Gadget Penghancur Komunikasi

Judulnya memang seakan menyalahkan kehadiran gadget. Tapi, kenyataannya banyak orang yang merasakan memang komunikasi jadi langka gara-gara benda canggih itu.

Foto Ilustrasi: tempo.co

Komunikasi yang saya maksud komunikasi langsung ya, komunkasi dua arah tanpa perantara gadget.

Saya termasuk salah satu yang merasakan efek gadget, dan juga pelakunya. Saat di rumah, ‘ngobrol’ di WA dengan teman sampai lupa waktu. Padahal, ada anak-anak yang bermain. Lagi menyusui aja suka pegang gadget, hikss.. Saat sadar, gadget saya singkirkan. Apakah gadget itu bikin orang lupa dengan lingkungan sekitar?

Canggih, mampu mempermudah komunikasi jarak jauh, membantu mencari informasi dengan cepat. Itu beberapa keuntungan gadget. Ada tapinya, di balik banyak manfaat ada kekurangan yang tampak sepele tapi bisa menghancurkan komunikasi. Seperti di dalam keluarga.

Sudahkan Anda menerapkan melepas semua gadget saat berada di rumah? Saya rasa itu hal yang sulit. Ke restoran, berlibur, bahkan ke pasar wajar-wajar saja kalau gadget nggak lepas. Siapa tahu ada yang telepon, wa, sekalian buat foto-foto biar bisa diunggah ke socmed. Tapi di rumah, ada keluarga, ada anak, ada suami, atau istri. Sibuk ngegadget malah lupa segalanya.

Anak ngajak main, istri atau suami ngajak ngomong semuanya dicuekin. Jawabnya cuma ‘iya-iya’ doank, mata bukan lihat yang ajak ngobrol tapi ke layar gadget. Kalau sudah begini dipastikan nggak tahu isi obrolannya apa. Secanggih-canggihnya orang dalam multitasking, di depan gadget kecanggihannya pudar 😀

Lagi-lagi, saya termasuk di dalamnya. Saya masih saja memegang gadget saat di rumah. Padahal, saya di rumah terus ya. Hiksss. Apalagi saya jualan online, kepiye donk?

Dulu di grup ada aturan apa gtu. Lupa, tapi memang benar menghadapi gadget kudu punya aturan. Misalnya pulang kantor jangan sentuh gadget sampai anak-anak, suami, atau istri tidur. Setelah itu silakan puas-puasin bergadget.

Terus kalau ibu rumah tangga kayak saya bagaimana? Sama saja, tunggu anak tidur baru main gadget. Tapi, kalau anak ngga tidur siang gimana? Terima nasib aja, hihi..

Kalau kebiasaan ini berlangsung terus menerus, komunikasi di dalam keluarga bakal hancur. Salah satu pihak bakal marah-marah terus karena merasa dicueki dan tidak dihargai.

Coba, siapa yang mau dicuekin. Masih pacaran saja, pasangan bisa putus atau selingkuh kalau dicuekin terus atau komunikasi cuma berlangsung satu arah. Bagaimana kalau dalam hubungan berumah tangga? Bisa bertengkar terus atau hal-hal yang tak diinginkan terjadi.

Sama halnya dengan anak, kalau dicuekin orangtuanya terus bisa jelek akibatnya. Anak bisa cari perhatian dengan cara yang salah.

Terus bagaimana caranya ya ngadepin benda mati yang canggih ini? Seperti yang saya sebut di atas.

Terapkan aturan

Ini aturan yang sakleg. Ikuti aturannya, tapi buatnya bareng-bareng biar semuanya merasa enak. Kalau urgent banget, itu pengecualian, hehe..

Aturan buat hari kerja seperti apa dan saat weekend. Biasaya sih weekend harus lepas dari gadget. Terus bagaimana kalau lagi keluar, misalnya ke tempat makan. Cobalah menikmati suasana, jangan hp terus yang dilihat.

Selanjutnya apa lagi? Nggak ada ide, hehe

Disclaimer: penulis bukan ahli atau apalah, hanya orang biasa yang sekadar beropini pribadi dari melihat kondisi sekitar. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: