Long COVID itu Mahal, Tapi Sayangnya Belum Banyak yang Tahu

Aku ikut dalam komunitas yang beberapa anggotanya mengalami gejala Long COVID.
Mereka bukan tipe yang gampang percaya info di luar yang belum terbukti secara ilmiah. Dari beberapa pesan yang aku tangkap, mengobati Long COVID itu tricky banget.

Ilustrasi by Gemini AI


Belum banyak dokter yang paham, bahkan sebagian tampak seperti buta informasi. Padahal banyak jurnal bertebaran, tinggal niat bacanya aja.

Yang bikin shock, biaya yang mereka keluarkan nggak sedikit untuk sekadar mengurangi gejalanya. Ya, mengurangi, bukan menyembuhkan.

Karena kalau sudah kena yang lumayan parah, kondisi ini bisa bertahan bertahun-tahun.

Beberapa orang sampai mengeluarkan ratusan juta bahkan miliaran rupiah. Nggak cuma berobat di dalam negeri, tapi juga ke luar negeri. Sayangnya, “sembuh” yang mereka harapkan tak kunjung datang. Bahkan saking desperate-nya, berbagai cara di luar medis pun belum berhasil.

Apa yang bikin pengobatan Long Covid mahal?

Yang bikin biaya pengobatan Long COVID mahal sebenarnya cukup unik. Dari yang aku lihat, mereka nggak minum obat untuk penyakit tertentu, tapi lebih ke suplemen.

Setiap gejala biasanya punya suplemen khusus, dan dosisnya cukup tinggi.

Sebelum mengonsumsi suplemen, mereka juga menjalani tes laboratorium untuk memastikan apa yang dibutuhkan tubuhnya. Aku nggak bisa membahas suplemen apa saja, karena itu sangat tergantung keluhan masing-masing orang.

Dan tahu nggak, suplemennya tuh bukan yang murah tapi muaaahaaal banget. Sepertinya produk impor, jadi ya wajar kalau total pengeluarannya bisa bikin geleng kepala.

Pencegahan versiku

Aku sadar diri cuma mengandalkan BPJS dan asuransi kantor suami yang nggak seberapa. Jadi caraku satu-satunya adalah mencegah supaya tetap sehat dan nggak sering tertular penyakit, salah satunya dengan bermasker.

Menjaga tubuh tetap kuat itu lebih penting daripada nantinya harus keluar biaya besar untuk mengobati sesuatu yang bisa dicegah.

Aku seorang ibu, dan kalau aku sakit, rumah dan semua isinya bisa ikut runyam. Jadi menjaga kesehatan itu nggak cuma soal diriku sendiri, tapi juga soal keluarga dan rutinitas sehari-hari yang harus tetap jalan.

Itu yang membuatku nggak bosan-bosannya berpesan, sayangi tubuhmu, jangan biarkan tertular terus. Kalau sudah kena Long COVID yang parah, uang seberapa pun nggak ada harganya. Apalagi kalau andalan kita hanya BPJS, ya… udah terima nasib aja