Hebohnya Penarikan Kecap RI di Jepang

Foto: Kaldi.co.jp
Foto: Kaldi.co.jp

Siang ini tiba-tiba suami heboh, kecap *** ditarik di Jepang karena berisiko picu kanker. Waduh..ngagetin aja. Maklum, suami makan apa aja pakai kecap. Saya bilang saja kecap di rumah pakai merek yang gambarnya burung. Terus suami minta saya cek, di kecap rumah ada siklamatnya juga nggak? Ya ampun, sampai begitu hebohnya sih 🙂

Suami kemudian kasih link dengan tulisan Jepang. Apa artinya ini? Ya sudahlah saya cari di google translate. Translate pakai google bahasanya juga ribet sih..

Jadi Kaldi Coffee Farm ngasih pengumuman tentang pembeli yang sudah terlanjur beli kecap manis di mereka dengan merek asal Indonesia itu untuk memgembalikannya dan akan dikembalikan uangnya.

Kaldi memang sebelumnya menjual kecap manis *** 275 ml. Namun menjadi heboh karena kecap tersebut katanya memakai pemanis buatan (Sodium Siklamat) sebanyak 0,02g.

Di Indonesia dan China pemakaian Sodium siklamat diperbolehkan asal dalam batas tertentu. Pemanis ini sebenarnya sudah banyak dibicarakan beberapa bulan lalu saat tercantum di makanan anak-anak. Eh itu aspartam dink.. Katanya sih, pemanis tersebut bisa mengakibatkan kanker dalam waktu tertentu.

Penasaran…

Apa itu siklamat? Siklamat adalah pemanis buatan sintetis yang lebih manis 30 sampai 50 kali dari gula – yang paling manis dari semua pemanis buatan.

Dari situs healthyeating.sfgate.com disebutkan siklamat dilarang dikonsumsi manusia oleh FDA USA (BPOMnya AS). Namun, siklamat saat ini sedang dipertimbangkan untuk reapproval karena penggunaan yang aman di negara-negara lain.

“Pemanis buatan memungkinkan Anda untuk menurunkan gula dalam diet Anda, namun harus dikonsumsi dalam jumlah sedang.”

FDA melarang penggunaan siklamat dalam makanan pada tahun 1969. Siklamat itu tidak terjadi secara alami, dan makanan yang mengandung siklamat dianggap melanggar kebijakan perubahan FDA.

Risiko Kanker

Pada penelitian tahun 1970-an terkait penggunaan pemanis buatan yang mengandung campuran siklamat dan sakarin menunjukkan peningkatan risiko kanker kandung kemih pada hewan di laboratorium.

Studi lainnya menunjukkan bahwa bakteri dalam usus dapat mengkonversi siklamat menjadi cyclohexamine, karsinogen. Namun, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa siklamat tidak menimbulkan peningkatan risiko kanker kandung kemih pada manusia, dan mekanismenya berbeda untuk tikus.

Penelitian lain menunjukkan risiko lainnya yakni kontribusi untuk atrofi testis dan pematangan sperma yang terganggu pada subset monyet yang makan siklamat selama jangka waktu yang panjang. Namun, hasilnya sporadis dan tidak menunjukkan bukti toksisitas siklamat.

Jadi bagaimana ini? Kenapa ada negara yang melarang dan tidak..

  11 comments for “Hebohnya Penarikan Kecap RI di Jepang

  1. Mei 5, 2015 at 4:06 pm

    Manut pemerintah aja kalo aku Mel. Tapi ada baiknya juga pake bahan2 lebih alami sih ya. Lha terus pengganti kecap yang sehat itu apa…

    • Mei 5, 2015 at 4:25 pm

      Kedelai diulek kali mbk, tambah gula merah, hehe

      • Mei 5, 2015 at 5:00 pm

        Whahaha..klo emang berbahaya memang sebaiknya dipertimbangkan untuk tidak dikonsumsi.

        • Mei 5, 2015 at 5:02 pm

          Nah ntu, yang seneng makan apa2 harus ada kecap bingung cari gantinya 😀

  2. Mei 5, 2015 at 4:57 pm

    di rumah nggak ada kecap 😀

    eh belum ada. jadi sebaiknya pilih yang lain yah

    • Mei 5, 2015 at 4:59 pm

      Di sini mah penggemar kecap bang. Mau buat kecap sendiri ga tau caranya, hahahaha

  3. Mei 5, 2015 at 6:17 pm

    wah di rmh juga ada nih kecap itu, beneran gak boleh di makan ya?

    • Mei 5, 2015 at 6:18 pm

      Klo di sini sh blm ada larangan. Soale kan di sini masih boleh pakai pemanis buatan itu asal batas tertentu. Mungkin Jepang termasuk yang melarang, jadi mereka nggak mau ambil risiko 🙂

  4. Mei 16, 2015 at 8:29 am

    Hee… saya sih merknya kebetulan bukan yang satu itu. Tapi pada umumnya apa-apa yang berlebihan memang kurang baik sih ya, Mbak. Ini supaya kita lebih hati-hati saja, sih. Soal penelitian, dari yang saya baca di sini sih kayaknya tidak terlalu bahaya, meski kurang tahu juga kalau ada penelitian selanjutnya yang membuktikan sebaliknya :hehe.
    Anyway, thanks buat infonya ya Mbak :)).

    • Mei 16, 2015 at 8:33 am

      Setuju, apapun ga baik klo berlebihan 🙂 mending yang sedang2 saja, hehe.. sama2 Gar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: