Catatan Usai Sebulan Negatif


Tanggal 27 Januari itu masih jelas di ingatanku. Hari ketika kamu masuk rumah sakit. Hari ketika angka saturasi menjadi sesuatu yang kutatap lebih sering daripada jam.

Hari ketika aku belajar menahan panik.
Sekarang, mendekati sebulan setelahnya, kamu sudah jauh lebih baik. Hasilmu negatif. Saturasimu normal. Oksigen yang kupinjam sudah kembali ke tempatnya.

Tanda-tanda itu

Secara medis, kamu sembuh.
Tapi sebagai ibu, aku masih belajar membaca tanda-tanda kecil.

Emosimu lebih mudah naik turun. Kamu lebih cepat marah, lebih gampang menangis. Kadang aku ikut terpancing, lalu menyesal.

Aku sadar, mungkin kamu pun sedang beradaptasi dengan tubuhmu sendiri.

Suatu pagi aku melihat kancing bajumu tak sejajar. Hal kecil yang mungkin tak berarti apa-apa. Tapi sejak masuk sekolah, kamu hampir tak pernah salah.

Saat sahur, kamu bangun dan langsung berwudhu. Kukira kamu terlalu semangat.

Ternyata kamu mengira itu sudah Subuh.
Aku tak ingin berlebihan. Bisa saja ini hanya lelah. Bisa saja ritme tidurmu berubah. Bisa saja hanya kebetulan.

Dan mungkin banyak orangtua lain juga sedang berada di fase yang sama, membaca tanda-tanda kecil sambil menenangkan diri sendiri.

Pelajaran untuk kami

Sebulan ini mengajarkanku satu hal.
Sembuh bukan berarti selesai.

Kadang tubuh sudah pulih, tapi ritmenya masih mencari keseimbangan. Dan hati seorang ibu, sering kali butuh waktu lebih lama untuk benar-benar tenang.

Aku tak ingin menjadi ibu yang panik. Aku hanya ingin menjadi ibu yang peka.

Dan kalau memang kamu masih butuh waktu, kita akan jalani bersama. Pelan-pelan.