Berteriak Nonton Bola 

Siapa yang suka bola dan suka teriak kalau tim favoritnya gol? Papanya bocah termasuk di dalamnya dan saya dulu juga, hehe. Tapi, sekarang saya suka bawel ngingetin “Halo, anaknya nanti bangun lho”.

Foto: 1000 Awesome Thing

Silakan bagi yang mau nyinyir, “Kok rempong banget sih hidup loe. Teriak saja nggak boleh”. Memang ini sepele, tapi bagi saya yang punya bayi dan batita menjadi masalah besar (pengen dilebay-lebayin) kalau dengar teriak malam-malam. Kenapa?

Kalau emak-emak merasa anaknya terganggu, kelar hidup loe dah. Memangnya cuma mamah muda berdandan saja yang bisa, hahaha…

Menidurkan bayi itu kadang-kadang perlu perjuangan. Beda sama orang gede, sudah ngantuk tinggal nempel kasur langsung molor. Kalau bayi? Ngantuk nangis, digendong-gendong kadang-kadang nggak langsung tidur tapi nangis dulu. Dengar suara ribut terus kaget terus nangis. Masa iya dibiarin nangis lagi, ya sebagai mama yang baik hati pasti gendong-gendong lagi sampai tidur.

Terus ada yang komentar, “Anaknya bau tangan sih, makanya jangan biasain gendong”. No comment dah. Silakan rasakan dulu berada di posisi ini. Baru bernyinyir sepuasnya 😀

Belum lagi kalau yang batita kaget bangun dengar suara teriak, nangis deh. Kalau langsung tidur lagi alhamdulillah. Tapi kalau kaget yang susah tidur, jadi uring-uringan tuh sampai tidur lagi. Apa aja serba salah, nangis, dan gendong 🙁

Saya nggak melarang orang mengekspresikan kebahagiaannya dengan berteriak, tapi bisa direm dikit, dikecilin volumenya? Kalau mau puas berteriak, nonton di lokasi atau nonton bareng (Nobar) di kantor, di kafe kek atau di mana pun yang bisa sepuasnya berekspresi. Kalau di rumah, inget tetangga ya.

Menonton itu perlu tatakrama juga nggak sih? Orang nggak usah ngasih tahu sebenarnya sudah tahu yang baik bagaimana. Tapi, saya juga sadar diri kalau lagi senang kebangetan susah ngerem. Apalagi kalau ada temannya, sendiri aja teriak bagaimana rame-rame.

Ini hanya menurut pendapat saya ya, entah yang lain:

1. Tutup pintu dan jendela
Mau nobar di rumah berapa orang pun nggak masalah, asal pintunya di tutup. “Tapi pengap, kan ada yang merokok”. Ya cari solusinya, bukan dengan membuka pintu.

Tutup pintu dan jendela bisa meredam suara meski nggak kedap suara ya. Minimal nggak kenceng-kenceng bener suara yang keluar.

Saya saja yang di dalam rumah di kamar atas dengan pintu dan jendela tertutup masih kedengaran teriak-teriak tetangga pas ketawa. Nah pas nobar apalagi, hehe… bagaimana kalau pintu dan jendela terbuka.

Kebayangkan berapa kekuatan suara teriakan itu. Tapi alhamdulillah malam kemarin baby bontot nggak kaget, saya sudah khawatir nangis lagi karena mau tidur saja baby bontot nangis 😀

2. Saling mengingatkan
Teman yang mengingatkan bukan berarti sok benar. Itu hanya mengingatkan karena hidup bermasyarakat itu bukan sendiri. Harus menghormati sesama tetangga.

Kalau tersinggung, ya maaf. Jangan jadi marah-marahan ya, apalagi kalau sudah dewasa. Malu sama umur 😀

Yang suka kaget dengar suara berisik bukan bayi saja, orang dewasa juga ada yang kagetan dan nggak bisa tidur kalau ribut. Kalau saya sih untungnya ramai pun bisa tidur.

Sekian, itu saja suara dari mamabocah. Tak usah berpanjang lebar menjabarkannya, malah jadi salah kalau kepanjangan 😀

Mohon maaf buat yang tersinggung, nggak usah dibaca kalau nggak suka karena ini murni pendapat mamabocah. Selamat bersenang-senang 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: