Buku Buat Buah Hatiku ini Perjuangan Banget

Postingan ini bukan bermaksud ngiklan atau riya. Saya membeli buku-buku ini sebenarnya untuk mengajarkan anak senang membaca. Tapi, alasan utamanya sebenarnya bukan itu, hehe.

Saya memutuskan membeli buku meski suami tak begitu setuju karena nggak enak sama ibu yang sudah menjelaskan panjang lebar tentang isi buku.

Beli buku yang saya sebut termahal itu terjadi di Bandung. Waktu itu lagi liburan dan ada bazar ibu dan anak deket tempat kami menginap. Sebagai ibu-ibu, saya tentu pengen datang ke tempat bazar. Awalnya sih lihat-lihat keperluan calon debay. Namun, seorang ibu cantik menghentikan langkahku dengan menawarkan buku yang kelihatan menarik.

Awalnya, saya ragu tapi penasaran. Dalam pikiran saya, buku-buku itu bisa dibeli satuan dan harganya bersahabat. Sehingga saya memilih masuk dan duduk.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

Baru si ibu cantik itu menjelaskan, saya langsung tanya harganya. Tapi, dia tetep saja menjelaskan produk yang dia tawarkan. Ehm..hati sudah nggak enak nih..

Si ibu cerita keunggulan produknya dan saya tetap nanya harganya. Hingga akhirnya si ibu puas berpromosi dan menyebut angka ajaib itu. Muahaaalee poool

Bagaimana ini, udah setengah jam duduk mendengarkan si ibu mau balik badan kok ga enak. Suami saya panggil dan dia tampaknya tak berminat karena harganya itu.

Berhubung suami ada janjian ketemu teman akhirnya dia meninggalkanku dengan kegalauan beli atau nggak. Di tengah kesendirianku harus membuat keputusan meski suami sudah nggak setuju. Tapi, karena saya nggak enakan, saya memilih untuk beli. Huaaaa…

Padahal kami sudah berbicara sebelumnya tentang rencana resign. Kalau saya nekat beli, lantas bagaimana bayar nyicilnya. Perjuangan banget donk. Oh iya, beli buku ini bisa nyicil dari kartu kredit. Selama setahun dipotong. Nah, kalau resign repot juga bayarnya..

Buku-buku tersebut memang tak langsung ada. Sekitar seminggu diantar petugasnya. Ada 24 buku plus kamusnya. Udah itu ada alat walter untuk mengeluarkan suara.

Hari pertama anak saya yang berusia 5 tahun sih senang. Setelah beberapa hari sudah nggak memainkannya. Kalau dipaksa salah. Beberapa kali saya sengaja nyalakan mesin yang namanya walter itu biar anakku main, kayaknya dia belum tertarik.

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

Tak lama membeli si buku mahal, saya baru tahu perusahaan yang sama juga mengeluarkan Alquran digital serta iqranya. Mesti nabung dulu buat membelinya karena sudah terkuras di buku mahal itu, hiks..

Dok. Pribadi
Dok. Pribadi

Dari situ harus belajar. Ibunya sudah beliin yang disangka bakal disukai belum tentu anak berpendapat seperti itu. Padahal niat beliin itu biar anak senang membaca. Moga-moga saja karena usia dan suatu saat anakku mau mendengarkannya dan membacanya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: