Kuliah Tinggi Kok Jadi IRT?

Foto: Pixabay.com

Pertanyaan atau pernyataan “Kuliah sudah tinggi-tinggi kok mau jadi IRT (ibu rumah tangga)” ternyata nggak cuma ada di sinetron. Di dunia nyata juga banyak yang berkomentar seperti itu. Agak gimana gitu klo dengernya, secara di sini juga IRT 😐

Ini nggak bermaksud macam-macam, cuma mamabocah miris saat mendengar seseorang mengucapkan kalimat itu ke tetangga. Klo pun terbelesit ingin mengucapkannya, apa ga bisa di dalam hati saja.

Mamabocah yang mendengarnya saja tersayat-sayat. Bagaimana ibu yang dikomenin seperti itu. Apa mamabocah lagi baper kali ya, terus si ibu lupa apa ya mamabocah juga IRT 😅

Yang berkomentar apa ga melihat ekspresi wajah lawan berbicaranya, ibu yang memilih menjadi IRT itu sedih lho wajahnya. Mungkin saja ibu itu masih ingin bekerja, tapi pilihan yang membuatnya harus memutuskan resign dari kantor.

Jangan pukul rata pemikiran kita ke semua orang. Kalau kita termasuk yang berpikiran ngapain kuliah kalau ujung-ujungnya jadi IRT, ya sudah hormati juga pilihan wanita lain yang lebih memilih di rumah meski sudah banyak title pendidikannya.

Kata orang, mendidik anak juga butuh ilmu pengetahuan. Kuliah tinggi tapi di rumah saja juga nggak rugi kok.

Mamabocah termasuk yang setuju dengan pemikiran mendidik anak itu nggak ada rumusan bakunya. Nggak bisa satu cara berhasil ke anak kita dan cara itu bisa berhasil buat anak orang.

Kita sebagai ibu ya harus banyak belajar, belajar dari pengalaman hidup pribadi, mendengar pengalaman orang lain, atau baca buku or artikel tentang parenting.

Kuliah itu sebagai tempat kita belajar cara berpikir dari sudut pandang yang lebih luas.

Bahkan, ibu yang mungkin kurang beruntung mengenyam pendidikan tinggi, bisa lebih jago dalam mendidik anak. Kuncinya sih sabar..sabar..sabar. Setok sabar itu nggak dibeli dengan uang, tapi belajar dari pengalaman.

Terus bagaimana klo orang tua kita yang nggak ikhlas karena sudah membiayai kuliah kita? Orang tua kayaknya ikhlas kok. Memang kitanya yang pelan-pelan menjelaskan.

Alhamdulillah mamanya mamabocah (sekarang panggilannya nenek) menghormati pilihan anak-anaknya. Kalau memang yang terbaik di rumah merawat anak, silakan saja ambil pilihan itu.

Kata mama, membiayai kuliah itu memang sudah kewajiban orang tua ke anaknya. Rezeki itu juga datangnya dari Allah.

Mama dan Alm Papa bisa membiayai sampai tamat kuliah saja itu nikmat yang luar biasa. Jadi untuk apa menuntut klo sudah lulus harus bekerja karena sudah susah payah membiayai.

Kata mama lagi, orang tua mungkin berusaha mencari cara biar bisa membiayai. Tapi, uang tersebut memang datangnya dari siapa?

Anak titipan Allah, orangtua berusaha terbaik menjaga titipan tersebut. Salah satunya menyediakan pendidikan yang terbaik.

Kembali ke komen yang agak gimana, si ibu ini masih berkomentar, “Kalau hidup di Jakarta itu nggak bisa kalau suami doank yang kerja. Harus dua-duanya”. Jeder, terus piye kabare dapur rumah sini. Hikss….

Rezeki itu sudah ada yang mengatur. Mungkin dari segi pemasukan berbeda saat hanya seorang saja yang bekerja. Tapi, pintu rezeki kan bisa datang dari mana saja.

Jangan jatuhkan perasaan wanita lain kalau memang tidak sependapat. Apa susahnya sesama wanita saling mendukung keputusan masing-masing.

Manusia itu memang tak ada puasnya.

Ini mungkin sama dengan kalau IRT berpikiran kenapa tega menitipkan anak ke ART demi mencari uang. Kalimat pertanyaan ini juga menyakitkan lho. Siapa yang mau coba, tapi apa daya masih ada yang harus ditanggung.

Intinya sih, keduanya baik ibu IRT maupun ibu pekerja sama-sama memiliki alasan mengambil keputusan itu. Jadi saling menghargai, bukan menuding dan mengklaim siapa yang terbaik.

Ini hanya berbagi cerita aja ya. Kadang suka gemes klo denger yang kayak gituan.

Mulutmu harimaumu, jarimu juga harimaumu. Komen-komen yang menyerempet mending dihindari biar nggak ada yang tersakiti. Pissss 😁

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

%d blogger menyukai ini: