang membumi. Aku tidak lagi peduli pada stigma, karena di titik Survival Mode ini, satu-satunya validasi yang kubutuhkan adalah melihat anak-anakku bisa tidur nyenyak dan Ibuku tetap sehat.

Inilah yang ingin kuajarkan ke anak-anakku. Bahwa kesehatan itu tanggung jawab bersama, bukan pribadi. Pelajaran tentang kepedulian yang mungkin tidak mereka dapatkan dari orang-orang yang memilih abai di luar sana.

Pelajaran yang kupetik

Kejujuranku mungkin adalah doaku. Ketika aku memilih jujur dan menjaga jarak agar orang lain tidak tertular, itu adalah doa dalam bentuk perbuatan. Aku sedang berkata kepada Tuhan, “Ya Allah, aku menjaga nyawa hamba-Mu yang lain, maka jagalah keluargaku.”

Tak hanya itu, doaku seakan menjadi “nyawa” ikhtiar. Aku memang merasa doaku menguap karena terlalu sibuk dengan logika (prokes). Tapi sebenarnya, doaku itulah yang memberiku kekuatan untuk tetap disiplin dan jujur meski itu berat. Tanpa doa, aku mungkin sudah menyerah dan ikut-ikutan abai seperti mereka.

Dalam hati aku berkata, “Doaku tidak bersuara kencang seperti mereka, tapi doaku bekerja melalui tangan dan kakiku yang bergerak melindungi keluarga.”

Aku bukannya tidak memilih untuk tidak berdoa, tapi aku memilih untuk tidak menjadikan doa sebagai topeng untuk menjadi abai. Aku menjadikan doa sebagai fondasi untuk tetap menjadi orang yang bertanggung jawab.

Aku percaya bahwa Tuhan tidak hanya mendengar apa yang terucap, tapi juga melihat apa yang kita usahakan untuk menjaga sesama hamba-Nya.

Duniaku mungkin menyempit, tapi di dalam kesempitan itu, aku menemukan kejujuran yang utuh. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup.

Catatan ini adalah refleksi pribadi tentang bagaimana aku memaknai ikhtiar dan doa di masa sulit. Tidak bermaksud menghakimi cara orang lain beribadah, melainkan sebuah kejujuran tentang caraku menjaga keluarga