Kerja Sama Suami Istri, Wajib

Hari ayah sudah lewat jauh tapi nggak ada salahnya saya menuliskan blog ini sebagai rasa terima kasih untuk suami tersayang, papanya bocah-bocah.

Suami bagi saya bukan sekadar kepala rumah tangga yang kewajibannya hanya mencari uang untuk keperluan sekeluarga. Tapi, suami adalah pasangan hidup, sahabat, teman berbagi, dan kekasih sepanjang masa 🙂

Foto: indiatimes.com

Berumah tangga memberikan banyak pelajaran. Mulai jadi seorang istri, kemudian menjadi ibu yang memberikan banyak pengalaman berharga. Dulu masak saja nggak bisa, setelah menjadi istri mau nggak mau harus bisa. Dulu, nggak terbayang bagaimana saat saya memiliki anak. Maklum saya bukan tipe penyuka anak-anak. Tapi, setelah memiliki anak semua berubah.

Menjalani peran sebagai istri sebenarnya gampang-gampang susah. Tapi, kehadiran suami membuatnya menjadi mudah. Mudah yang saya maksud, suami yang mau membantu istri di saat kelelahan, kesulitan, atau banyak tugas rumah tangga, atau mengurus anak, atau hal-hal lainnya yang belum saya sebutkan. Istilah kerennya suami istri wajib kerja sama 🙂

Memang dalam berumah tangga nggak semua sama, tergantung kesepakatan pasangan suami istri. Ada yang memilih suami tak boleh mengerjakan tugas istri atau menggendong anak. Semua adalah tanggung jawab istri. Tapi, saya belum secanggih itu, hihi… saya masih lelet, kalau nggak mendapat bantuan suami, entah kayak apa 😀

Pas anak pertama saya seperti mengalami gejala baby blues. Dan anak ketiga ini saya merasa mudah sekali stres. Semoga bukan mengarah post patrum depression atau depresi pascamelahirkan. Semoga ini hanya karena belum terbiasa.

Dua balita dalam rumah memang menuntut ibu harus kuat. Satu masih bayi, satu masih 2 tahun. Bayi nangis, kakaknya nangis juga larang mamanya gendong adiknya. Satu lagi kakaknya yang sulung suka goda adiknya sampai nangis. Nah, seperti itulah.

Saya selalu salut sama mamah muda (Mahmud) dengan tiga anak kecil-kecil tanpa ada ART, tapi enjoy.

Saya yang ada ART siang pulang aja masih pengen teriak kalau dua balita menangis. Nggak tega membiarkan salah satunya, dan lama-lama tangisan itu terdengar biasa. Yang membuat saya memilih tak memilih dua-duanya sambil ikutan menangis, hikss…

Kalau ada papanya bocah pas weekend itu senangnya luar biasa. Saya merasa tidak sendirian. Tapi, weekend biasanya jadi waktunya papanya bocah gowes (bersepeda) sama tetangga. Seringnya saya memelas dan minta tolong supaya gowes sendiri aja, karena kalau bareng-bareng suka sampai siang.

Kasihan, papanya bocah jadi susah ikut gowes sama teman-teman sekompleks karena membantu istrinya mengurus 3 anak yang masih kecil-kecil. Orang mungkin bilang, kok suaminya dilarang gowes sih?

Sebenarnya saya meluruskan, bukan melarang tapi meminta tolong. Melarang kesannya kasar banget ya.

Sepedaan memang sehat, tapi bagi saya weekend itu malah menjadi hari terempong, terriweuh, dan heboh. Jadi ketebak bagaimana kan kalau sendirian sama tiga bocah di rumah. Apa cuma saya doank yang ngerasain yaa, hehe…

Memang, sikap saya terlihat egois. Saya paham, bekerja di kantor juga bikin lelah dan suntuk. Apa nggak bisa kesuntukan itu terobati dengan bermain bersama anak, dan membiarkan istri bernapas sejenak?

Kehadiran papanya bocah itulah ngebantu banget. Nah klo gowes sampai waktu yang nggak bisa diprediksi, huaaaaa di rumah udah kayak apaan. Saya di rumah ada asisten rumah tangga yang pulang pergi. Tapi, hari Minggu libur. Cuma bagi saya saat suami libur itulah waktunya dengan anak-anak.

Jadi bagi bapak-bapak yang berpikir kenapa suami ‘dilarang’ gowes, coba pikirkan lagi. Kenapa nggak bersama anak di rumah sambil membantu istri. Ibadah juga kan? Gowes atau mau olahraga bisa pilih yang ajak semua anggota keluarga.

Yang butuh refreshing bukan hanya yang di kantor, yang di rumah juga. Semua tergantung kesepakatan keluarga, jangan samakan semua orang. Hehe…

Udah ah, nulis selalu jadi baper melulu. Padahal jarang-jarang posting, BW aja udah nggak pernah. Bikin draft blog udah kapan tau, baru lanjut. Sekarang udah jadi mama super sibuk, hihi…

Terima kasih papanya bocah. Semoga Allah selalu melindungi dan memberikan kesehatan buat kita semua. Dan semoga keluarga kita selalu menjadi sakinah, mawaddah, warahmah, aamiin.. maaf masih sering merepotkan dan belum bisa kasih hadiah 🙁

Mengetik saat hujan memang bikin baper 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: